
Renata,memang tak menampik dia adalah orang yang paling munafik.Diamnya menyimpan dendam, diamnya bak air yang mengalir dan diam nya menyimpan iblis di dalam tubuhnya yang tertidur, sewaktu-waktu bisa terbangun karena terusik.
Sekarang Rania,adik satu-satunya mewarisi sifatnya meski sang adik tak sependiam seperti dirinya,sikap nya yang ceplas-ceplos dan selalu bersikap pada poin-poin nya tanpa banyak diam apalagi main kode-kode an.Rania,selalu berbicara apa adanya bila tidak suka dia bilang tidak suka,bila suka maka dia akan bilang suka tanpa di lebih-lebihkan.
"Ayo kak".Rania,menyeret tangan Renata lagi,kali ini bukan untuk menghindar tapi untuk melanjutkan perjalanan mereka yang sempat terhenti.
Renata pun,tanpa banyak bicara apalagi membantah mengikuti kemana Rania melangkah.Toh, mereka juga punya banyak segudang kesibukan.
Rania yang masih sekolah dan Renata yang harus bekerja,banting tulang demi melanjutkan kehidupan mereka tanpa adanya orang tua di kehidupan mereka.
Di persimpangan jalan,Rania dan Renata berpisah menuju tempat tujuan mereka yang tak sejalan dan tak searah.
Dalam perjalanan menuju tempat kerja,Renata tak henti-hentinya tersenyum kala mengingat sikap Rania tadi yang spontan dan berani.
"Adik ku ternyata sudah dewasa".
"Siapa yang sudah biasa?".
Renata terlonjak kaget, begitu ada suara seorang pria bersumber dari belakang nya.Menimpali ucapannya yang bangga terhadap sikap adiknya.
Terbawa oleh rasa penasaran,Renata menoleh ke belakang."Si karyawan culun itu lagi,itu lagi".Keluh Renata,kembali menghadap ke depan.
"Siapa yang sudah dewasa?".Tanya ulang pria itu, melangkah lebih dekat dengan renata."Kamu?".Tak memperdulikan jawaban dari renata,pria itu terus berceloteh meski itu sifatnya hanya sekedar basa-basi.
"Aku udah bilangkan_".
"Jangan mencampuri urusan ku".Timpal pria itu,hapal betul dengan isi dialog renata.
"Ais,jutek sekali.Pantas kamu gak punya teman".Sindir pria itu
Renata,mata peduli dia di katain jutek,cuek,pendiam dan lain sebagainya.Fokusnya tetap melanjutkan perjalanannya yang sempat terhenti karena karyawan culun.
"Kayak hantu aja,datang tak di undang, Pergi tak di antar".
"Jahat bener aku di samain dengan jelangkung ".Celetuk pria itu tak terima.
Renata, menghentikan langkah kakinya.Lagi-lagi karyawan culun bernama Noel Arga Winata ini menimpali ucapan nya.Sepanjang perjalanan nya kini terasa membosankan dan hatinya tak bersemangat.
Sementara Noel,bersorak dalam hatinya.Hari yang paling di tunggu-tunggu nya akhirnya bisa terwujud juga,walau komunikasi diantara mereka tak sesuai dengan yang di harapkan.
Renata, wanitanya lebih banyak diam sesekali berkata mengeluarkan pendapatnya sering nya berkata ketus seperti ogah meladeni ocehan nya.
"Sabar,semua butuh proses ". Nasehat Noel pada diri sendiri, berjalan di belakang renata.
Benar apa yang di rasakan Noel terhadap renata,sebab wanitanya sepanjang perjalanan ini seringnya bermuram durja.Menekuk wajahnya, seperti berjalan dengan musuhnya saja dia.
"Apa mungkin dunia ini seluas daun kelor?".Oceh renata,menyesali pertemuan tak sengaja nya dengan karyawan baru tak di undang.
Perjalanan yang menyiksa dan juga terasa memuakkan bagi renata, telah usai juga.Dalam diamnya dia menghembuskan napasnya,lega karena bisa terbebas dari manusia jadi-jadian,tapi tidak dengan Noel.Dia malah terlihat cemberut,tak senang kebersamaan nya harus berakhir.
"Yah,gak asyik mana cepet pula dia berjalan nya".Keluh Noel.