My Introvert Girl

My Introvert Girl
Part 62



Renata dan pak Budi masih asyik mengobrol, banyak hal yang mereka bicarakan dengan pendengar setia nan tersembunyi di balik meja tanpa mau beranjak sedikitpun darisana.Mendengarkan secara seksama, keseluruhan obrolan mereka.Semakin kesini,malah semakin membuat Deon ternganga,tak percaya dengan setiap kata yang terlontar dari kedua nya.


"Aku boleh bertanya gak paman?"Tanya Renata, menatap sang paman.


"Kamu mau bertanya,seribu pertanyaan pun akan aku ladeni untuk keponakan ku yang aku sayangi". Kelakar pak Budi.


Renata tersenyum, pamannya yang satu ini pandai sekali mengalihkan pembicaraan yang semula serius sekarang dia bisa sedikit bernapas lega.


"Paman paling bisa aja".Sindir Renata."Tapi, sayangnya aku tidak lagi sedang bercanda".


"Paman tau,untuk itu paman berusaha menghibur mu dengan sedikit guyonan".Kata pak Budi,mendadak menjadi serius."Kamu mau bertanya tentang karyawan baru itu yah?".Tebak pak Budi.


Hati-hati sekali Renata berucap agar pembicaraan nya tak terdengar oleh orang lain,tapi pak Budi.Dia malah seenaknya mengeraskan intonasi suaranya.


Renata, celingak-celinguk kesana-kemari takut ada yang mendengar ucapan.Tepatnya takut ada yang salah paham dengan pembahasannya.


"Gak usah takut terkena fitnah atau gosip recehan.Santai saja".Celetuk pak Budi.


Renata melayangkan tatapan tajam pada sang paman,memang adik dan pamannya sering berbicara ceplas-ceplos tak tau tempat dan situasi sekali.


"Paman".Gertak Renata, menggemelatukkan giginya.Geram.


Pak Budi menggenggam tangan Renata, menenangkan keponakan nya.Renata sering sekali serius dalam berbicara, semua di anggap nya dengan serius tak pernah mau di ajak bercanda.Seperti adiknya,Rania.


"Santai aja,re.Emang kamu itu gak bisa di ajak bercanda orang nya.Gak asyik, seperti adik mu.Rania."


Deon yang mendengarkan di balik meja sampai-sampai membungkam mulutnya sendiri dan melotot tajam kearah Renata dampak Hadi.Rania,adik kandung Renata memang benar adanya dan pak Budi,selaku manager tak lain dan tak bukan merupakan paman dari Renata.


"Sekali mendayung,dua tiga pulau terlampaui".Gumam Deon dengan pelan.


Yah, pembicaraan mereka telah membuka rahasia diantara mereka tanpa perlu bersusah payah dirinya mencari bukti apalagi harus menghamburkan uangnya demi menyelidiki kehidupan renata.


Deon berjalan dengan mengendap-endap,dia akhiri mendengarkan obrolan Renata dan pak Budi.Sudah cukup bukti, waktunya dia kembali bekerja sebagai formalitas.Ada banyak rencana yang harus dia selesaikan demi mendapatkan hati seorang renata.Kali ini,dia harus benar-benar berusaha berjuang.


"Tunggu aku,Renata".Kata Deon, bersemangat sekali dia dalam memperjuangkan cintanya,tak ingin kembali terulang kisah kasih yang berakhir karena keegoisannya sendiri.


Detik telah berganti menit,menit telah berganti jam,jam telah berganti malam.Sinar mentari telah tergantikan oleh sinar rembulan.Menandakan berakhir nya aktivitas mereka dalam menjalani hari.


Renata,telah bersiap diri.Rumah adalah tempat dia berpulang, keluarga adalah tempat untuk berkeluh kesah dan tidur adalah cara kita mengistirahatkan tubuh kita dari lelahnya aktivitas seharian.


Renata,dengan tubuh lelah,mata sayu dan tenaga yang terkuras habis belum lagi pulang harus berjalan kaki dengan menempuh perjalanan yang tak sedikit.Walau begitu masih ada sisa tenaga dan semangat demi bertemu dengan sang adik.


Kali ini Renata,memilih ikut bersama dengan pamannya daripada harus berhadapan langsung dengan Alek dan fahri belum lagi dengan Noel.


"Bodoh sekali mereka,rela menunggu demi seorang pramusaji pendiam".


"Kalau pramusaji nya secantik kamu,paman pun pasti akan melakukan hal yang sama".Celetuk pak Budi,ikut melihat kearah luar.Dimana Alek dan Fahri setia menunggu.