
Mengikuti keinginan Renata dan ingin mengembalikan mood Renata yang sempat di buat kesal oleh dirinya,Deon pada akhirnya mengajak Renata ke rumah sakit tempat Alifa bersalin yang katanya melahirkan sepasang bayi kembar.
Deon,yang memakai stelan formal dengan kemeja peach di padukan dengan jas berwarna hitam,celana satin dan rambut moback nya dengan Renata yang memakai dress selutut berwarna senada dengan kemeja yang di gunakan oleh Deon.Keduanya nampak serasi,dimana yang satu berwajah rupawan dan yang satunya lagi berwajah putih mulus, tanpa jerawat.
Deon mengajak Renata untuk sarapan terlebih dahulu sebelum mereka melesat pergi ke rumah sakit agar mereka bisa punya tenaga dan stamina dalam menjalani hari-hari mereka.
Deon,yang terbiasa sarapan roti dengan selai kacang harus menyesuaikan diri dengan kebiasaan sarapan Renata yang terbiasa sarapan dengan nasi goreng.
"Setiap pagi aku dan adik ku selalu sarapan nasi goreng dan telur dadar".Jelas Renata meyakinkan diri Deon untuk memakan nasi goreng buatannya.
Kalau menurutkan kata hati,Deon sebenarnya ogah sarapan dengan nasi goreng tapi demi menghargai masakan sang istri dan mengembalikan moodnya,dia rela mengalah daripada harus mendapatkan amukan atau bahkan lebih dari itu.
Sedari tadi,Deon hanya mengaduk-aduk nasi goreng yang tersaji di hadapannya, terlihat dengan jelas dia tak menginginkan nya.
"Kalau kamu,kagak mau gak usah di paksa".Sindir renata.
Deon,menoleh kearah Renata.Dia buru-buru menyendok makanannya dan langsung melahapnya dengan sendok penuh.
"Ini juga di makan".Sahut Deon, dengan mulut penuhnya.
"Gak usah di paksa,aku tau kamu tidak suka".Omel Renata,tau betul itu hanya sebuah kebohongan yang entah apa maksud dan tujuannya.
Deon,menghela napasnya.Ternyata,tak mudah menyesuaikan diri dengan seseorang yang baru di nikahi apalagi dia sebelum-sebelumnya tak terlihat dekat.
Deon,memilih untuk menghabiskan sarapan paginya dengan menu tak biasa.Berpura-pura tidak mendengar ocehan Renata yang kembali kesal terhadap dirinya.
Drama rumah tangga,baru tersaji dan di rasakan sendiri oleh Deon.Kebahagiaan yang baru sempat di rasakan nya seakan sirna begitu saja.
...****************...
"Ah, rasanya tak sabar ingin bertemu dengan Alifa".
"Alifa atau bayi kembarnya?".Tanya Deon menimpali ucapan Renata yang antusias melebihi kebahagiaan pernikahan mereka.
"Merusak suasana aja".Gerutu renata,kembali di buat kesal.
Deon, mengacak-acak rambut Renata."Ternyata istri ku, pemarah".Ucap Deon,sembari tersenyum jahil.
Deon dan Renata berjalan di lorong-lorong rumah sakit setelah mereka bertanya pada resepsionis ruangan bersalin Alifa yang berada di lantai satu, dengan no.97.
Deon,mengandeng tangan Renata seakan takut kehilangan istri yang baru di nikahi nya,apalagi Renata sedari tadi memasang wajah cemberut nya masih kesal dengan dirinya.
"Deon".Teriak seseorang dari arah belakang Renata dan Deon.
Keduanya serempak berbalik badan, mendengar suara teriakan seorang pria yang begitu keras.
David Artama,dialah yang meneriakkan nama Deon dengan tatapan tajam dan langkah kaki yang sengaja di hentakkan.
Deon, mengenggam tangan Renata.Menguatkan wanita nya yang terlihat ketakutan dengan tatapan tajam Davis Artama.
Plak
Sebuah tamparan mendarat mulus tepat di pipi kiri Deon dengan keras hingga kepala Deon terhuyung ke samping.
Renata, refleks menutup mulutnya tak menyangka atas apa yang di lihatnya.Seorang David Artama menampar keras pipi putranya sendiri.
Deon,mengelus pipinya yang mendapatkan sebuah tamparan dari Daddy nya dan menatapnya balik penuh dengan kebencian.