My Introvert Girl

My Introvert Girl
Part 48



Deg


Seketika itu mental Deon seperti di hancurkan hanya dengan sebuah kata.Benarlah sekuat-kuatnya kapak,lebih kuat ucapan,setajam-tajamnya silet lebih tajam lidah.Penghancur mental seseorang.


Renata, dengan sikap pendiam nya mampu membungkam orang-orang di sekitarnya hanya dengan satu dua kata mutiara penghancur mental seseorang.


Saking merasa hancur harga diri dan mentalnya.Deon sampai-sampai menghentikan langkah kakinya.Tak menyangka dan shock atas jawaban dari pramusaji pendiam nya.


"Wanita langka yang terancam punah".


"Di kira aku hewan,terancam punah".Celetuk renata,dia memalingkan tubuhnya.Menghadap Deon."Aku bukan wanita pada umumnya,dan aku rasa kamu yang pertama mengantarkan ku pulang dengan berjalan kaki ".Kata Renata,kembali mengarahkan pandangannya ke depan.


Deon, berdiri mematung.Kata-kata Renata seperti mampu menghipnotis dirinya sendiri , sampai-sampai dia tak mampu mengucapkan sepatah dua patah kata.Bibirnya seperti terkunci.


Renata,tak memperdulikan Deon yang berdiri mematung.Dia kembali melanjutkan perjalanan pulang nya yang sempat terganggu oleh pria yang bahkan namanya saja dia ketahui dari rekan kerjanya.


"Peganggu"Oceh Renata,kembali berjalan dengan santainya.


"Aku yang pertama?"Deon membeo.Tersadar kembali."Tunggu".Teriak Deon,menyusul renata yang berjalan tanpa menunggu dirinya.


"Yah,pertama dan terakhir"Kata Renata,menyadari salting Deon terhadap ucapannya.


Berjalan dengan menjaga jarak satu sama lain seperti bodyguard dan atasannya saja,tak ada tegur sapa apalagi saling melemparkan candaan diantara mereka.Renata dengan sikap pendiam nya dan Deon yang kehabisan kata-kata.


Alhasil kedua insan itu saling terdiam hanya suara deru mesin dan napas mereka yang sesekali terdengar meramaikan suasana malam yang begitu mencekam.


30 menit,waktu yang di tempuh,selama itu pula perjalanan mereka yang melelahkan kini terbayar sudah dengan sampai nya di tempat tujuan,rumah gubuk.


Yah,renata hanya sanggup menyewa rumah dengan fasilitas memadai bahkan termasuk tak layak huni.Rumah yang hanya terbuat dari bahan triplek berbentuk persegi di batasi oleh daun pintu setiap ruangan nya dengan kapasitas 1-2 orang saja.


Deon,ternganga begitu melihat penampakan rumah sewa renata.Terlalu sederhana bahkan tak layak huni.


"Apa tak ada rumah sewa lain selain disini?".


"Sudah aku katakan berapa kali,rumah seperti apa yang pantas aku dapatkan dengan gajih pas-pasan?". Skakmat renata, membungkam mulut deon.


Bukan maksud apa-apa,Deon merasa kasihan pada diri Renata yang tinggal di tempat seperti kandang hewan tepatnya bukan seperti rumah pada umumnya.


Rumah sewa yang di maksud oleh Deon tak layak huni ini memang pantas nya seperti kandang hewan dengan kandang ayam berada di sekitarnya.


Jijik,itu yang di rasakan oleh Deon apalagi kotoran ayam tercecer dimana-mana dan yang membuat Deon terkejut adalah ada coretan bertuliskan 'pelakor',di halaman dan pintu masuk rumah sewa renata.


"Renata,aku tak menyangka hidup mu memprihatinkan seperti ini".


Renata,mana mendengarkan ocehan Deon yang terus mengasihani diri nya.Toh,dia sudah masuk ke dalam di sambut pelukan hangat dan nasi yang mengepul mengeluarkan uap panas, menerbitkan rasa laparnya.


Tanpa Deon,tanpa dia apalagi menyuruh dia masuk.Dia mengabaikan Deon yang berdecak kesal sembari menatap jijik ke sekitar rumah sewa renata yang baginya tak layak huni.


"Aku kira,aku kurang beruntung ternyata aku kurang bersyukur".