
"Haha...Haha".Renata tertawa terbahak-bahak, sampai dia memegangi perutnya.Dia balas perkataan Deon dengan tawa yang menggelegar.
Deon, mengerutkan keningnya tak mengerti dengan sikap Renata yang tiba-tiba tertawa.Padahal dia sudah siap bila pada akhirnya dia mendapatkan sebuah tamparan di pipi yang satunya lagi,atau bahkan kekerasan fisik lainnya.Nyatanya Renata tertawa dengan kerasnya, seakan meremehkan dirinya.
Renata,berhenti tertawa."Kau,pikir aku ini bodoh?,gak deon.Aku tak akan mengulangi kesalahan ku lagi,tak akan ada kedua kalinya.Cukup yang kemarin,cukup aku terjatuh dan tak ingin terjatuh di lubang yang sama lagi".Jelas Renata.
"Maksud kamu apa?".Deon,membeo.Jelas dia paham betul dengan maksud perkataan Renata,hanya pura-pura bego.
Renata,tak menjawab pertanyaan Deon.Baginya pertanyaan Deon sudah seperti pertanyaan anak TK,yang pertanyaan nya mudah di jawab bahkan oleh sesama anak TK itu sendiri.
Renata,memilih diam daripada terus berbicara,mungkin itu akan membuat diri Deon terus bertanya tiada henti bak seorang intel mengintrogasi targetnya.Dia memutuskan untuk mengikuti alur cerita Deon.Skenarionya yang mudah di tebak.
Kedua insan berbeda tujuan dan juga ambisi ini,malah saling berdiam diri.Menatap satu sama lain seakan tengah mengamati pergerakan lawan,takut lawannya akan memberikan pergerakan tak terduga.
Deon,tersenyum.Menertawakan diri sendiri dengan sikap konyolnya.Dia hanya membuang-buang waktu saja dengan saling menatap satu sama lain,tak pernah bosan apalagi jemu.
"Haha...Haha...Konyol".Deon, bergeleng-geleng kepala menyadari kebodohannya."Kenapa pula aku harus membuang waktu ku yang berharga hanya untuk hal yang tak penting ".
"Dari dulu juga kamu berpikir,apa yang kamu lakukan bahkan diri mu salah saja,itu tak penting ".Sahut Renata,ikut menyumbangkan pikiran nya.
Deon,menoleh kearah Renata yang tetap diam mematung tanpa ekspresi.Melontarkan kata-kata menohok untuk dirinya.
"Sama tak pentingnya saat diri mu bertemu dengan orang yang masa depannya telah kau hancurkan ".Ucap Renata, menginterupsi langkah kaki Deon,yang hampir dekat dengan dirinya.
"Bukankah aku sudah bertanya pada mu?,tapi kenapa kau menjawabnya dengan sebuah pertanyaan?.Sekarang aku tanya,siapa yang lebih tak sopan antara aku atau diri mu?".Tanya Deon, menurunkan intonasi suara nya.
"Pertanyaan mu hanya mampu di jawab oleh diri kamu sendiri,Deon".Sahut Renata."Kau pikirkan sendiri, jangan pernah menggunakan kekuatan uang demi kepuasan mu sendiri, berusahalah sendiri memaknai semua yang terjadi".Nasehat Renata untuk diri Deon yang selalu menggunakan kekuatan uang demi mendapatkan semua keinginannya.
"Ka_". Ucapan Deon terhenti,kala langkah kaki Renata semakin menjauh.
Yah,Renata memutuskan untuk pergi meninggalkan Deon yang sama sekali dirinya tak pernah menyadari kesalahannya sendiri.
"Tunggu,Renata.Aku belum selesai berbicara".Kata Deon,tanpa menoleh.
"Bagi ku sudah selesai dan tak ada lagi yang perlu kita bicarakan.Cukup, waktu yang berharga ku terbuang sia-sia dengan menatap mu hanya demi sebuah kata'maaf' dari mu".Skak Renata,sembari melenggang pergi.
Deon, menghembuskan napasnya secara kasar,dia tak menyangka pramusaji pendiam nya akan memberikan kata-kata yang menohok.
"Dia memang jarang berbicara,tapi sekali bicara_".Deon sampai bergeleng-geleng kepala menilai sikap diam renata.
Dia sekali lagi,keliru dalam menilai sikap seseorang.Diqmnya seseorang bukan berarti dia tak peduli,bukan berarti dia tidak berpikir.Justru dia diam menyimpan amunisi untuk menjatuhkan lawan bicaranya.