
Yang di takutkan oleh Bram terjadi juga.Dimana Deon menggertak dan memaki dirinya,sudah hal lumrah terjadi.Tapi,sekali lagi marahnya Deon bak singa kelaparan.Amat menakutkan untuk Bram,sekali lagi itu harus dia terima sebagai konsekuensinya.
"Apa otak kamu sudah berpindah ke bokong kamu?".Gertak Deon, kalap.
Bram,yang tadinya Berni mengangkat kepalanya.Kini tertunduk kembali,bak anak kucing di gonggongi oleh anjing dewasa.Seketika nyalinya menjadi ciut.
"Maaf tuan". Dengan bibit gemetar menahan rasa takut.Bram mengucapkan permohonan maafnya atas kelalaian dan kebodohan nya.
Deon,mundur beberapa langkah.Kembali menghela napas panjangnya.Mengatur ritme napas yang semakin berat untuk di hembuskan.
"Maaf saja tidak cukup.Apa kau bisa mengembalikan darah yang menetes di bibir ku?".Gertak Deon, menatap nyalang pada bram.
"Ti_".
Belum sempat Bram melanjutkan ucapannya.Deon,sudah melangkah pergi menuju mobil yang terparkir di bawah pohon Cemara dengan membawa amarah dan emosi nya yang seketika kembali memuncak bak air mendidih.Begitu,panas.
"Tunggu,tuan".Teriak Bram,sembari berusaha mengejar Deon.
Si tuan kuasa dengan segala kekuasaan nya dan si bank keliling tidak memperdulikan teriakan Bram.Toh,dia juga sedang merintih kesakitan, sekuat tenaga dia berjalan menuju mobilnya dengan tertatih-tatih.Nyeri di bagian perutnya membuatnya meringis kesakitan saking kerasnya pukulan Alek di bagian perutnya.
"Aw".Pekik Deon kesakitan.
Bram yang mendengar rintihan kesakitan Deon dengan segera lari terbirit-birit,menyusul tuannya yang sedang memaksakan diri.
"Biar aku bantu,tuan".Tawar Bram,sembari menyampirkan tangan Deon ke bahu nya.
Deon,tak melakukan protes apalagi memberontak.Di kondisinya yang sekarang dia membutuhkan bantuan Bram walau itu tak banyak membantunya, setidaknya dia tidak lagi merasa sakit.
Dengan pelan-pelan dan penuh dengan kehati-hatian Bram mendudukkan pantat Deon ke kursi dan kepala nya di letakkan di sandaran kursi,di samping kemudi.
Bram,mengangguk.Dia dengan segera menuangkan air kemasan dalam mangkuk tak lupa dia celupkan kain ke dalamnya.
"Aku buka yah".Pinta Bram.
Deon, mengangguk.Membiarkan Bram membuka kancing baju nya agar dia lebih leluasa mengompres bagian perut yang terkena pukulan maut tangan Alek,beruntung tak berakibat fatal hanya terdapat lebam berwarna kebiru-biruan.
Dengan sangat hati-hati pula Bram,mengelap perut Deon sebisa mungkin dia lakukan dengan kehati-hatian agar Deon tak merasa kesakitan.
"AW,sakit bego".Teriak Deon,tak kuasa menahan rasa perih akibat kain lap yang terus-menerus menyentuh luka di bagian perutnya.
"Maaf tuan".Sesal Bram.Kembali melanjutkan kegiatannya yang sempat terhenti.
Saking merasakan sakit yang luar biasa tak tertahankan.Deon sampai-sampai merem-melek di buatnya.Sakit tak seberapa hanya ada denyutan rasa nyeri di bagian perutnya.
Tak ingin mengulangi kesalahan yang sama,Bram kali ini benar-benar melakukannya dengan sangat hati-hati.Begitu telatennya Bram merawat Deon yang terbaring kesakitan akibat pukulan tangan Alek seperti dia merawat kekasih hatinya.
"Andai dia ini cewek,akan ku perlakuan dengan sebaik mungkin".
"Pantas,daritadi kau melakukannya dengan ceroboh".Sahut Deon,tanpa membuka matanya.
Bram, buru-buru pergi menghindar daripada harus menerima amukan Deon lagi.Dia buang air bekas kompres an Deon sebagai alibi agar dia bisa terhindar dari amukan Deon.
"Aku buang dulu air kompres an dulu".Pamit Bram, dengan segera berlari pergi tanpa meminta persetujuan Deon.
"Sialan".Gertak Deon.