My Introvert Girl

My Introvert Girl
Part 158



"R-Re-Na-Ta".Deon,terkejut bukan main dengan kehadiran Renata yang tiba-tiba sudah berada di hadapannya dengan kilat amarah yang jelas terlihat.


Renata,maju beberapa langkah.Menghampiri Deon,yang menatapnya tak percaya akan kehadirannya di hadapannya.


Teka-teki misteri kepergian Rania kini satu persatu sudah mulai terbuka, menyingkap tabir kepulangan Rania yang terasa ganjal di hati Renata yang menaruh beribu curiga dan pertanyaan di benaknya siap untuk di lontarkan untuk Rania yang malang,Rania yang polos dan Rania yang menderita.


Pertanyaan yang sempat tertunda,kini dengan mudahnya dia mendapatkan jawaban atas pertanyaan nya sendiri.


"Ternyata kau dalang di balik kepergian dan kepulangan Rania,Deon Wilson".Gertak Renata, dengan nada marah dan tak bersahabat.


Deon, buru-buru mengakhiri panggilan telpon nya.Dia kembali menatap wajah Renata yang penuh dengan kebencian dan kilat kemarahan yang begitu jelas terpancar amat menakutkan untuk di lihat oleh orang awam.


"Apa yang akan terjadi pada adik ku dan diri ku?".Tanya Renata sekali lagi,sembari melangkah menghampiri Deon.


Deon,tak berkutik diam di tempat lari pun tak mungkin dia lakukan,sudah kepalang tertangkap basah oleh Renata,sudah berakhir rahasianya di hadapan wanita pujaan hatinya.


"Kenapa diam?,dimana keberanian mu yang tadi kau gembar-gembor kan hanya untuk mengancam gadis kecil yang kau sebut tengil?". Berbagai rentetan pertanyaan Renata lontarkan untuk Deon yang diam mematung.


Bukan takut,apalagi tak berani.Deon,diam karena dia bingung harus memulainya darimana?,semua nya sudah di ketahui oleh Renata yang dengan waktu cepat mampu mengungkapkan tabir hitam yang dia ciptakan sendiri.


Keheningan menjalari ruangan mewah dan luas, suasana ruangan mendadak menjadi panas padahal ruangan itu sudah di lengkapi dengan AC yang berkualitas.


Beberapa kali Deon, terlihat melonggarkan dasinya.Panas,itu yang dia rasakan dalam ruangan berAC nya berbeda dengan Renata yang terlihat renang menatap Deon yang salah tingkah,entah dia sedang melancarkan aksinya untuk kesekian kalinya.


Deon,berdiri tepat di hadapan renata.Tak ada jarak diantara keduanya, mereka berdiri amat dekat seperti sepasang kekasih.


Renata pun,tak menolak begitu Deon mendekati nya secara intens dekat tanpa sekat,berdiri tanpa penghalang,mata bertemu dengan mata, hanya saja wajah Renata tak langsung bersentuhan dengan wajah Deon di karena kan tinggi badan mereka yang berbeda.


Deon,memilih dekat dengan renata tanpa sekat agar dia bisa mendengar detak jantung Renata dan matanya yang merah padam menggambarkan ada kilat kemarahan dalam diri Renata.


Sengaja,dia melakukannya berharap itu bisa menurunkan amarah Renata terhadapnya.Jika, menurutkan kata hati ingin rasanya dia memeluk tubuh ringkih milik Renata seperti dia memeluk erat rasa sakit yang dia ciptakan untuk wanitanya sendiri.


Perlahan tapi pasti, tangan Deon mulai terangkat ingin memeluk tubuh ringkih itu dalam dekapan nya.Tapi,saat tangan itu hendak mendarat tepat di pinggulnya.Mendadak dia, menurunkan tangannya.


"Jangan berani-berani menyentuh ku.Aku tak Sudi di sentuh oleh tangan kotor mu".Gertak Renata, dengan nada sinis dan tatapan tajamnya.


Itu pula yang mendasari Deon mengurungkan niatnya memeluk segala kesakitan yang di rasakan oleh Renata akibat ulahnya sendiri.


Deon, menundukkan pandangannya ke bawah lantai hingga tanpa sengaja kepalanya menyentuh kepala renata.


Bugh


Pertemuan antar dua kepala manusia ini tak dapat di hindari hingga mengeluarkan bunyi yang cukup keras bahu keduanya.


"Aw".Renata mengaduh kesakitan,tapi tidak untuk Deon.