My Introvert Girl

My Introvert Girl
Part 65



Sudah terjatuh, tertimpa tangga pula.Mungkin itu peribahasa yang cocok untuk diri Noel yang kembali mendapatkan kekerasan fisik oleh dua orang pria,selaku senior di resto tersebut.


Alih-alih Noel, mendapatkan sebuah kata permintaan maaf mereka atas ucapan mereka yang merendahkan dan melecehkan Renata lewat kata-kata nya,justru dia mendapatkan luka fisik.


Noel, mencengkram tangan nya.Geram dan marah itu yang di rasakan oleh Noel,dalam hati dia menumbuhkan rasa dendam untuk kedua pria yang bersikap arogan dan sombong dengan dalih mereka lebih lama bekerja bila di bandingkan dengan dirinya.


'Awas kalian,akan ku buat kalian perhitungan '.Gumam Noel,berkata dalam hati.


Karena yang di tunggu dan di nanti-nanti tak kunjung datang,si peganggu telah di buat babak belur.Fahri dan Alek,melesat pergi tanpa mengucapkan sepatah dua patah kata pada Noel yang menatap kepergian mere dengan kilat mata merah menyala.


Jelas terlihat di matanya ada gurat kemarahan dan dendam yang tertuju untuk kedua pria yang sok berkuasa atas diri junior-junior mereka di resto miliknya.


"Ada yang perlu di rombak dan di beti perhitungan rupanya".Gertak Noel.


"Ada yang perlu di beri pelajaran rupanya".Sahut seorang pria dari arah belakang Noel.


Noel tak merasa terkejut,menoleh pun tidak.Sebab dia tau pemilik suara itu punya siapa.Dia malah mendelik sebal.


"Baru nongol loe?,kemana aja?,dari tadi gue di hajar nyampe babak belur aja,loe gak nolongin".Sindir Noel.


Bram,diam mematung.Takut,akan kemarahan tuannya yang bertingkah bak singa kelaparan.Kali ini dia pastikan,dia takkan lolos dari terkaman singa lapar.


Gleg..Gleg..Gleg


Tuannya,bila marah dia tak segan-segan untuk melampiaskan segala amarah kekesalan nya pada dirinya.Pernah suatu hari,dia yang baru bekerja dengan Deon Artama.Sekali dan bahkan masalah itu termasuk hal sepele.Tapi,Deon ternyata tak memperdulikan rintihan kesakitan apalagi mendengar permohonan maaf dari orang lain.


"Jangan sampai pak bos,mengamuk lagi".Harap Bram, berbicara pelan.Takut terdengar oleh deon.


Beruntung Bram,kali ini tidak akan mendapatkan amukan dari Deon karena sekarang dia sedang berusaha meredam amarahnya dengan menarik napas dan menghembuskan nya secara perlahan.


Bukan tanpa alasan,bagi Deon dia harus sebisa dan semampu mungkin untuk meredam amarahnya.Sangat tak lucu jika dia mengamuk di tempat umum,walau resto ini memang miliknya.


"Huh..Hah..Huh...Hah".Sekuat tenaga dia redam amarahnya agar tak memuncak dan bahkan mengamuk bak Hulk, seperti saat Bram pertama kali kerja bersama nya.


"Kamu beruntung sekali hari ini".Kata Deon,menoleh kearah Bram.


Bram semakin menundukkan kepalanya,tak berani bersitatap dengan mata tuannya.Takut itu akan membuat tuannya semakin marah terhadap.


"Lain kali,kalau aku di keroyok hingga babak belur,kau harus dengan sigap menolong ku".


"Kalau aku menolong tuan,nanti mereka curiga".Sahut Bram, mengangkat kepalanya.


Deon,memutar tubuhnya menghadap kearah Bram.Seenaknya saja dia menimpali ucapan nya,padahal amarahnya saja baru mereda.


"Kau bodoh,atau bego?".Gertak Deon.Dia melangkah maju mendekat kearah Bram,dia tempelkan jari telunjuknya ke kepala Bram."Pake otak mu,bodoh".Gertak Deon lagi.