
Sedang Renata yang mendapatkan tarikan tangan secara paksa,m merenggut sebal.Karyawan baru berpenampilan culun ini ternyata lebih berani dari apa yang di bayangkan nya,tak pernah ada dalam pikirannya karyawan baru ini bertindak melebihi batasan nya.
"Apa aku terlihat seperti orang pendiam,hingga kau seenaknya berperilaku".Kata Rena,sembari menyentak tangannya.
Karena sentakan itu hingga genggaman tangan nya terlepas dari genggaman tangan Noel yang menyeret dirinya secara kasar dan terpaksa.
Noel, memalingkan wajahnya menghadap tenaga yang menatapnya dengan tatapan tajam."Apa menurut mu,aku seperti karyawan baru yang takut dengan senior nya?".Sentak Noel.
Renata,diam mematung.Satu lagi hal janggal dan aneh di perlihatkan oleh Noel terhadapnya.Di luar seperti cupu, manggut-manggut kepala ketika di kasih tau.Aslinya bersikap arogan.
"Kau ini sebenarnya siapa?".Renata memberanikan diri bertanya,tak mungkin seorang karyawan biasa bisa bersikap di luar batas.
Di tanya seperti itu membuat Noel,menjadi diam.Dia tersadar akan tindakan ceroboh nya yang hampir membuka indentitas dirinya di hadapan renata sebelum waktunya.
Renata,menelisik raut wajah Noel yang diam mematung seperti ada yang di sembunyikan oleh dirinya.
"Kenapa diam?,tadi aja sok belagu, bentak-bentak orang bahkan berani menyeret tangan orang dengan kasar nya, sekarang kenapa diam?".Sentak renata,tak kuasa menahan emosi.
Noel semakin tertunduk lesu.Pasalnya ini baru pertama dia mendengar dan menyaksikan sendiri Renata meluapkan emosi pada dirinya padahal sebelumnya dia mengiri Renata akan terus bersabar menghadapi kelakuan orang-orang yang mendzolimi nya.
Tanpa dia sadari,Renata mengepalkan tangannya geram.Sudah habis batas kesabaran nya menghadapi tingkah laku Noel yang di luar batasan.
"Sesabar-sabarnya aku,tak akan pernah bisa bersabar menghadapi tingkah laku kamu yang tak wajar".Sentak renata,sembari berlalu pergi.
"Bodoh, benar-benar bodoh kau Deon".Gertak Deon pada diri sendiri.
Beruntung,Noel tersadar saat dirinya membawa paksa Renata menuju tempat ruang kedap suara.Seperti tau setiap seluk-beluk ruangannya beserta dengan fungsinya,sama seperti Renata dan pak Budi.Mengetahui seluk beluk ruangan.
Dari sini lah Deon bisa meluapkan emosinya, mengumpati dirinya yang bertindak ceroboh dan gegabah dalam bertindak.
Hampir saja, indentitas nya terbongkar oleh Renata.Jika saja dia tidak sadar di detik-detik terakhir saat dia akan mengungkapkan indentitas nya.
"Bodoh,bodoh,bodoh".Teriak Deon,sembari memukul-mukul kepalanya seperti orang gila.
Tentu,Deon bisa bersikap seperti itu sebab ada penyesalan dalam diri Deon jika seandainya itu memang terjadi,maka gagal lah rencana yang dia susun serapih dan seapik mungkin hanya demi menaklukkan hati seorang renata Kusuma Atmaja yang perangainya sudah berubah 360°.Jauh berbeda dengan saat itu.
"Kenapa sulit, menaklukkan hati perempuan.Dulu Alifa, sekarang renata?, kenapa?".Teriak deon pada udara yang tak tau menahu.
Deon,menarik napasnya secara perlahan.Mengatur emosinya yang naik turun, berusaha berdamai dengan kejadian barusan yang mungkin akan berakhir dengan penyesalan tiada akhir,mengatur napasnya sebisa mungkin dan sepelan mungkin agar dia bisa meredam emosinya.
"Sabar Deon,kau memang belum beruntung". Kata Deon,menenangkan dirinya sendiri sembari mengelus dada."Ok,semua akan baik-baik saja.Semangat".
Setelah dia bisa mengatur emosinya, meredamnya dengan kata-kata motivasi dari dirinya sendiri.Dia berjalan keluar untuk kembali beraktivitas seperti karyawan pada umumnya.
Tapi,saat dia menutup pintu hendak melangkahkan kaki.Tiba-tiba ekor matanya menangkap sosok renata bersama dengan seorang pria yang tak lain dan tak bukan adalah pak Budi.