
Deon yang mulai bisa berpikir jernih, dirinya tengah memulai pekerjaannya melalui layar laptopnya dengan seriusnya dari mulai masalah kecil hingga masalah besar,dari mulai sekedar membuka notifikasi yang terkirim melalui aplikasi email-nya hingga matanya tak sengaja mengklik notifikasi yang di kirimkan oleh anak buahnya.
[ Bos,gawat tahanan yang berada di balkon melarikan diri, sedang kami cari keberadaannya].Begitu isi notifikasi dari anak buahnya.
Informasi itu,membuat Deon menjadi naik pitam.Susah payah dia meredam kemarahannya,tapi sedetik kemudian amarahnya kembali memuncak.
Deon, membanting dan menjatuhkan barang-barang yang ada di hadapannya hingga terjatuh ke lantai.
"Shittt".Umpat Deon,geram."Bisa-bisanya si bocah tengil kabur dari ku".Deon,semakin brutal melemparkan segala benda apapun yang ada di hadapannya.
Dia,sudah seperti bukan Deon yang dulu.Deon,yang tenang setenang air di sungai namun mampu menghanyutkan orang di sekitarnya.
Deon yang sekarang, dirinya jauh berbeda bila di bandingkan dengan Deon yang dulu.Dimana,dia sering nya bersikap tempramen.Tapi,hanya pada barang saja tidak pada manusia.
Yah,dia hanya bisa melampiaskan nya pada benda tak bernyawa.Buksn pada mahkluk yang bernyawa dan lemah.Tapi,untuk Rania.Mungkin dia menjadi pengecualiannya.
Deon,yang terbakar oleh rasa amarah yang memuncak menguasai dirinya.Dia nampak terengah-engah dan hidung nya yang kembang-kempis akibat dirinya yang berusaha meredam kemarahannya lagi.
"Rania".Gertak Deon,sembari mengepalkan tangannya."Kau,berani lari dari ku?,akan aku pastikan hidup menderita sama seperti Samantha,Daddy David dan juga Bram.Kau tunggu saja tanggal mainnya".Gertak Deon,meninju meja di hadapannya hingga tangan nya menjadi merah merona.
Dia bangkit berdiri,dari kursi kebesarannya bermaksud untuk ke basecamp tempatnya menyekap gadis polos bernama rania Kusuma Atmaja.
Sebuah motor ninja merah favoritnya menanti perjalanannya menuju basecamp nya yang tak jauh dari apartemen mewahnya.Sekitar 15 menit waktu yang harus dia tempuh untuk mencapai basecamp nya tempat gadis polos tawanannya berada.
Deon, melajukan kendaraan beroda dua dengan begitu kencang dan cepat membelah jalanan ibu kota yang mulai sepi oleh kendaraan,baik roda dua maupun roda empat.
Deon,yang seakan menantang malaikat maut dirinya tak berhelm dan juga tak memakai jaket pelindung.Dirinya sudah sampai di basecamp nya dengan selamat dan tentunya di tempuh dengan tidak memakan waktu banyak.
Dirinya langsung melesat ke tempat tujuan bak kesetanan.Tak peduli pada angin yang berhembus kencang di malam hari,tak peduli pada tubuhnya yang mulai protes dengan cara berkendara Deon yang tanpa sengaja malah membiarkan angin masuk ke dalam tubuhnya.
15 menit waktu yang dia butuhkan,15 menit pula dia dengan tak sabaran ingin cepat sampai ke basecamp nya mencari tau penyebab tawanannya bisa kabur dengan begitu mudahnya.Padahsl basecamp itu di jaga dengan begitu ketatnya.Tak mungkin seorang bocah polos mampu menebus benteng pertahanan yang sengaja dia ciptakan.
Deon, memarkirkan motor ninja berwarna merah kesukaan nya secara asal bahkan motor itu dia biarkan tergeletak tak beraturan saking dirinya tak sabaran ingin langsung masuk ke dalam balkon yang menjadi penjara untuk si bocah tengil,Rania Kusuma.
Derap langkah sepatu pantofel yang begitu terdengar berirama memenuhi ruangan tengah basecamp Deon.Disana sudah ada beberapa anak buahnya yang berjajar saling menundukkan kepala,saking takutnya mereka terhadap diri Deon yang terkenal tanpa ampun apalagi belas kasihan terhadap kesalahan dari anak buahnya.
Deon,menatap mereka satu persatu.Tak ada yang berani mengangkat kepalanya, bersitatap dengan si penguasa,tapi ada juga yang malu-malu mengangkat kepalanya.
"Masih berani,kau menatap ku?".Gertak Deon.