My Introvert Girl

My Introvert Girl
Part 69



Renata,kembali melanjutkan perjalanannya yang sempat terhenti akibat kehadiran Noel yang datang secara tiba-tiba dan entah darimana.Bagi dia, kehadiran dan kepergian Noel seperti jelangkung.Datang tak di undang dan pulang tak diantar.


Sedang,Deon tidak merasa seperti yang di tuduhkan oleh Renata.Dia bahkan rela bangun pagi-pagi dan berputar arah demi bisa berangkat bareng bersama dengan Renata,tapi wanitanya sepertinya tak memperdulikan keberadaannya.


"Sia-sia perjuangan ku, ternyata tak ada artinya".Keluh Deon alias Noel, memelankan jalan kaki nya, membiarkan Renata berjalan semakin menjauh.


Bukan dia menyerah pada keadaan apalagi pada sikap Renata yang terlampau cuek terhadap kehadirannya,tapi lebih menghargai diri Renata yang sepertinya merasa terbebani dengan kehadirannya.


"Mengalah untuk sementara,itu lebih baik bila di bandingkan terus memaksakan diri pada sesuatu yang sulit untuk di gapai".Kata Deon,menatap punggung Renata yang semakin menjauh.


Memantau dari kejauhan dan mengagumi setiap siluet keindahan tubuh renata dari kejauhan.Gak papa, setidaknya dia bisa memantaunya dan bisa menikmati setiap pahatan indah dari sang Maha kuasa.


Di sepanjang perjalanan ini, tatapan Deon tak lepas dari tubuh renata.Berharap Renata menyadari keberadaan nya yang tak lagi berada di sampingnya,atau sekedar menoleh pun tidak.Renata terlampau cuek terhadap kehadirannya.


"Apa perjuangan dan pengorbanan ku,belum lah cukup untuk membuktikan besar nya rasa cinta ku pada mu?".Sakit, rasanya bila kehadiran kita tak dianggap bahkan tak di hargai, begitulah perasaan Deon saat ini.


Perlahan tapi pasti,dia tak lagi berjalan dan tak lagi memantau diri Renata.Membiarkan kupu-kupu nya terbang bebas keatas lapisan langit ke-7.


"Terbang lah setinggi mungkin, kibaskan sayap-sayap mu.Aku hanya bisa mencintai mu dalam diam ku,tapi aku pastikan kau yang pertama mendapatkan perjuangan cinta dari ku".Gumam Deon,kembali melanjutkan perjalanannya.


Dia dan Renata memang terpisah jauh, sengaja dia lakukan agar menjaga kebebasan Renata yang dengan sikap cueknya dapat dia lihat bahwa dia merasa terganggu akan kehadirannya.


Kedua predator itu seperti tom and Jerry saja.Kadang akur,tapi banyaknya tak akur beruntung dia tak meladeni sindiran dan bahkan gombalan mereka.Tepatnya,tak peduli dengan nama nya cinta yang sewaktu-waktu bisa membawa kehancuran bagi dirinya dan juga masa depannya.


"Persetan dengan cinta,semua sama".Gumam Renata,sembari menghentakkan kaki, melangkah terus ke dalam.


Di bawah tatapan Fahri dan Alek,Renata berjalan dengan terburu-buru demi bisa menghindari kedua predator yang pastinya bertanya perihal kemarin malam.Dia bukan percaya diri yang over tapi belajar dari pengalaman.


Renata, seakan tak peduli bahkan pura-pura tidak melihat kedua predator yang sudah menunggunya di balik pintu masuk dengan tatapan lekat, seakan Renata adalah mangsa bagi predator yang kelaparan.


"Beginilah kalau orang punya salah, pura-pura tidak tau bahkan tidak melihat".Celetuk Fahri, rasanya mulutnya gatal bila tidak berkomentar.


"Yah,betul".Sahut Alek,ikut menimpali.


Renata,meski dia mendengar.Tapi dia tidak memperdulikan sindiran dan ledekan dari kedua predator itu.


Renata,semakin berjalan cepat agar lebih cepat menghindari mereka juga.Sayangnya Fahri dan Alek tidak membiarkan mangsanya kabur begitu saja.Mereka berdua menyusul renata yang berjalan cepat,sengaja agar bisa menghindari mereka.


"Kalau di tanya itu jawab". Giliran Alek,yang berkomentar.


Renata, menghentikan langkah kakinya.Berbalik badan, menghadap kedua predator itu."Oh,kalian sedang berbicara dengan ku.Ku kira sedang saling meledek seperti biasanya". Skakmat renata.