
"Aku tidak tau siapa kamu dan tak mau tahu,yang aku tau adalah kamu seorang penyelundup di cabang resto di bawah pimpinan ku". Dengan sombongnya pak Budi,menuduh Deon sebagai penyelundup.
Merasa di sudutkan oleh bawahannya yang bahkan dia sendiri belum tau wajah asli dari pemilik resto ini.Deon,mundur beberapa langkah hendak memanggil Bram.
Tapi, langkah nya kalah cepat oleh teriakan pak Budi yang memanggil satpam jaga sembari berlari keluar.
"Satpam..Satpam..Kemari kalian".Teriak pak Budi,kalap.
"Sial,di tua Bangka itu ternyata sudah gerak cepat mendahului ku" .Gertak Deon,menoleh pada pak Budi yang sudah berjalan keluar.
"Satpam..Satpam".
Pak Budi,terus memanggil satpam dan beberapa karyawan pria untuk menghampiri nya bermaksud untuk menangkap penyelundup yang berpura-pura menjadi karyawan rendahan.
Teriakan pak Budi sontak saja mengundang banyak karyawan yang penasaran dengan teriakan pak Budi yang tidak seperti biasanya,termasuk dengan Renata.Dia malah terlihat panik diantara karyawan yang lainnya.
"Ada apa pak?".Tanya Renata,panik bukan main.
"Ada penyelundup,Renata.Cepat panggil Fahri dan Alek".Pinta pak Budi.
Renata, bukannya menyanggupi permintaan pak Budi,dia malah berdiri mematung."Aku?".Tanyanya sembari menunjuk dirinya sendiri.
"Bukan Renata,tapi noel".Sahut pak Budi, kesal.
Kali ini,Renata dengan polosnya malah berlari kencang tanda menyanggupi permintaan pak budi sedang pak Budi terlihat menepuk jidatnya kala melihat renata yang berlari kencang.
"CK,anak itu". Keluhnya.
Berteriak pun tiada guna sebab Renata sudah menghilang dari pandangannya.Padahal penyelundup yang di maksud adalah Noel Arga Winata sendiri yang menyamar sebagai karyawan.
Satpam penjaga yang di tuju akhirnya datang menghampiri nya dengan napas tersengal-sengal, karena berlari,memburu teriakan atasannya.
"Ada apa pak?".Tanya kedua satpam.
"Cepat kalian ke ruang pribadi pimpinan resto,dan segera bawa keluar karyawan bernama Noel".
"Tak perlu terburu-buru".Sahut Deon.
"Itu dia or_".Belum sempat pak Budi menyelesaikan kalimatnya,Deon sudah mengangkat tangannya ke udara.
"Aku bisa sendiri,tak perlu bermain keroyokan".Gertak Deon,melenggang pergi dari hadapan pak Budi.
Sedang pak Budi,dia hanya menatap kepergian Deon dengan perasaan geram sekaligus malu.Keberadaan penyusup yang menyamar sebagai karyawan biasa telah menjatuhkan kredibilitas nya di hadapan karyawan nya sendiri.
Lihatlah,para pekerja resto memperhatikan dirinya seakan memperolok diri nya akan kecerobohan yang sebenarnya dia pun tak pernah menyangka.
"Dimana penyelundup itu?".Tanya Renata,yang sudah kembali.
Bukannya menjawab pertanyaan Renata,pak Budi malah mengedikan bahunya.Sedang karyawan lain yang ikut menyaksikan, membubarkan diri.
"Lah,kok pada bubar sih?".Tanya Renata, keheranan.
"Sudah pergi,penyusup nya juga.Renata,sayang".Jelas Sarah,menepuk pundak Renata.
Susah payah dirinya menyusul Fahri dan Alek sekaligus harus menurunkan egonya hanya demi menangkap yang katanya seorang penyusup,tapi begitu dia kembali semua sudah bubar.
"Tak menghargai usaha ku".Gerutu renata.
"Siapa bilang tidak ada yang menghargai usaha mu?".Sahut Alek.
Renata, menoleh kearah Alek.Dia menatap sinis,lupa ada dua predator nya yang setia menunggu seperti siap menerkam tubuhnya hanya dengan sekejap mata saja, begitu pula dengan Fahri.Dia malah seenaknya berjalan mendekat kearah nya bahkan berani merangkul pundaknya.
"Jangan dengarkan atau pedulikan orang-orang yang tidak memperdulikan mu.Ada aku,honey". Gombalnya sembari, mengedipkan sebelah mata.
Renata, menghempaskan tangan Fahri."Idih,genit". Kata,Renata jijik.
Tak ingin lagi menjadi sasaran empuk dua predator.Renata dengan sekuat tenaga berusaha pergi, menghindar walau memang tak mudah.Tapi,dia lebih licik daripada dua predator.
"Lihat ada cewek seksi".Kata Renata, menunjuk kearah luar.
Bodohnya Fahri dan Alek, mereka malah mempercayai kata-kata Renata.Saat kedua pria itu yang bodohnya malah percaya dengan perkataan mereka menoleh kearah luar,saat itu pula Renata berlari.