My Introvert Girl

My Introvert Girl
Part 125



Suara derap langkah kaki begitu menggema di ruang bawah tanah,suara pijakan kaki dan sepatu mengiringi suara jangkrik yang saling bersahut-sahutan memenuhi lorong bawah tanah yang gelap,dingin,sepi dan sunyi tiada orang.


Ruangan bawah tanah yang di gunakan untuk mengeksekusi lawannya, menciptakan suasana mencekam dan tidak mau berlama-lama berada di ruangan yang menjadi saksi bisu penyiksaan demi penyiksaan yang di lakukan oleh Deon atau oleh anak buahnya.Tak sedikit yang merenggang nyawa karena sadisnya perlakuan Deon terhadap orang yang membangkang nya,dia sudah seperti iblis tertidur,binatang buas dan seperti seorang mafia tanpa kenal ampun membantai lawannya.


Di dalam sana algojonya sudah menanti kedatangannya dengan tak sabar, bahkan rasanya tangan mereka sudah gatal ingin sesegera mungkin menjalankan perintah tuannya.


"Tuan,tawanan sudah berada di dalam".


Deon, mengangguk.Dia kembali melangkah masuk ke dalam.Dia juga sama halnya seperti algojonya tak sabar ingin melampiaskan segala kemarahan dan membangunkan iblis yang bersemayam dalam tubuhnya.


Bram Bramasta,sepupu Samantha Samuel yang menjadi mata-mata suruhan Samantha untuk menyelidiki kehidupan Deon bahkan termasuk rahasia nya demi menuntaskan balas dendamnya dan juga menguasai hartanya yang menurut david Artama,dia juga berhak atas harta deon.


Laki-laki berperawakan tinggi tegap itu tak bisa berkutik melawan pria berwajah preman dan lebih sangar dari dirinya.


Kedua algojo Deon, mendudukkan Deon di kursi kayu dengan kondisi mata tertutup,mulut di sumpal kain kasar dan tangan terikat ke belakang.Belum lagi luka memar dan darah mengucur di bibir dan pelipisnya akibat dari pemberontakannya melawan kedua orang suruhan Deon.


Deon duduk saling berhadap-hadapan dengan Bram yang Kembali memberontak dengan menelengkan kepala kesana-kemari.Deon,menyuruh orang suruhannya membuka kain yang menutupi mulutnya.Begitu mulutnya di buka,Bram langsung berteriak mengumpati Deon.


"Lepaskan, brengsek.Kau gak tau siapa aku?".Teriak Bram, meronta-ronta meminta di lepaskan.


Deon,memerintah orang suruhannya dengan jari telunjuk.Irang suruhan Deon, mengangguk paham.


Bugh


Sebuah bogem mentah mendarat di perutnya sebagai peringatan untuk dia diam dan tak berusaha memberontak.


"Itu akibatnya kamu melawan.Lebih baik kau diam sebab semakin banyak kau melawan,akan semakin menyakitkan untuk diri kamu sendiri".


"Cuih.Tak Sudi aku terus berdiam diri sedang sepupu ku menderita".


"Yah, sekaligus menghancurkan hidup mu sampai ke akar-akarnya.Haha..Haha".Tawa membahana begitu menggelegar,ada rasa puas dari diri Bram sebab dia bisa masuk ke dalam kehidupan Deon dengan mudahnya.


Deon mengepalkan tangannya geram.Dia ternyata kecolongan, membiarkan si pengkhianat masuk ke dalam kehidupannya untuk kedua kalinya.


Deon bangkit berdiri dengan kasar.Saking kasarnya hingga menyebabkan kursi terjatuh ke lantai.


Dia maju ke depan,menghampiri Bram yang terduduk lemah tapi mulutnya masih bisa menghina dirinya dan tertawa diatas penderitaan nya sendiri.


"Kau masih bisa tertawa di saat nyawa mu saja sekarang sudah ada di dalam kerongkongan mu dan malaikat maut mu berada di samping kiri mu".


"Karena aku akan menemui ajalnya,maka aku bisa tertawa lepas".


Bugh


Deon melepaskan bogem mentah nya ke perut Bram, mengakhiri ucapan Bram yang terhenti karena sebuah bogem mentah mendarat di perutnya.


"Kau sama seperti rubah betina,ular berbisa dan si Medusa Samantha".


Bugh


Kembali Deon mendaratkan bogem mentah nya ke perut Bram."Orang seperti mu,tak bisa di maafkan apalagi di beri belas kasihan".


"Ak_".Mulut Bram kembali di sumpal kain kasar oleh tangan Deon sendiri sebelum dia menyelesaikan ucapannya.


"Cukup pertanyaan ini,kalian bebas berbuat apa yang ingin kalian lakukan terhadap si tengil dan si pengkhianat.Bram Bramasta".Perintah Deon,sebelum melenggang pergi meninggalkan ruang bawah tanah yang baru amis akibat banyaknya darah yang menetes selama proses eksekusi yang cukup lama di lakukan nya.