
Alifa yang masih bersedih karena menyesali perbuatannya dalam dekapan suaminya,Deon yang memilih pergi daripada harus merusak matanya dengan pemandangan romantis dari mantan kekasih tak jadinya dan Renata yang kesal terhadap tingkah laku deon.Ketiga orang itu kembali melanjutkan cerita hidup mereka masing-masing.
Renata,masih sendiri.Keberadaan Rania masih belum di temukan, kabarnya pun tak ada.Dia,sudah ikhlas bila suatu saat mungkin Rania di temukan dalam keadaan tak bernyawa.Tak apa,yang penting baginya dia bisa bertemu untuk terakhir kalinya dengan tubuh rania yang bahkan entah dimana dan sedang apa?.
Malam ini,malam yang entah keberapa renata kembali menanti kehadiran rania hanya sebuah harapan demi harapan tak pernah putus dalam setiap do'a nya,setiap sujud nya dan di setiap harinya walau tanda-tanda keberadaannya belum lah ada.Belum sedikitpun titik terang nya muncul,masih tertutup awan hitam nan pekat.Tak terdeteksi meski sudah di teropong menggunakan alat canggih sekalipun.Observatorium bosscha pun tak mampu meneropong bayangan sosok Rania dengan tubuh mungilnya sama seperti dirinya,tak ada bedanya sebab mereka seperti pinang di belah dua,kembar indentik layaknya kartun kesayangan Upin dan Ipin.
Renata,yang malam ini menatap bintang-bintang di langit yang memancarkan cahaya lewat bantuan matahari,saling berkedip seakan menyapa dirinya yang kembali menghabiskan malam nya seorang diri, entah memperolok dirinya.
Renata,tersenyum kala cahaya bintang itu berkedip-kedip menemani malam panjangnya sebelum dia terlelap tidur,di buai mimpi.
Perlahan Renata menutup matanya."Bintang,tolong sampaikan rinduku padanya".Harap renata,secara perlahan pula dia membuka matanya dan di saat itu pula bintang-bintang berkedip seakan mengabulkan doanya.
Renata,kembali tersenyum cahaya bintang itu seakan mengerti dan memahami keinginannya.Berharap Rania mampu mendengarkan suara hatinya yang merindukan sosok periang dan sikap nya yang polos, mood booster bagi hidupnya,penyemangat dan juga sumber kekuatan nya.
Renata,sudah menyampaikan rindunya pada cahaya gemerlap bintang yang di percaya nya mampu menyampaikan rindu seseorang pada orang yang di rindukan nya.
Saat itu pula,di kejauhan Rania juga sama tengah menatap cahaya bintang yang bersinar begitu indah nya.
Rania,juga sama melakukan hal yang sama seperti renata.Menyampaikan rindunya pada cahaya bintang, berharap bisa tersampaikan pada sang kakak yang sangat dia rindukan.
Tap...Tap...Tap...
Suara sepatu pantofel begitu terdengar nyaring memenuhi Indra pendengaran Rania yang tengah melamun.Melamun, memikirkan renata.
"Masih betah?".Tanya seorang pria di belakangnya.
Rania,tak menggubris pertanyaan pria itu.Tatapannya terus tertuju pada cahaya bintang,tak terganggu oleh suara sepatu pantofel milik pria yang menguasai dirinya dan mengendalikan seluruh aspek kehidupannya.
Rania, mengepalkan tangannya geram pada pria yang ada di belakangnya karena dia pula dirinya tak bebas bertemu dengan kakaknya barang sejenak pun.Bertemu pun hanya bisa dari kejauhan,tak bisa dari jarak dekat apalagi bisa berhamburan memeluk tubuh sang kakak.
"Di tanya bukannya menjawab,malah bengong aja kagak ngehargain banget".
"Apanya yang harus di hargai?".Tanya balik Rania, menoleh kearah pria di belakangnya."Apanya yang harus di hargai?,sedang anda saja tak pernah menghargai orang lain".Gertak Rania,tak lagi bisa bersabar menghadapi pria pengendali seluruh aspek kehidupannya.
Puk...Puk...Puk
"Hebat..Luar biasa...Pintar..Anak ingusan bisa seberani ini melawan ku".Pria itu bertepuk tangan, merendahkan diri Rania yang meminta kebebasan atas hidupnya.