
Sejak kejadian tadi siang,Deon lebih mengurungkan diri.Entah apa saja yang sudah dia katakan pada sang mommy,tanpa sadar dan tanpa bisa di kendalikan oleh dirinya.Deon telah melampaui batasannya,dimana dia menempatkan Alifa di tahta tertinggi hatinya sedang Renata sudah tak berarti lagi.
Deon, tengah berdiri di ujung balkon dengan berpegang tangan sambil menikmati suasana malam yang mencekam dan angin yang berhembus begitu kencangnya.
"Masuk tuan,nanti tuan masuk angin!".Seru bibi Surti,pembantu rumah tangga.
Deon,mana peduli dengan seruan pembantunya, baginya masuk angin tak seberapa bila di bandingkan dengan luka hatinya yang semakin menjadi.
Bimbang rasanya Deon,memilih dan menempatkan sesuatu pada remp.Alifa,jelas tak mungkin bisa lagi dia gapai sedang Renata,dia masih membenci dirinya.
Mundur atau tetap berjuang, mencintai satu wanita atau mencari penggantinya.Kesemua itu memberikan kebingungan untuk diri Deon.
"Arghhhh"Teriak Deon dengan kencangnya bersamaan dengan angin yang berhembus semakin kencang.
Deon,berdiri di ujung balkon menghadap langit-langit yang berkedip karena cahaya bintang dan bulan.Sengaja,dia lakukan untuk menjernihkan pikiran nya.
Deon,berbalik badan,dia edarkan pandangan nya ke segala penjuru arah.Dimana,disana terdapat banyak tanaman bunga mawar yang di tanam di dalam pot bunga berukuran kecil-kecil dan di susun begitu cantiknya,secantik wajah Alifa dan seindah senyuman nya.
Secara perlahan Deon memejamkan matanya,seiring dengan ingatan nya yang kembali mengingat wanita di masa lalunya.Aisha Alifa.
Secara perlahan pula,Deon membuka matanya seiring dirinya berusaha untuk berdamai dan menerima kenyataan.
Deon,berjalan menghampiri pot-pot tanaman bunga mawar yang berjejer rapih di dekat masuk.
Brak
Deon, memecahkan pot bunga mawar satu persatu hingga tak ada lagi pot bunga mawar yang tersisa, seakan dia ingin mengenyahkan Alifa dalam pikirannya.
Deon, menyingkirkan pecahan pot bunga dengan kakinya, pecahan pot bunga beserta dengan tanahnya berserakan dimana-mana membuat kotor seisi balkon yang lumayan luas untuk dirinya menyendiri.
Selepas dia melampiaskan emosinya,Deon beranjak pergi dari balkon sejuta kenangan setelah dua menghancurkan pot bunga hingga hancur berkeping-keping,tak baik menurutnya terus-menerus mengingat kenangan mantan.
Langkah terakhir adalah berusaha berdamai dan melanjutkan kehidupannya, melanjutkan perjuangan cintanya untuk mendapatkan hati Renata Kusuma.
......................
Di tempat lain,Renata Kusuma sedang membaringkan tubuhnya diatas tikar tipis dengan boneka usang milik rania sebagai pengganjal nya,dia berbaring sembari menatap punggung Rania yang tidur membelakangi dirinya.
Ada banyak pertanyaan yang ingin dia lontarkan untuk adiknya,tapi sang adik masih enggan untuk berbagi cerita.
Walaupun iya,dia sudah tau dalang di balik penculikan adiknya,tapi iya ingin mendengar langsung dari mulut adiknya tak termakan bujuk rayu dari Deon Wilson yang mungkin cerita nya tak sesuai dengan kenyataan.
"Kamu tidur atau pura-pura tidur?".Gumam Renata,tak percaya sang adik sudah terlelap tidur.
Tak ada jawaban dari Rania,dia malah mendengkur dengan kerasnya seakan menjawab keraguan Renata.
"Yah, sudahlah kalau kamu sudah tidur".Renata akhirnya menyerah juga,tak terlalu memaksakan diri untuk mencecar sang adik.
Perlahan matanya mulai meredup, beberapa kali juga dia menguap.Tak kuasa menahan kantuk yang sedari tadi terus menyerang nya.
"Good night,dek".Kata Renata, memberikan salam terakhir sebelum dirinya masuk ke dalam bunga mimpi.