
Renata tanpa sengaja bertemu dengan pak Budi,di lorong-lorong ruangan saat dia keluar dari ruangan tempat mereka berbincang.Tak ada yang tau hubungan Renata dan pak Budi,tak ada yang curiga pula dengan bentuk fisik yang hampir sama diantara keduanya,tak ada yang mengait-ngaitkannya.Toh,Renata tidak pernah berbicara masalah pribadi apalagi menggunakan kekuatan orang dalam hanya untuk bisa bekerja.
Terlalu naif atau terlalu egois.Renata,memilih jalannya sendiri,menolak bantuan pak Budi selaku pamannya agar Renata bisa ke terima kerja tanpa bersusah payah.
Tak di pungkiri oleh tenaga sendiri,berkat sang paman dia bisa bekerja setelah banyak perusahaan dan restoran yang menolaknya hanya karena seorang Deon Artama dan hanya karena masalah sepele menurutnya.
Tapi,di tuan kuasa itu telah menyengsarakan rakyat kecil dengan kekuasaannya yang tiada banding dan berkuasa atas dunia bisnis manapun, mengalahkan Mr.Smith yang berada di urutan ke-2 berkat kerja kerasnya sendiri.
Renata bisa leluasa berbicara dengan pak Budi,hanya sekedar bertanya kabar atau masalah yang mungkin terjadi karena di jam seperti ini belum banyak pengunjung yang datang.
Pak Budi dan Renata tau betul seluk-beluk dan juga jam sibuk mereka.Toh,resto baru di buka.Sedang Deon,dia bersembunyi di balik meja yang tak jauh dari dirinya.
Dia dengarkan dengan seksama percakapan antara Renata dan pak Budi beserta dengan hubungan diantara keduanya.Tak mungkin karyawan biasa bisa akrab dengan manager kecuali ada hubungan terlarang diantara keduanya.
"Aku yang kurang tau atau memang mereka punya hubungan?".Gumam Deon, semakin di buat penasaran dengan kehidupan renata.
"Kamu benar,diam ada baiknya sebab dengan diam bukan berarti kita kalah melainkan untuk menghindari masalah".Kata pak Budi,memuji sikap keponakannya.
"Belajar dari pengalaman paman,umur ku sudah 23 tahun.Tentu aku sudah banyak memakan asam garam".Sahut Renata, tertunduk sedih.
"Itu menurut paman".Timpal Renata, menatap pak Budi."Hidup ku bahkan sudah berakhir andai kata_"
Pak Budi bergeleng kepala,menyudahi ucapan Renata yang kembali teringat akan masa-masa sulit nya.Kehidupan keponakannya hancur di tangan seorang CEO kejam.
"Jangan kau ingat-ingat lagi peristiwa itu, jangan pernah karena luka mu adalah luka ku juga, kesedihan ku adalah kesedihan ku pula".Pak Budi mengenggam tangan renata."Lupakan tapi baiknya berdamai lah dengan masa lalu agar di hati mu tak terdapat kekosongan bahkan dendam yang terus ada,merusak hati mu_".
"Bagaimana aku bisa berdamai,sedang pria itu masih hidup bebas dan bergelimang harta?".Gertak Renata,dia sengaja genggaman tangan pak Budi hingga terlepas."Sampai kapan pun,tak akan aku maafkan dan tak akan aku lupakan". Berapi-api sekali Renata berucap, seperti melampiaskan emosi dan beban pikirannya.
Sedang Deon,yang bersembunyi di balik meja.Mendengarkan dengan seksama bahkan sampai-sampai dia menahan napasnya.
'Paman',panggilan Renata terhadap pak Budi seakan menambah daftar rasa penasaran Deon terhadap kehidupan renata.Yang membuatnya tertarik adalah saat dia mengatakan tak akan melupakan dan bahkan tak akan memaafkan pria yang sudah menghancurkan kehidupan nya.
Dalam diamnya,Deon mencoba mengingat-ingat kembali pertemuan tak sengaja nya dengan seorang pramusaji di salah satu resto.
"Maksud nya aku?".Gumam Deon,sembari menunjuk pada dirinya sendiri.