
Deon semakin tak terkejar oleh ayunan kaki pak Budi yang semakin tua,malah s makin melambat.Berbeda dengan Deon yang masih muda dan energik,jelas tak bisa ditandingi dan tak bisa di samakan,karena berbeda generasi.
"Sial".Geram pak Budi, mengepalkan tangannya.
Yang dia khawatirkan dan yang dia cemaskan terjadi juga,dimana dia di permalukan dan mendapatkan pemecatan secara tidak hormat.Takut,itu akan mempengaruhi karir dan masa depannya seperti keponakannya,Renata Kusuma yang di hancurkan oleh orang yang sama.
Tentu,dia tau cerita masa kelam renata sebab dari mulutnya sendiri lah dia mengetahuinya hanya sebuah nama,tapi dia sendiri belum tau wajahnya.
Nama yang sama dari seorang pengusaha yang sama seperti big bosnya itu menjadi ketakutan sendiri bagi Budi Kusuma,walau iya pikiran nya tak mengarah seluruhnya pada Deon yang sama seperti nama pengusaha penghancur masa depan keponakannya.
"Semoga,bukan Deon yang sama".Harap pak Budi,mengatur ritme napasnya yang tak beraturan.
Deon yang tak terkejar,harapan yang hancur hanya sebuah pengampunan yang mungkin masih di dapatkan dan sanggahan demi sanggahan sedikit menenangkan nya.Berharap karir dan masa depannya masih bisa di selamatkan.
......
Renata,terbangun oleh suara alarm tubuh nya,yang terbiasa bangun pada pukul 4 pagi.Menyiapkan segala keperluannya dan juga memasak menu sederhana yang sebenarnya Rania sendiri sudah merasa bosan menyantap menu sarapan mereka yang berupa nasi goreng dan telur dadar.
Kali ini,Rania juga ikut terbangun di pagi buta, mengerjakan tugas sekolah yang belum sempat dia kerjakan akibat dia bekerja di salah satu resto ternama.
"Tugas sekolah kamu belum di kerjakan lagi?".Tanya Renata.
Rania,mengangguk.Tak dapat dia pungkiri pekerjaan barunya memang membuat dia melupakan tugas sekolahnya hanya demi membantu sang kakak dalam menopang hidup mereka.
Tak ada jawaban dari diri Rania,saking fokusnya dia mengerjakan tugas sekolah.Membiarkan sang kakak menjawabnya sendiri,toh dia juga sudah tau betul alasan pasti dia ikut bekerja paruh waktu.
Renata, memperhatikan tugas sekolah Rania yang lumayan banyak dan menguras pikiran nya, pantaslah jika sang adik rela bangun pagi-pagi walau dia tidur di larut malam dan dalam keadaan lelah.
"Yang rajin belajarnya dek,kalau capek gak usah di paksain".Nasehat Renata,mengusap puncak kepala Rania.
Rania, menganggukkan kepala.Mengerti dan paham dengan maksud perkataan sang kakak atas kekhawatirannya.
Ulasan senyum Renata berikan untuk rania,dia bangkit berdiri melanjutkan aktivitasnya lagi yaitu memasak nasi goreng sebagai menu sarapan mereka.
Yah,Rania baru kemarin dia mendapatkan pekerjaan paruh waktu nya dengan sedikit memaksa kepada pemilik resto.Bilang,dia hanya gadis sebatang kara yang mencoba merantau demi bisa memperbaiki nasib hidupnya setelah di tinggalkan oleh kedua orang.
Alasan dan juga kata-kata yang meyakinkan dari diri Rania,berhasil membuat pemilik resto bersimpati dan merasa kasihan.Jadilah dia di terima bekerja paruh waktu dari jam 2 siang sampai jam 10 malam.
Rania,sudah seperti ratu drama saja hanya dengan bermodalkan kata-kata dan mimik muka yang sengaja di buat sedih,dia mampu mengelabui pemilik resto agar mengasihaninya.
"Maafkan aku kak".Kata Rania,tanpa sadar dia tidak mengakui keberadaan kakaknya sendiri.
Sedang,Renata dia jelas tidak tau apa-apa apalagi mendengar kata penyesalan dari Rania atas tindakan dan ucapan Rania demi mendapatkan pekerjaan paruh waktu nya.