
Tamparannya yang terasa perih dan panas, membuktikan bahwa dia tengah berada di dunia nyata dan pasti bukan di dunia Maya apalagi di alam mimpi yang sering nya di manjakan dan di suguhkan dengan mimpi-mimpi indah,pengantar tidur.
Rentangan tangan dan beberapa pertanyaan Rania,berhasil membuat Renata tersadar akan keberadaan sosok Rania yang ada tepat di depannya.Dia ada dan nyata.
Perlahan tapi pasti Renata mulai melangkah menghampiri sosok yang ada di depannya,dan di langkah terakhir dia berlari berhamburan memeluk sang adik yang dia rindukan.
Rania,membalas pelukan Renata Deng begitu erat nya.Hawa tubuh yang hangat dari renata mampu mengembalikan energi positif nya.Pelukan Renata yang hangat dan memabukkan.
"Kemana aja kau,hah?,selama ini aku rela begadang hanya untuk menunggu kepulangan mu,kau tidak ada kabar,tidak ada informasi satu pun tentang mu.Kau pergi kemana aja selama ini?".Omel Renata,masih memeluk tubuh sang adik.
Rania,jelas tak menjawab rentetan pertanyaan renata.Dia masih ingin merasakan pelukan sang kakak yang selama ini dia rindukan, rasanya dia tidak ingin melepaskan nya barang sedetikpun.
"Aku gak kemana-mana kak".Sahut Rania.
Renata, melepas pelukannya.Menatap sang adik yang tersenyum sama manis nya seperti tadi.
"Kau membuat ku khawatir".Omel Renata lagi.
Rania,kembali tersenyum.Dia selalu menebarkan senyuman termanisnya di hati pertama dia bertemu kembali dengan sang kakak setelah melewati badai,hujan,kilat halilintar,angin topan dan gunung meletus hanya untuk bisa bertemu dan berkumpul kembali.
"Jangan senyum-senyum terus jawab dek".Hardik Renata,sembari cemberut.
Rania, mengenggam tangan Renata."Maaf,sudah membuat mu khawatir dengan kepergian ku yang mendadak tanpa kabar apalagi jejak.Maaf kak ".Kata Rania,menunduk penuh penyesalan.
Mendapatkan tatapan tajam seperti mencurigai dirinya dan bahkan mungkin luka yang di timbulkan oleh si tuan kuasa masih membekas di wajahnya.Rania berbalik badan,tak ingin membuat Renata khawatir terhadapnya.
"Jangan terus menatap ku seperti itu kak,aku risih" .Gumam Rania,kembali menundukkan wajahnya.
Renata,memeluk rania dari arah belakang.Dia tau Rania sedang menyembunyikan sesuatu darinya,sedari tadi dia terus tersenyum bila di tatap terus menunduk dan sekarang dia berbalik badan seperti enggan untuk di lihat oleh dirinya.
"Sebenarnya apa yang sudah terjadi, dek?,kemana kamu selama ini?,siapa yang membawa adik ku ini pergi tanpa kabar?".Rentetan pertanyaan penuh kekhawatiran jelas di layangkan oleh Renata,sebab sang adik menghilang selama beberapa hari saat kembali pun dia menemukan luka fisik di wajah adiknya.
Tanpa sadar,Rania meneteskan air matanya.Sulit untuk dia jelaskan kepada sang kakak tentang apa saja yang sudah dia lalui!,sulit baginya untuk kembali mengingat kejadian demi kejadian yang dia lewati.Sakit,terlalu sakit untuk dia kenang tapi tak terlalu manis untuk di lupakan begitu saja.
Rania,tak menjawab rentetan pertanyaan Renata.Dia diam sembari menundukkan pandangannya ke bawah.Tak ingin menunjukkan luka hatinya pada sang kakak yang baru dia temui.
Buru-buru Rania menghapus jejak air matanya.Sekuat dan sebisanya dia harus bisa menyembunyikan permasalahannya dari sang kakak.
Rania,menyentuh lengan Renata.Merenggangkan pelukan Renata dari tubuhnya dan lalu dia berbalik badan menghadap sang kakak yang di selimuti oleh kekhawatiran dan juga rasa tak percaya nya.
"Maaf aku belum bisa mau bercerita kak".Ucap Rania,penuh penyesalan.
Renata, mengangguk."Gak papa dek,kakak paham".Sahut Renata."Lebih baik kita sarapan dulu yuk?,aku tadi sempat mencium harum wangi nasi goreng kesukaan kita".Ajak Renata, mengalihkan pembicaraan.