
Berbagai pikiran negatif, menari-nari diatas kepalanya,mencoba untuk berpikir positif.Mungkin ada hal yang mendesak yang ingin di sampaikan oleh pamannya,begitu pikiran Renata,menepis pikiran negatif yang berkecamuk begitu hebatnya.
Langkah kakinya gontai,antara kelelahan dan bimbang menuruti perintah chef Melvin,yang mendapatkan perintah tertuju padanya.
Harap-harap cemas,dia berjalan menuju ruang manager,tempat sang paman berada, tempat dimana dia bercerita dan tempat dia berbagi keluh kesahnya dengan sang paman,dan berbagai rahasia-rahasia penting lainnya yang tak banyak di ketahui.
Saat berada di ambang pintu pun,dia ragu untuk mengetuk pintu berbahan kayu bertuliskan ruang manager.Takut,cemas dan penasaran.
Tok..Tok..Tok..
Renata,mengetuk pintu kayu itu dengan ketukan lembut dan pelan.Pikirannya tak karuan, perasaannya tak enak hati dan berbagai macam alasan hingga dia tak punya kekuatan lebih untuk sekedar mengetuk pintu,benda mati yang di ketuk dengan keras sekalipun tak akan membuat nya sakit dan terluka.
Tak ada sahutan suara dari dalam,di ketukan pintu yang entah ke berapa seperti tak ada tanda-tanda kehidupan di dalamnya.Pikiran negatif itu kembali menyerang diri Renata, seperti memberikan penyiksaan secara perlahan-lahan.
"Paman".Teriak Renata,membuka handle pintu.
Rasa penasaran dan cemas terhadap diri pamannya,membawa Renata masuk lebih dalam menyingkirkan segala pikiran negatif dan perasaan nya.
"Paman".Teriak Renata lagi.
Kejutan
Sosok di balik kursi singasana yang badannya membelakangi dirinya,tak seperti milik pamannya.Dia yang cemas,tak mengendus keanehan dan kejanggalan.Saat dia masuk,dia baru menyadarinya,sosok di dalam ruangan itu bukanlah paman nya,tubuh dan perawakannya jelas berbeda dengan milik sang paman.
"Apa ini,cara mu bertamu?".Suara berat,itu menyadarkan Renata dari keterkejutannya.
"Apa itu,sopan santun mu dalam bertamu?".Sekali lagi Deon,bertanya.
Renata,jelas belum bisa berdamai dengan keadaan,dia masih sibuk menerka-nerka sosok di balik kursi manager.
Deon, tersenyum kecut.Renata,ternyata tak menjawab pertanyaannya bahkan sampai dia harus mengulang pertanyaan nya lagi.
"Siapa kau?". Pertanyaan di penuhi oleh rasa ragu-ragu terlontar dari bibir manis renata.
"Siapa aku?".Tanya balik Deon,sembari memutar kursinya menghadap Renata yang dia mematung.
Deg
Perawakan dan wajah itu jelas tak asing bagi diri Renata walau orang itu sudah jauh tertinggal di belakang dan hanya sebentar dia mengenal siluet tubuh milik pria penghancur masa depannya.Namun,mampu dia ingat sebab orang itu selalu ada dalam ingatan Renata,ada dalam relung hatinya yang terdalam.
Terkejut,pasti itu yang di rasakan oleh diri renata.Sekian lama tak bertemu,susah payah dia melupakan nya.Tapi,pria itu malah seenaknya ada di hadapannya,entah apa maksud dan tujuannya.
"Siapa aku?,pasti kau mengenalnya".Goda Deon.
Renata,masih tak bergeming."Tentu saja,aku tau siapa diri mu".Sahut Renata,membatin.
Sedari awal pun Renata sudah mengetahui kejanggalan dari karyawan baru di resto ini,di mulai dari penampilannya yang terkesan di buat culun, keberanian dan beberapa sikap tak wajar lainnya.
Selama ini dia bukannya tidak mau mencari tau,lebih tepatnya tak ada waktu.Waktunya terlalu berharga bila hanya di gunakan untuk mencari tau seseorang yang bahkan dia dengan tega menghancurkan masa depannya,tanpa mau tau bahkan bertanya.