
Kehidupan Renata sudah seperti misteri,tak ada yang tau,tak ada pula yang mampu menebak arah mata angin yang membawa kehidupan Renata.
Dia,terlampau pendiam.Saking pendiam nya, sampai-sampai kehidupan pribadinya saja tak ada yang mengetahuinya.Tentang orang tuanya, saudaranya, permasalahan dan bahkan tentang perasaan nya sendiri.
Renata sebenarnya tak termasuk kriteria pramusaji, hanya saja manager nya yang terdahulu merekrutnya.Mungkin karena dia cantik dan body goals,tak ada yang tau tentang kedekatan Renata dengan pak Budi.Manager cabang resto yang dulu.
Alek dan Fahri pun,meski mereka dekat dengan renata hanya karena menjadi pengagum setia renata saja sampai tidak mengetahui keluarganya dan masalah hidupnya,saking tertutup nya Renata dan sikap nya yang pendiam.
...........
Renata, dengan pikiran kosong dan tatapan kosongnya terus melangkah kemana arah langkah kaki terus melangkah.Terus berjalan tanpa sadar, tanpa melihat apalagi tau yang ada di depannya.Sedari tadi dia terus melamun, bahkan kehadiran Alek dan Fahri pun tak di anggapnya.Seperti angin lalu saja Fahri dan Alek di mata Renata yang bahkan dia seperti orang buta,tak dapat melihat,blurd di matanya yang tak dapat melihat.
Brak
Mata Renata memang sudah benar-benar buta.Di butakan oleh keadaan dan di sembuhkan oleh harapan,dia tak melihat keberadaan Deon yang ada di hadapannya tengah berdiri mematung sembari menatap karyawan dan beberapa pelanggan.
Dia juga sama tak melihat renata.Toh,Renata berjalan di belakangnya,tak mendengar suara langkah kaki renata.
Brak
Tabrakan antar dua tubuh yang berbeda,dan saling membelakangi,tak dapat di hindari, terlanjur terjadi tanpa bisa di cegah oleh siapa pun.Renata,menabrak tubuh Deon yang sedang berdiri mematung.
"Aw".Pekik Renata, kesakitan sembari memegangi keningnya.
Deon,yang merasakan ada seseorang yang menabrak dirinya dan suara kesakitan milik seorang wanita.Dia memutar tubuhnya,demi mengetahui orang yang sudah berani menabrak tubuhnya, tanpa minta maaf.Justru dia terlihat mengkhawatirkan dirinya sendiri.
"Kalau jalan pake mata".Gertak Deon.
"Dimana-mana jalan pake kaki"Sahut Renata,sembari mendongakkan kepala.
Deg
Belum juga kesadarannya kembali normal,dia sudah di kejutkan dengan keberadaan Deon yang berdiri sambil menatap tajam kearah nya.
Refleks renata,mundur beberapa langkah saking terkejutnya dia.Tanpa sadar dirinya menggertak atasannya sekaligus orang yang selama ini dia hindari.
"Tuh,mata gak takut copot apa?". Kelakar Renata, mencairkan suasana tegangnya.
Deon,masih tak bergeming.Dia malah semakin menajamkan penglihatannya seperti burung elang hendak memangsa.
Renata bergidik ngeri, tatapan Deon seakan menginterupsi dirinya agar diam tak mengeluarkan suara apalagi berusaha bergurau di situasi dan kondisi serius.
Di tatap seperti itu,jujur saja membuat Renata salah tingkah.Bukan maksud apa-apa hanya saja tatapan Deon seakan mengintruksikan dirinya akan kesalahan yang di perbuat tapi dia tak kunjung menyadarinya.
"Apa itu cara mu bersikap pada si korban?,kau yang menyakiti tapi tak mau minta maaf".Sindir Deon.
"Kalau kau tidak menyakiti duluan,dia juga tidak mungkin menyakiti mu".Skala Renata,balik menatap tajam.
Yah,Renata sudah tersadar kembali dengan siapa dia berhadapan.Baginya orang seperti Deon tak berhak untuk di hormati apalagi di sanjung-sanjung bak artis junjungan nya.