My Introvert Girl

My Introvert Girl
Part 86



Jika saja,ini bukan acara formal dan acara khusus untuk mempermalukan Budi Kusuma Atmaja,sudah sejak tadi Deon tertawa terbahak-bahak demi melihat raut wajah pak Budi yang cemas dan khawatir.


"Baru juga segitu,udah membuat nyali loe ciut".Ledek Deon,bergumam pelan.


Deon,memang sengaja menjelaskan,menjeda, menjelaskan lagi,menjeda lagi terus saja begitu sampai suasana hatinya menjadi senang dan dirinya mendapatkan hiburan gratis setelah dia harus mengeluarkan kocek terdalamnya hanya untuk menyewa resto orang lain.


"Kalian pasti sudah tau,nama dari manager dari cabang resto milik ku yang ada di daerah Pluit.Yah,dia adalah Budi Kusuma Atmaja ".Jelas Deon, sembari mengarahkan tangan nya ke meja Budi.


Tamu undangan mengarahkan pandangan mereka pada meja yang di tunjuk oleh big bos mereka.Sontsk saja,pak Budi semakin menundukkan pandangannya,malu itu yang dia rasakan di tempat yang begitu indah tapi tak seindah suasana hatinya.


"Dia dengan seenaknya memperlakukan aku seperti karyawan rendahan dan bahkan menuduhku tanpa bukti padahal disana aku sedang melakukan penyamaran".Jelas deon lagi,tak memperdulikan perasaan pak Budi yang bersemu merah akibat menahan rasa malunya.


"Untuk apalah aku mempertahankan jabatan nya dan juga memperkerjakan karyawan rendahan seperti dia".Tunjuknya semakin mempermalukan pak Budi.


"Maka,dari itu saya atas nama Deon Artama,Ups maaf maksud saya Deon Wilson dengan di saksikan oleh manager dari resto dan anak perusahaan di bawah pengawasan ku dengan ini saya memecat Budi Kusuma Atmaja dari posisinya sebagai manager di resto double D secara tidak hormat".


Deg


Penjelasan Deon,semakin menambah rasa malu dan kehinaan jelas dia dapatkan di malam sunyi nan gelap ini.Dia memberanikan diri mengangkat pandangan nya kearah Deon.


Tak terima rasanya dia di berhentikan dari posisinya dan di permalukan semalu-malunya tanpa bisa membela diri.


Rasa puas begitu jelas tergambar dalam diri Deon, hatinya senang dan gembira bisa mempermalukan Budi secepat ini.


"Itu akibat nya orang yang telah berani menghina ku bahkan menuduh ku".Geram Deon.


Bram,mengangguk paham.Inilah yang dia kerjakan tadi siang di saat Deon terlelap tidur,tak terusik sedikitpun oleh aktivitas nya.


Yah,sebuah rekaman bukti kuat dimana pak Budi memperlakukan Deon seperti karyawan rendahan dan menuduhnya sebagai penyusup tanpa mau mendengarkan penjelasan darinya apalagi tuduhan itu tanpa bukti.


Suara lebah bergerombol,suara teriakan ibu-ibu yang menawar harga di pasaran begitu terdengar saling bersahutan seperti itulah gambaran dari ruang aula restoran begitu video itu di putar.


Malu, benar-benar malu Budi sampai-sampai keluar dari ruangan aula.Mengejar Deon demi mendapatkan sebuah kata'maaf'dari Deon dan pengampunan atas sikap nya di samping dia merasa malu akan perlakuannya sendiri.


"Pak..Pak".Teriak pak Budi,memanggil Deon.


Deon,mana peduli dengan teriakan pak Budi.Dia sudah tau,alasan pak Budi mengejarnya.


Apalagi kalau bukan, mengharapkan sebuah pengampunan darinya agar dia masih memegang jabatan manager di cabang resto miliknya.


"Sekali penjilat,tetap penjilat".Gumam Deon, semakin berjalan cepat,menghindari pak Budi.


Pak Budi, pantang menyerah sekali dia mengejar Deon hanya untuk mempertahankan jabatannya dan karirnya di dunia bisnis tak di hancurkan oleh sikap egoisme seorang Deon Wilson.


"Pak,aku mohon maafkan aku".Teriak pak Budi,tak mau menyerah begitu saja.


Deon,sekali lagi dia tak memperdulikan rengekan pak Budi yang bersikap seperti anak kecil tak di belikan mainan oleh ibunya.