My Introvert Girl

My Introvert Girl
Part 27



Kecanggihan teknologi yang sayangnya sering di salah gunakan.Seperti sepotong video pernyataan renata yang tertuduh sebagai adik pelakor hanya karena ada kesamaan nama dengan yang di tuduhkan,menjadi penyebab masa depan renata hancur.


Renata yang terlelap tidur dengan di buai bunga mimpi, mengistirahatkan tubuhnya dari aktivitas seharian, mengumpulkan tenaga untuk menyongsong hari dan mengharapkan sebuah kedamaian dalam tidurnya.


Tak pernah ada dalam bayangan nya bahwa masa depannya telah di pertaruhkan.Sikap diamnya di pertanyaan dan di fitnah sebagai wanita yang tak baik.


Tak ada firasat dalam diri renata walau dia mendapatkan sedikit teguran.Rania,yang berbaring di sebelah renata,meski tau tapi dia tak berani berkata jujur pada sang kakak.


Cukup di pendam sendiri dan menangisi dalam diam,tak ingin membebani kakaknya dengan fitnah dan tuduhan yang keji.Menjelaskan pun tiada guna,sebab dia tidak punya kekuatan lebih untuk menjelaskan.


"Takdir apa yang sedang kita jalani, kak?".Gumam rania,terisak menangis dalam diamnya.Tau betul itu hanya sebuah fitnah belaka untuk kakaknya.


Tadi, sewaktu pulang sekolah.Rania,tak sengaja membuka media sosialnya.Begitu di buka, alangkah terkejutnya dia saat mendapati video unggahan pernyataan tentang fitnah yang di lontarkan kepada kakaknya.


Dia,yang tau betul hidup mereka dan masalah sang kakak.Tak berani, berkata jujur.Hanya menyimpan nya sebisanya.


Esok lusa,mungkin renata akan mengetahuinya sendiri dari orang lain,dari tetangga yang julid dan netizen yang sok tau.


"Kakak ku sayang,kakak ku yang malang".Gumam Rania lagi.Sekuat tenaga untuk memejamkan mata,tapi tak bisa.


Rania membolak-balikkan tubuhnya ke kanan-kiri, menetralisir rasa khawatir berlebihan pada nasib kakak nya tapi tetap tidak bisa.


Renata sampai terbangun karena ulah rania yang terus merubah posisi tidurnya.Seperti orang yang gelisah, tidurnya pun tak nyenyak.


"Rania".Teriak Renata, menggoyang-goyangkan tubuh rania."Rania".Panggil renata.


Rania, berpura-pura menggeliat."Yah". Jawabnya,sembari berpura-pura menguap.


Rania,bangun dari tidurnya.Duduk di sebelah kakaknya."Aku baik-baik saja,mungkin hawanya panas".Kilah rania.


Sebagai orang terdekat Rania dan selalu bersama-sama.Penjelasan Rania,tentu tak bisa di percaya oleh Renata yang tau betul dengan sikap adik satu-satunya ini.


"Bohong,aku tau betul siapa diri mu".Sanggah renata,menelisik raut wajah rania.


'Bilang gak yah?."Ucap Rania membatin.Sedari tadi memang pikiran nya sedang berperang dengan hati nuraninya tentang sebuah kebenaran yang mungkin itu menyakitkan di awal tapi itu lebih baik daripada sakit di akhir.


"Di tanya malah bengong ".Sentak renata.


"Yah".Saking kagetnya Rania,hingga dia terperangah kaget dengan panggilan Renata yang tak henti-hentinya membangunkan dirinya.


"Kamu kenapa dek?,tak mungkin kamu seperti ini jika tidak ada sesuatu".


Di curigai seperti itu,Rania tak bisa berkutik.Renata tak bisa di bohongi dengan kata-kata,apalagi dengan penjelasan berbelit.


'Apa mungkin aku harus menceritakannya sekarang?'Ucap Rania membatin.


"Lebih baik kau bicarakan sekarang daripada aku mengetahuinya dari orang lain.Sakit,itu akan terasa sakit,lain hal kalau aku mendengarnya dari adik ku sendiri".Jelas renata.


Justru hal seperti itulah yang membuat bimbang.Bilang sekarang,takut itu akan membebani renata, kalau pun nanti.Sama saja, sama-sama sakit.


"Kak".