
Pegal dan kebas menjalari kaki Deon.Sudah lama Deon duduk bersimpuh di hadapan Renata yang tak kunjung memberikan jawaban atas pinangan dirinya,belum lagi Renata masih membencinya menambah sulit dan lama dirinya terus duduk bersimpuh.
'Di terima gak sih?,lama bener'.Gerutu Deon,membatin.
Renata,di Landa kebimbangan antara menolak dan menerima pinangan dari Deon.Di satu sisi dia mencintai Deon,tapi di sisi lain dia masih membenci Deon.
"Terima kak".Teriak Rania dengan lantangnya,menyoraki Renata agar cepat mengambil keputusan.
"Re,kamu dengar kata-kata ku.Deon mencintai mu re,bukan karena unsur lain.Dia mencintai mu,re". Teriakan itu kembali terdengar,dan si pemilik teriakan itu tak lain dan tak bukan adalah Aisha alifa.
Berbagai teriakan, begitu terdengar saling bersahutan mengeroyok dirinya yang seorang diri yang mencoba untuk berdamai dengan masa lalu.
Secara perlahan,Renata kembali menutup matanya dan di detik kemudian dia membuka matanya seiring dengan hatinya yang mulai lapang dan legowo dalam menerima suratan takdir nya dan setiap penderitaan yang sudah dia rasakan.
Renata, melangkah maju menghampiri Deon yang jaraknya hanya dua langkah dari dirinya.Renata, berjongkok dan mengenggam tangan Deon.
"Aku terima pinangan mu,Deon Wilson".Kata Renata,begitu lembut terdengar.
Deon,yang sudah putus asa sampai mulutnya menganga lebar tak bisa mempercayai apa yang sudah di dengarnya.
"Kau menerima pinangan ku?".Tanya Deon, memastikan.
Renata, melepaskan genggaman tangannya di tangan Deon,dia kembali berdiri tegap."Yah aku menerima pinangan mu,Deon Wilson".Kata Renata, dengan lantangnya.
Deon,berdiri dan langsung memeluk tubuh ringkih renata.Rasa bahagia bercampur haru begitu jelas terlihat.
Perjalanan panjangnya akhirnya menemui titik kebahagiaan.Deon,menangis terharu akan Jawaban Renata yang menerima pinangan dari nya.
Semua karyawan dan pengunjung resto tanpa sadar mereka meneteskan air mata penuh keharuan dan saling berpelukan.Tak terkecuali Alek dan Fahri.Tanpa sadar keduanya saling berpelukan, wanita yang mereka incar dengan susah payah telah menemui pelabuhan terakhirnya.
"Yah,gue udah kalah".Keluh Alek,menyadari kekalahannya.
Fahri,tak henti-hentinya menepuk-nepuk punggung Alek.Walau dia juga ikut memperebutkan hati Renata,tapi itu hanya sebuah permainan belaka.Dia tak pernah bersungguh-sungguh untuk mendapatkan hati pramusaji pendiam.
"Sudah, relakan saja.Toh,kamu masih punya banyak ribuan wanita di luaran sana".Sindir Fahri.
Deon, melepaskan pelukannya.Menatap wanita yang dia cintai selama,begitu terharunya Deon yang akhirnya semua perjuangannya tak sia-sia dalam mendapatkan cinta renata.
Deon genggam tangan Renata yang lembut dan dingin,sedingin kutub Antartika.Dia elus-elus tangan lembut itu dan menatapnya untuk beberapa saat.Jari manis Renata,akan sempurna terisi oleh cincin berlian pemberian dari nya.
"Sudah puas belum?".Tanya Renata lembut.
Deon bergeleng k pala,tentu dia belum merasa puas mengelus tangan Renata yang lembut dan putih seakan takut kehilangan.
"Woy... Cincin nya,bego". Teriakan penuh sindiran itu akhirnya mau tak mau Deon harus melepaskan genggaman tangan nya di tangan renata.
Deon, mengucapkan kata 'basmallah' sebelum dia dengan sempurna menyematkan cincin di jari manis renata.
"Berhenti".Suara teriakan penuh dengan kemarahan, menginterupsi tangan Deon yang hendak menyematkan cincin di jari manis renata.
Renata,menarik kembali tangannya yang sedari tadi terulur hendak di sematkan cincin berlian sebagai simbol lamaran di terima.Renata,berbalik badan demi mendengar suara teriakan di sertai dengan langkah kaki yang sengaja di hentakkan ke lantai.
"Berhenti".Wanita itu kembali berteriak, memancarkan kilat kemarahan yang begitu dahsyatnya terlihat api kemarahannya.