My Introvert Girl

My Introvert Girl
Part 140



"Masih,berani kau menatap ku?".Gertak Deon pada anak buahnya yang berani mengangkat kepalanya.


Orang itu buru-buru menunduk kembali,takut akan menerima konsekuensinya atas apa yang dia lakukan.Terlambat,terlambat bagi dia menyadari nya sebab Deon sudah berada tepat di depannya.


Bugh


Deon,menghadiahi sebuah bogem mentah pada bawahannya atas apa yang dia lakukan setelah kelalaiannya yang fatal bagi dirinya.


"Itu balasan atas apa yang kau lakukan pada ku.Berani-beraninya kau mengangkat kepala mu"Gertak Deon.


Orang yang mendapatkan bogem mentah,tentu dia tak tumbang sedikitpun hanya badannya bergetar hebat sebab dia merupakan salah satu bodyguard kesayangan Deon.


Plak


"Itu balasan karena kau tak becus menjaga dan mengawasi anak gadis kecil".


Plak


Plak


Plak


Tak hanya dia,tapi seluruh bawahannya yang bertugas menjaga basecamp nya dengan seorang tawanan gadis polos juga mendapatkan giliran dan hadiah salam tangan dari Deon.


Satu persatu dia menampar pipi bawahnya yang berjumlah tak kurang dan tak lebih,20 orang.Tak ayal tangan nya menjadi merah padam seperti amarahnya yang kembali menyala seperti api di letusan gunung berapi,begitu panas dan mengerikan.


"Kalian,aku tugas kan menjaga seorang anak kecil,gadis pula tapi kalian?"Deon, bergeleng-geleng kepala sembari berkacak pinggang,menatap satu persatu anak buahnya."Kalian gak becus menjaga anak gadis yang bahkan tak berdaya melawan satu orang dari salah satu kalian ".Gertak Deon, hidungnya kembang-kempis menahan amarah.


Diam,tak ada yang menjawab atau bahkan menimpali ucapan Deon.Kesemuanya menunduk takzim,sadar betul akan kelalaian mereka dalam menjaga seorang gadis muda yang polos.


"Arghhh"Deon,berteriak kalap.Hancur sudah rencananya dalam menaklukkan hati seorang pramusaji pendiam.


Anak buah Deon,saling pandang satu sama lain bermaksud bertanya akan sikap tuannya yang tiba-tiba berteriak sekaligus menyiratkan ketakutan diantara mereka.Takut,jika amarah Deon bisa berdampak pada dirinya dan juga keluarganya.


"Bagaimana ini?,tuan kita udah marah besar".Begitu arti tatapan mereka,selain bertanya-tanya tentang diri Deon yang tiba-tiba berteriak.


Deon,menghela napasnya.Berusaha mengatur napasnya dan juga amarahnya agar dia bisa berpikir dengan jernih dan juga menepis segala prasangka nya yang mungkin itu bisa dia pikirkan nanti.


Deon, melenggang pergi menuju balkon tanpa menatap anak buahnya yang melakukan kelalaian dalam bekerja.Dirinya ingin mengetahui cara Rania bisa kabur padahal penjagaan begitu ketatnya dan dirinya di tempatkan di tempat tinggi, sangat sulit untuk Rania bisa meloloskan diri begitu saja.


Tanpa di beti aba-aba, tanpa di beti komando, tanpa di beri perintah,dan tanpa di beri peringatan keseluruhan anak buah Deon mengikuti Deon yang melenggang pergi keatas,tak lain dan tak bukan menuju balkon tempat Rania di sekap.


Deon,semakin melenggang menapaki setiap anak tangga dengan langkah kaki lebar.Dirinya di buat penasaran dengan Rania yang berhasil Kabir dan lolos dari penjagaan.


Brak


Pintu di buka dengan kasarnya,hingga menimbulkan bunyi berderit.Deon,masuk begitu saja tanpa mawas diri,dirinya mengitari setiap sudut kamar yang berhadapan langsung dengan balkon.


Tak ada,tak ada yang mencurigakan dari kamar Rania.Tak ada yang janggal,meski dia sudah memeriksa nya berulang kali.


Klek


Pintu yang menghadap balkon dia buka,begitu dia melangkahkan kaki alangkah terkejutnya dirinya saat mendapati berbagai selimut yang terpilin menjuntai ke bawah hingga nyaris menyentuh tanah.


Deon,semakin mendekat ke ujung balkon.Ternyata selimut yang terpilin itu adalah cara Rania meloloskan diri dari balkon tinggi.


"Cerdik sekali kau,Rania Kusuma".Gertak Deon, mengepalkan tangannya geram.