
Klek
Renata membuka handle pintu resto,bersiap masuk ke dalam dan memulai rutinitas nya seperti sedia kala, berharap dia bisa menyelesaikan pekerjaannya secepat mungkin,dan berharap kepulangannya di sambut oleh rania.
"Selamat pagi,tuan putri".
Begitu Renata, melangkahkan kakinya masuk ke dalam.Fahri dan Alek sudah menunggu di ambang pintu dengan seulas senyum dan kata sapaan manis untuk Renata seorang.
Renata,membalas ulasan senyum Fahri dan Alek.Tapi,tidak membalas sapaan'selamat pagi'dari Alek dan dari.
"Yah, tua putrinya sedang menerima tamu tak di undang".Keluh Fahri,sembari menatap kepergian renata.
"Maksud kamu?".
Fahri,menoleh pada Alek.Teman sekaligus rival nya ini terkadang otaknya lemot.Tak bisa di ajak kompromi,apalagi di ajak bercanda.
"Maksud kamu,kita tamu yang tak di undang itu?".Tanya Alek,melotot tajam kearah Fahri.
"Alek..Alek, ngakunya aja playboy kelas kakap.Tapi, masalah kewanitaan tak tau".Keluh Fahri,sembari menepuk jidatnya.
Alek, menghampiri Fahri."Masalah kewanitaan?".
"Yah, masalah kewanitaan yang suka datang sebulan sekali bahkan dua bulan sekali,dia sebagai tanda keperawanan,kalau wanita mu sedang mengalaminya.Bersiap-siaplah menerima amukan nya, seperti singa kelaparan".
"Oh itu,haid namanya bisa di bilang datang bulan itu pasti terjadi pada setiap wanita.Bilang dong daritadi?".
Fahri, berkacak pinggang.Sedari tadi dia sudah mengatakannya dengan kata kiasan.Kalau menurut kan kata hati sudah sedari tadi dia ingin menoyor kepala Alek sambil berteriak 'daritadi juga gue bilang,bego'.
"Hah".Hanya helaan napas yang begitu terdengar tak beraturan,dia masih waras tak termakan rayuan setan,penyesat jalan kebaikannya.
"Aku juga udah bilang,Alek ku sayang".Kata Fahri,menyindir Alek.
Perdebatan diantara dua cowok ganteng,telah memancing penasaran dari karyawan lainnya.Tapi,lagi mereka memilih abai.Toh,itu sudah hal lumrah terjadi diantara keduanya.
"Masih betah berdebat tak penting seperti anak SD memperebutkan permen?".Suara pria dari arah belakang mereka, menginterupsi perdebatan mereka.
Alek dan Fahri menoleh pada sumber suara,mencari tau pemilik suara yang menganggu perdebatan mereka.
"Eh pak bos".Sahut Alek dan Fahri, secara bersamaan.
Deon,yah Deon.Dia sudah sampai di restonya tak lama dari Renata yang sudah sampai lebih dulu hanya selisih 10 menit darinya.
Tak hanya Renata yang di kejutkan oleh dua predatornya yang sudah berdiri di depan pintu sambil menyapa dirinya,tetapi Deon juga merasa terkejut dengan perdebatan kedua pria ganteng yang memperebutkan 1 hati,1perempuan.
"CK,mencemari pagi yang indah".
Deon, dengan santainya mendengarkan perdebatan mereka seperti wasit yang mendengarkan debat di lapangan sepakbola.Dia diam memperhatikan,kemana arah pembicaraan mereka.
Ternyata kedua pria ganteng ini hanya memperdebatkan masalah kewanitaan, bukan sesuatu yang pantas untuk di bicarakan apalagi di perdebatkan.Deon, menghampiri mereka yang masih asyik terus berdebat, menentukan siapa yang benar dan siapa yang salah.
"Masih betah berdebat seperti anak SD memperebutkan permen".
Ucapan Deon,berhasil membuat Alek dan Fahri menoleh kearahnya.Bahkan tanpa rasa malu Alek dan Fahri tersenyum dan menghampiri dirinya,sudah seperti pemain handal dalam berbohong dan menyembunyikan masalah.
"Eh pak bos".Alek dan Fahri, tersenyum mesem.Malu dan segan terhadap Deon yang merupakan big bos mereka.
"Kalau mau berdebat silahkan lanjutkan,tapi jangan harap besok kalian bisa bekerja di sini".
Mendapatkan ancaman seperti itu,Alek dan fahri keduanya kompak membubarkan diri,tak ingin pekerjaan nya berakhir hanya karena masalah sepele menurut mereka.
Deon, bergeleng-geleng kepala dengan tingkah laku Alek dan fahri yang menurutnya sudah seperti anak kecil.Lari pontang-panting hanya karena sebuah ancaman yang belum pasti kebenarannya.