My Introvert Girl

My Introvert Girl
Part 115



Sekuat tenaga,Renata berusaha menyeret paksa kakinya agar lebih cepat sampai ke rumah sewa nya bermaksud untuk segera mengistirahatkan pikiran dan tubuhnya dari rutinitas nya yang padat belum lagi Rania yang saat ini belum pulang,berkabar pun tidak ada.


Lelah pisik,mental dan pikirannya Renata berlari sekuat tenaga tak memperdulikan pikiran nya yang terus mempertanyakan keterlibatan Deon atas apa yang terjadi pada rania.Sekuat itu pula dia menepis pikiran buruknya,berusaha untuk berpikir jernih dan realistis berharap itu adalah murni sebut musibah.


"Tapi,kalau pun iya dia terlibat,itu hal yang wajar bukan?".Sekali lagi pikiran Renata,di sibukkan oleh praduga di sertai oleh sanggahan nya sendiri.


Selama 30 menit dia berperang batin dan berusaha untuk lebih cepat sampai ke rumah sewanya.Penderitaan itu menemui jalan akhirnya,dimana Renata akhirnya sampai juga ke rumah sewanya dengan napas yang memburu, terengah-engah karena berlari belum lagi pikiran-pikiran negatif menyerang dirinya sendiri.


Renata, buru-buru membersihkan diri,makan dengan menu seadanya dan mengistirahatkan tubuhnya berharap esok,lusa dia mendapati Rania pulang atau sekedar memberikan dia kabar.


"Bunga mimpi,aku harap kau memberikan ku ketenangan dan berikan lah aku bunga mu yang menyejukkan hati dan berikan ku harapan-harapan yang pasti".Do'a Renata,sebelum matanya tertutup dengan sempurna,di bawa oleh kelelahan jiwa dan batinnya.


..... ..............


Sinar mentari menerobos masuk melalui celah-celah yang menerobos masuk tanpa permisi, memberikan kehangatan atau sekedar say 'hello' pada jiwa-jiwa yang masih terlelap tidur.Tapi,tidak dengan renata.Dia sudah sedari tadi bangun dari bunga tidur yang di harapkan nya membawa ketenangan jiwa, raganya dan juga kesejukan akan keharuman bunga mimpi.


Dia sudah berkutat dengan kegiatan nya di dapur, seperti mencuci piring,masak,mencuci baju dan lain halnya.Dia sudah terbiasa bangun di pagi buta.


Satu bunga mimpi yang di harapkan nya tak menjadi kenyataan yaitu adanya kabar dari rania.Renata masih harus bersabar dalam menanti kabar dari Rania apalagi kepulangannya yang menjadi pertanyaan besar untuk dia selidiki.


Di balik pilar tembok.Rania, mengaminkan do'a Renata.Yah,Rania dia datang ke rumah sewanya bukan untuk pulang melainkan ingin melihat Renata dari kejauhan.


Sampai saat ini dia belum bisa bertemu dengan Renata.Dia belum berani menampakkan wajahnya di hadapan renata,takut akan kemarahan nya dan bahkan takut dia malah membawa kabar yang tak seharusnya.


Di balik pilar tembok yang tak kokoh dan menjulang tinggi,Rania meratapi nasibnya,nasib, kakaknya bila memang seandainya kabar itu memang benar adanya.


"Maafkan aku kak".Rania meratapi nasibnya yang lagi-lagi di hadapkan pada permasalahan yang pelik.


"Rania". Sayup-sayup Renata seperti mendengar suara rintihan hati Rania.Di edarkan pandangan nya ke segala arah,tapi tak ada seorang pun yang berada di sekitarnya."Ah,mungkin itu hanya perasaan ku saja".


Renata,kembali melanjutkan langkah kakinya yang terhenti karena Indra pendengaran seperti mendengar suara rintihan hati Rania dan ratapan- ratapannya amat memilukan.


Rania,menengok kearah Renata yang terus berjalan menjauh.Yah, pendengaran Renata tak salah dia memang mendengar rintihan hati Rania.Tapi,Rania buru-buru bersembunyi kembali.


"Maaf kak,aku terpaksa".Sesal Rania, menundukkan kepala penuh penyesalan.