My Introvert Girl

My Introvert Girl
Part 105



Sedari tadi Renata terus-menerus mondar-mandir kesana-kemari tak bisa diam, apalagi tenang.Hatinya di Landa cemas, pikiran nya tak menentu membayangkan foto yang di kirim melalui aplikasi hijaunya dari orang tak di kenal.


Dirinya menjadi uring-uringan,kala Rania belum juga pulang sejak semalam.Mata Renata sayu, rambutnya berantakan dan bajunya lusuh,semalam dia terus memikirkan Rania,setia menunggunya pulang ke rumah


Rasa kantuk dan lelah fisiknya terkalahkan oleh rasa khawatirnya terhadap adiknya yang belum juga pulang dari tempat kerjanya.


Sesekali Renata melirik kearah ponsel nya, siapa tau ada notifikasi penting atau setidaknya ada kabar baik mengenai Rania.Tapi, sampai saat ini informasi itu belum dia dapatkan,menambah kegelisahan hatinya.


"Dimana kamu Rania".Gumam Renata,berjalan mondar-mandir seperti orang linglung.


Semalam dia memang mendapatkan beberapa gambar tak senonoh yang tak lain dan tak bukan adalah adiknya bersama pria tak di kenalnya,tapi lagi dia berusaha berpikir positif berharap itu bukanlah rania.Toh,foto bisa saja di edit atau mungkin orang yang sama dengan wajah Rania, bukankah manusia punya kemiripan wajah dengan orang lain bahkan kita punya kembaran hingga 7 orang yang tersebar di seluruh dunia.


Renata yang di dewasakan oleh keadaan tentu dia tak boleh gegabah mengambil tindakan apalagi jika informasi itu adalah informasi bohong, akan merugikan dia nantinya bila mengedepankan ego di banding akal logika.


"Kenapa aku gak bertanya langsung pada orang yang mengirim foto Rania saja".Ide itu tiba-tiba muncul di tengah kekalutan pikiran nya.


Dia kembali melihat ponselnya yang dia letakkan di sembarang tempat, bermaksud bertanya pada orang yang semalam mengirimkan foto Rania tengah tertidur tanpa sehelai benang pun yang menempel di tubuhnya hanya berupa kain selimut saja sebagai penghalang bersama dengan seorang pria tak di kenal dengan kondisi tubuh yang sama.


"Nomer dari orang yang sama lagi".


Yah,nomer itu berasal dari nomer yang waktu itu terus menghubungi nya di malam buta,tapi begitu dia menjawab panggilan telepon nya.Panggilannya di matikan secara sepihak.


Ragu,Renata bertanya takut ini berasal dari orang yang ingin memanfaatkan kelemahannya,atau semacam penipu yang meminta uang tembusan untuk menghapus. foto adiknya agar tak tersebar.


Renata,memencet tombol aplikasi hijau dan memilih tanda telpon agar dia bisa lebih leluasa berbicara dengan si pelaku penyebar hoax.


Kring...Kring...Kring


Nada panggilan terus berdering menandakan orang itu aktif tapi belum di jawab oleh si pemilik nya.Sampai-sampai Renata harus mengulangi panggilan sampai 3 kali.


"Hello,apakah anda yang mengirimkan foto adik ku?,dan Dimana adik ku berada?". Begitu panggilan itu tersambung,Renata langsung memberondongnya dengan berbagai pertanyaan seperti seorang ibu yang mengkhawatirkan anak gadisnya.


Hening.Tak ada jawaban di sebrang sana,hanya ada suara arah jarum jam dinding yang begitu jelas terdengar memekakkan telinga.


"Hello". Renata,tak putus asa sampai disitu.Gagal bangkit lagi,tak di jawab,terus mengoceh,mati satu tumbuh seribu,tak menyerah walau belum ada jawaban nya.


"Jawab lah,kalau tidak akan aku laporkan kau ke pihak berwajib".


[ "Untuk apa?,pengalihan isu atas kasus Sambo, pengalihan isu atas kasus penyakit ginjal akut atau pengalihan isu atas kasus kerusuhan Kanjuruhan?"]


Lama renata menantikan jawaban,di sertai dengan ancaman.Tapi suara pria di sebrang sana seperti mengalihkan pertanyaan dan ancaman nya.


Renata, menjauhkan ponselnya dari telinganya, membelalakkan mata sembari melihat layar ponselnya, seakan tak percaya dengan sahutan dari orang di sebrang sana.