
"Oh iya,lupa sayang.Mungkin,paman terlalu banyak beban masalah".Kilah pak Budi,berusaha menyembunyikan masalah nya dari renata.
"Oh".Renata,hanya beroh ria.
Ada alasan khusus yang membuatnya mendatangi ruangan pamannya selain ingin membicarakan masalah masa depan Rania tapi dia juga ingin bertukar pendapat dengan pamannya mengenai keberlangsungan hidupnya dan mengenai rencana-rencana nya tentang pria yang telah merusak hidupnya.
Pada sang paman Renata,bisa bertukar pendapat dan bisa bercerita karena hanya kepada nya dia bisa mempercayai masalahnya.
Renata,menjadi pendiam pun karena ulah pria yang menghancurkan masa depannya dengan mem-blacklist namanya diantara seluruh perusahaan dan resto agar tak menerima dirinya.Dan hanya berkat pamannya dia mampu mendapatkan pekerjaan nya.
....
Deon,yang hampir ketahuan indentitas oleh Renata padahal dia belum bisa menaklukkan hati Renata yang memiliki benteng pertahanan yang kokoh,Sekokoh semen tiga roda.Sikap pendiam dan cueknya tak bisa di tembus dengan sikap bawel dan rewelnya.
Andai kata,dia tadi tidak melihat Renata yang berjalan dengan dua orang laki-laki rupawan dengan tubuh tegap bak bodyguard yang akan melindungi sang tuan putri dari ancaman musuh,sudah di pastikan indentitas dirinya terbongkar sebelum waktunya.
Deon, menghempaskan tubuhnya di sandaran kursi mobil,sembari melonggarkan dasinya yang terasa sesak.
"Bram, ambilkan aku air".Pinta Deon,sembari mengibas-kibaskan tangan.
"Gerah,tuan.Padahal cuaca sedang sejuk-sejuknya".Sahut Bram, melemparkan softdrink pada Deon.
Deon, menangkap softdrink yang di lemparkan oleh Bram ke arahnya."Gerah hati gue".Balas Deon,sembari membuka tutup softdrink.
"Why?".Tanya Bram,penasaran.Dia berbalik badan menghadap deon,yang duduk di kursi belakang.
"Jadi,Renata tau indentitas kamu yang sebenarnya!".Tanya Bram, begitu antusiasnya.
"Gak lah, hanya si tengil Budi saja yang tau indentitas asli gue".Kata Deon,merubah posisi duduknya.
"So?".
"Kepalang tanggung,aku akan mengadakan meeting dadakan untuk seluruh manager dan bahkan HRD yang bertanggungjawab mengelola perusahaan dan bisnis ku".Jelas Deon, Berapi-api sekali menjelaskan.Jelas terlihat di matanya,ada kilat kemarahan tertuju untuk pak Budi.
Bram,tau betul jika Deon sudah merasa kesal dan marah.Dia takkan kenal ampun,dia sedang berhadapan dengan siapa dan dengan titahnya itu pula.Bram sudah siap siaga, dengan alat tempurnya berupa laptop dan beberapa map.
Dia bisa di katakan karyawan handal,bisa di tempatkan dimana saja dan dalam posisi apa saja.Setelah mendengar keseluruhan cerita Deon dan juga titahnya,Bram siap siaga melancarkan aksinya.
"Bram Bramasta di lawan". Pujinya untuk dirinya sendiri.
Deon,tersenyum kala mendengar pujian Bram untuk dirinya sendiri.Jadi,dia tak merasa menyesal terhadap keputusan nya yang merekrut seorang Bram Bramasta,lulusan terbaik universitas gajah Mada.
"Semoga,kau tidak akan pernah mengecewakan ku,Bram".Harap Deon.
Saat Bram tengah berkutat, melaksanakan tugas nya.Deon malah seenaknya tertidur pulas,bak raja yang bisa memerintahkan dengan telunjuk jarinya saja.
"Dasar tuan kuasa dengan segala kekuasaan nya".Keluh Bram.