
Deon, dengan tingkat kepercayaan diri nya yang tinggi.Tersenyum begitu lebarnya kala Renata menghentikan langkah kakinya di saat dirinya berteriak dengan sekencang-kencangnya, mengungkapkan perasaannya terhadap renata dengan harapan Renata pun membalas teriakan nya,tanpa sadar dengan apa yang dia lakukan.
Renata,tersenyum sinis dengan teriakan Deon yang mengungkapkan perasaannya terhadap."Hah,tak tau diri sekali dia".Gumam Renata, dengan suara pelan agar Deon tak mendengar ucapannya.
Lama,Renata berdiam diri.Sengaja,dia melakukannya karena ingin melihat lebih jauh perilaku Deon terhadapnya.
Tak ada.Tak ada satupun yang berbicara apalagi bergerak.Baik Deon maupun Renata, keduanya kasih tetap bertahan dengan posisi mereka masing-masing tak beranjak walau sejengkal pun.
"Kenapa Renata masih diam berdiri begitu saja?".Gumam Deon,tak mengerti dengan sikap renata.
"Ah,sial kenapa pula aku harus diam mematung seperti ini".Gumam Renata, tanpa sadar dirinya malah berdiam diri.
Tadinya renata, hanya ingin bertahan sekitar 5 menit saja.Menunggu reaksi Deon terhadap sikap diamnya,tapi sampai menit ke-10 pun tak ada pergerakan darinya,atau sepatah katapun tidak.Memaksanya untuk terus berdiam diri,menanti reaksi Deon.
"Hah.."Renata menghembuskan napasnya,pegal rasanya menanti jawaban atau bahkan pergerakan dari pria yang tak pernah introspeksi diri.
Renata,sudah pasrah dan lelah.Toh,kebencian masih terpatri sangat jelas di hatinya tak mungkin bisa tergantikan dengan sebuah perasaan yang mungkin bisa kembali membuat mu terluka dan terjatuh di kubangan yang sama.
"Renata,aku mencintai mu".Teriak Deon, menginterupsi langkah kaki renata.
Renata,kembali menghentikan langkah kakinya.Dia tersenyum amat tipis,kalau pun tersenyum dengan lebar percuma.Deon,tak akan melihatnya.
"Hanya itu?".Tanya Deon,sebelum dia kehilangan jejak renata.
Renata,sudah terlanjur melenggangkan kakinya.Pergi dari ruangan Deon yang begitu terasa panas kendati ruangan di lengkapi oleh alat pendingin ruangan.
Brak
Renata,membanting pintu dengan kasar dan keras hingga menimbulkan bunyi yang cukup keras pula.Entah apa yang di rasakan oleh Renata,perasaan benci yang tak tersalurkan ataukah ada perasaan lain di dalam hatinya.
Yang pasti dan jelas,di balik pintu itu Renata menyandarkan tubuhnya ke daun pintu,sembari meneteskan air mata yang tak bisa dia bendung lagi untuk kedua kalinya.
Renata,memegang dadanya rasa sakit itu tiba-tiba menyerang hatinya yang terlanjur sakit dan kebencian masih ada dalam hatinya.
Munafik.Itu mungkin kata yang pantas untuk diri Renata,tak dapat dia pungkiri kecupan bibir Deon di pipi kiri dan pipi kanannya membuat dia merona,tersipu malu.Jujur saja,itu membuatnya luluh akan rasa bencinya terhadap Deon.
Rasa benci itu telah berubah menjadi rasa cinta terhadap Deon,namun terhalang oleh ego.Tqk dapat dia pungkiri dia luluh pada pengorbanan dan perjuangan Deon untuk mendapatkan cintanya.Yah, cintanya yang telah dia bentengi dengan sikap diamnya.
Munafik,mungkin memang dia orang yang munafik.Cinta,tapi benci,cinta tap terhalang ego.Itu pula yang mendasari dia untuk sesegera mungkin pergi dari ruangan Deon yang tiba-tiba panas.Terbakar oleh api kebencian dan juga rasa cinta yang terhalang oleh kilat api kemarahan tiada berkesudahan.