My Introvert Girl

My Introvert Girl
Part 74



"Selamat menikmati pemandangan luar yang luar binasa".Teriak Renata,tertawa cekikikan.


Alek dan Fahri menatap kepergian renata dengan tatapan geram.Bisa-bisanya mereka tertipu oleh si pramusaji pendiam.


"Wah,makin pinter yah mengecoh lawan".


"Bukan pinter tapi kalian nya aja yang mata keranjang".Sahut Sarah.


Bukannya menimpali ucapan Sarah,Fahri dan Alek malah kompak mengerutkan kening mereka seakan Sarah adalah pemain cadangan yang sok menguasai permainan,pahlawan kesiangan yang bantuannya saja tak di harapkan.Jangankan bantuan, kehadirannya saja tak di harapkan.


"Terimakasih atas nasehatnya,nyonya sok cantik".Ledek Fahri dan Alek, serempak.


"Kalian yah di kasih tau,malah terus-terusan ngebelain si renata".Keluh Sarah.


Fahri dan Alek, mengibaskan tangan mereka ke udara.Memilih pergi daripada harus meladeni ucapan Sarah.


Tidak ada yang kurang dari diri Sarah,wajah cantik,kulit seputih susu,bibir tipis dan mata bulat.Satu yang mereka sesalkan adalah sikap Sarah yang terlalu gatel terhadap laki-laki,berbeda dengan renata.Pramusaji pendiam dengan tingkat kecuekan nya diatas rata-rata.


Seperti kata fahri'orang pendiam lebih menantang daripada perempuan terbuka dan terlalu vulgar '.Mungkin itu pula yang mendasari mereka ingin menaklukkan mangsanya yang terkenal licik dan cerdas bak cerita dongeng si kancil dan buaya.


"Teman mu tuh,lek".Ledek Fahri pada Alek.


Tak terima Alek di samakan dengan Sarah bahkan di sejajarkan sebagai teman,Alek tak tinggal diam.


"Yah, cocoknya buat loe.Noh ambil kalau mau".Balik ledek Alek.


Kedua cowok ganteng dengan kisah asmara yang berbeda.Namun, memperebutkan cinta seorang pramusaji pendiam, bertingkah laku bak tom and Jerry dan sederet kisah mereka tak menjadikan mereka bermusuhan kendati mereka memperebutkan satu wanita.


Alek dan Fahri kembali melanjutkan pekerjaan mereka yang tertunda akibat suara lembut nan menentramkan, menyejukkan hati yang gersang dari suara indah milik Renata yang memanggil mereka berdua.


Di saat orang lain tengah melanjutkan pekerjaan mereka yang tertunda akibat adanya insiden kecil yang hampir menggemparkan cabang resto,tapi tidak dengan pak Budi.


Dia masih duduk termenung, memikirkan kejadian tadi yang menganggu pikirannya.Tentang seorang pria tampan yang menyamar sebagai karyawan nya,dia tak habis pikir dengan pria culun tapi berjiwa nekat.


"Bodoh..Bodoh..Bodoh,kenapa aku tidak menanyakan alasan dia menyamar?,apa motifnya?, siapa dia sebenarnya?". Sedari tadi pak Budi tak berhenti-henti nya menyalahkan diri sendiri atas kecerobohan dan kelalaiannya.


Di ruang kerjanya ini,diatas mejanya terpampang begitu nyata dan besar bertuliskan.'MANAGER',tapi dia sendi belum lah tau wajah asli dari pemilik asli cabang resto yang keberadaannya dan seluruh permasalahan nya di limpahkan kepada dirinya.


Sudah hampir 3 tahun ini dia menjabat sebagai seorang manager,sudah hampir 3 tahun pula dia belum pernah bersitatap dengan pemilik asli cabang resto yang dia kelola hanya untuk mengatur saja,bukan berarti menguasai.


Kata-kata Noel seakan terngiang-ngiang dalam pikirannya yang kusut,akibat memikirkan kejadian tadi belum lagi pikiran nya terus menerka-nerka siapa sosok pemilik cabang resto yang keberadaannya masih menjadi misteri.


'Kau hanya seorang manager,kau sama seperti karyawan lainnya mendapatkan gajih dari CEO'.


'Apa kau tau wajah pemilik asli cabang resto ini?'.


"Arghhhh".Teriak pak Budi,semakin kacau dan rumit pikiran nya.


Dia bangkit berdiri sambil mengacak-acak rambutnya,frustasi.Kata-kata itu telah merusak kesehatan mentalnya.