
Sinar mentari,menerobos masuk melalui celah-celah jendela yang transparan dan menghadap balkon,suara kicau burung begitu terdengar nyaring membangunkan jiwa-jiwa yang masih terlelap dalam tidurnya,Rania perlahan membuka matanya,masih terasa berat,apalagi di bagian kepalanya terasa pusing dan berat.
"Aw".Semakin di paksa,semakin terasa sakit di kepalanya.
Rania sampai-sampai memegangi kepalanya yang terasa pusing luar biasa tak tertahankan bak di hantam kapak bertubi-tubi tanpa bisa menolak.
Rania membuka matanya,dia menatap seluruh penjuru ruangan yang terasa aneh tapi tak asing baginya.Kaca transparan, langit-langit dinding berwarna hitam dan beberapa botol wine.
Rania,terlonjak kaget saat ingatannya kembali pada kejadian semalam,dimana dia telah meminum air mineral dari seorang pria tak di kenalnya dengan polosnya dia malah meminum air mineral itu tanpa menaruh curiga terhadap pria asing pemberi air mineral.
Pandangan matanya,menerawang kembali ke seluruh ruangan, mengamatinya dan menyibak kain selimut yang menutupi tubuh munggil.
"Apa yang sebenarnya terjadi?".Betapa terkejutnya dia saat dia mendapati dirinya dalam keadaan telanjang bulat tanpa sehelai benang pun yang menempel dalam tubuhnya.
Dia terduduk diam buliran air kristal bening membasahi pipi Rania,dia tak sanggup membayangkan apa yang sudah terjadi dalam hidupnya.Kemarin,dia tak punya firasat sedikitpun mengenai nasibnya yang di lecehkan oleh pria hidung belang.
Dia peluk lututnya,menangis tersedu-sedu dalam pelukan lututnya tak sanggup menahan kesedihan dan luka hati.Yang dia pikirkan bukan hanya dirinya,tetapi Renata.
Yah,Renata sang kakak yang mendapatkan tangung jawab dan amanah dalam menjaganya,tapi dirinya lah yang merusak amanah yang di berikan orang tuanya kepada sang kakak.
Rania semakin terisak sedih,kala pikiran negatif terus menghantuinya,takut akan kemurkaan sang kakak bila mengetahui musibah yang dia alami dan pandangan masyarakat mengenai dirinya.
Renata,sang kakak pernah mewanti-wanti dirinya agar menjaga diri, kehormatan dan juga nama baik orang tua mereka.Tapi,hari ini?,dia bahkan tak bisa menjaga dirinya dan juga kehormatannya.
Kakaknya yang sedari dulu berjuang menghidupi dirinya dan biaya sekolahnya.Rela mengesampingkan keinginan nya demi masa depannya,tapi dirinya sendiri yang merusak masa depan dan bahkan kesuciannya telah ternoda.
"Kak".Rania tak henti-hentinya menangis, sesekali dia memukul-mukul kepalanya merasa bodoh dan hina.
Lama Rania,menangis sembari memeluk lututnya seakan dia tak ingin beranjak sedikitpun dari kamar yang penuh hina dannida.Kesucian dan kehormatan nya terampas oleh pria asing dan tak bertanggung jawab semua itu atas kebodohan dan kecerobohan nya.
Terhitung sudah 2 jam dia duduk sembari memeluk lututnya.Menangisi nasibnya dan juga masa depannya yang entah akan seperti apa.Masa depan yang dia rusak sendiri.
Rasa nyeri di sekujur tubuhnya belum lagi kepalanya yang terasa pusing luar biasa,dia masih menangisi hidupnya, meratapi nasibnya yang tak tau akan kemana arah dan tujuannya.
Rania,tidur telentang menutupi seluruh muka dan tubuhnya dengan kain selimut,seiring dengan tangisannya yang semakin lama semakin menjadi.Tak bisa dia bayangkan kehidupannya, terutama kakaknya.Renata Kusuma Atmaja.
Rasa lelah,pusing belum lagi matanya yang perih perlahan Rania tertidur kembali.Berharap ini hanya sebuah mimpi buruk yang kebetulan terasa nyata
"Renata".Gumam Rania,sebelum akhirnya dia kembali ke alam mimpi melanjutkan bunga tidur nya yang tertunda.