My Introvert Girl

My Introvert Girl
Part 94



Begitu Renata,menutup pintu ruang manager yang dulu di tempati oleh pamannya sendiri kini berubah menjadi kandang harimau.Tempat yang dulu nyaman untuk dia berkeluh kesah, sekarang yang ada hanya bahaya yang siap mengintai kehidupan nya.


Renata,memegang dadanya sembari terduduk.Merasakan sakit yang tak tertahankan, kesempatan untuk membalaskan dendam nya,kini sirna di makan waktu seiring kebenciannya yang besar namun tak sempat membalaskan nya.


"Apa sesakit ini menyimpan kebencian pada orang yang bahkan dia pernah menyelamatkan hidup mu?". Kebimbangan telah menguasai diri renata,bimbang memilih antara membalasnya atau melupakan nya.


Dia pejamkan mata sebentar,dan membuka nya di menit selanjutnya.Dia coba meredam emosi nya sendiri,tak baik terus meratapi nasibnya yang sudah menjadi bubur.


Dia bangkit berdiri,sembari menghapus jejak air matanya yang tadi sempat menetes akibat tak kuat menahan rasa amarahnya.


"Come on, renata.Lupakan yang sudah terjadi,bangkit dan terus berjuang lah". Motivasinya pada dirinya sendiri,agar tak berlarut-larut dalam kesedihan,kembali merangkai asa dan harapan.


"Semangat". Kata nya lagi,sembari berlalu pergi meninggalkan ruangan yang katanya sudah berubah menjadi kandang harimau.


Sedang,Deon dia terlihat duduk lesu sembari memijat keningnya.Meratapi kebodohan dan kecerobohan nya atas sikapnya yang tergesa-gesa hanya ingin mendapatkan hati seorang pramusaji pendiam dalam waktu singkat, sesingkat-singkatnya.


Dia juga sama merasakan menyesal.Menyesal karena tidak mendengarkan nasehat Bram yang memintanya bersabar dan tetap menjadi karyawan rendahan.Toh,Renata juga tidak akan tau tentang penyamarannya seandainya dia sendiri tidak membuka kedoknya sendiri.


Seperti Deon dan renata mempunyai kesamaan dalam hal melupakan masalahnya, mencerna nya dengan baik dan menjadikannya sebagai bahan pembelajaran untuk ke depannya.


Deon,sudah di sibukkan dengan agenda meetingnya dengan beberapa client nya yang Sedari tadi sudah siap mengadakan meeting dadakan bersama bog bos mereka.


Renata bekerja seperti biasanya, mengantarkan menu makanan pada pelanggan yang datang silih berganti,setiap waktunya terus ada kalau pun tak ada dia tetap harus bekerja tak bisa berdiam diri begitu saja.Apalagi dia punya dua pengikut setia,setiap saat menganggu waktunya.Seperti saat ini,waktu senggang mereka,waktu yang di gunakan untuk beristirahat sejenak.


"Re,ntar malem pulang bareng sama aku lahap kan?".Tanya Alek,begitu antusiasnya.


Renata yang hendak menyuapkan makanan ke dalam mulutnya sampai terhenti demi mendengar pertanyaan antusias dari Alek.


Alek,mendesah kecewa.Berharap sang primadona mau diajak pulang bareng, seperti kemarin malam.Entah,angin darimana mendadak Renata menawarkan diri.


"Padahal aku berharap nya,kamu mau pulang bareng".


"Jangan re".Fahri,ikut nimbrung pembicaraan Renata dan Alek."Jangan mau yang kedua kalinya cukup satu kali aja".


"Daripada sama,dia ntar kamu di amukin sama bini orang".Hasut Alek,tak mau kalah.


Fahri melayangkan tatapan tajamnya pada Alek.Seenaknya aja rival berantemnya menganggu usahanya, menjelekkan namanya di depan Renata pula.


Alek,malah menjulurkan lidahnya merasa puas karena dia sudah mempermalukan Fahri di hadapan renata.


"Heh buaya darat,loe jangan berani-berani nya menganggu usaha gue.Kayak gak ada kerjaan aja loe".


"Emang gak ada, dirinya sendiri daritadi gangguin gue terus".


"Gue lagi usaha,biar sukses kayak loe".


"Gak bakalan".


Kedua pria itu masih asyik berdebat, memperebutkan merpati putih mereka.Renata merasa terganggu dengan perdebatan tak penting dari kedua pengikut setianya.


Di balik kaca,dapat Deon lihat wanitanya merasa terganggu akibat ulah dari kedua pria yang sedang berebut mendapatkan hati seorang pramusaji pendiam.


"Haruskah aku juga sama seperti mereka?,saling merendahkan demi mendapatkan perhatian lebih dari Renata?".Tanya Deon pada diri sendiri.