
Deon,menarik tangan Sarah dengan kasar,dan menyeret paksa dirinya menuju sebuah ruangan dengan meninggalkan Renata di tempat.
Yah,Renata tentu saja tak melawan sebab dirinya berada di tempat lain.Jiwanya saja yang ada disana,tapi pikiran nya melanglang buana ke tempat lain.
Dirinya tersadar saat tubuhnya tak sengaja menabrak tubuh Deon yang ada di rangkulan Sarah,dan tarikan di rambutnya yang kuat memaksa sukma-sukma nya untuk kembali lagi ke raganya.
"Ternyata dunia nyata lebih sakit daripada dunia khayalan".Gumam Renata, meringis kesakitan.
Kejadian itu tak terlihat oleh Alek,Fahri atau bahkan karyawan lainnya sebab kejadiannya berada di tempat yang jarang terjamah oleh karyawan lain bahkan pelanggan pun banyaknya tidak mengetahuinya.
Renata merapihkan rambutnya yang sedikit berantakan,dia sanggul ulang rambut panjang nan hitamnya sebelum dia kembali bekerja.Tentu,dia harus berpenampilan rapih dan menarik,agar pelanggan pun tak merasa risih.
"Ngomong-ngomong,kenapa si kutu kupret Deon di papah sama si Sarah, tanpa menolak apalagi risih". Pertanyaan itu tiba-tiba menghampiri pikiran Renata yang sudah kembali tersadar.
Renata,menoleh ke belakang siapa tau di belakang ada deon untuk dia mintai keterangan.
Mendadak Renata, menatap lagi ke depan.Tersadar kembali dengan apa yang dia pikirkan.
"Lupakan Renata,dia bukan siapa-siapa kamu kan?,ingat dia yang sudah menghancurkan hidup mu.So, berhenti peduli pada orang yang bahkan tega menghancurkan hidup mu". Beberapa kali Renata harus berperang batin dan pikiran.
Dia kembali melanjutkan pekerjaannya,berhenti memikirkan Rania apalagi Deon.Menyibukkan diri dan menjadi super aktif agar dia bisa sedikit melupakan masalahnya.
......
"Bagaimana,semua sudah sesuai rencana".
("......")
"Baik,kau tetap bersembunyi dan jangan pernah menampakkan diri mu di hadapannya,atau kau\_".
(".....")
Entah siapa dan masalah apa yang tengah di hadapi oleh Deon, bahkan Bram pun tak tau menahu tentang masalah yang di hadapi oleh tuannya.
Deon dan Bram,tengah berada di ruangan Deon.Duduk saling berhadap-hadapan.Dimana Deon tengah terlibat pembicaraan di balik ponselnya sedang Bram,tengah mengamati Deon.
"Sudah mencapai finis".Kata Deon,sembari menghembuskan napas nya.
"Apanya yang sudah mencapai finis?".
Deon,menoleh kearah sumber suara.Dia lupa ada Bram di ruangan nya bahkan tengah duduk di hadapannya, dengan pandangan nya tak lepas dari dirinya.
"Kau..Kau sejak kapan disini?".
"Sejak dunia ini di bentuk,yah dari satu jam yang lalu lah".Sahut Bram,menatap sinis.
Deon, melemparkan berkas tepat kearah wajah Bram."Baca dan selidiki.Aky gak mau tau dalam waktu dekat ini, informasi itu harus kau dapatkan".Perintah Deon, tanpa basa-basi.
Bram, yang menangkap berkas dari Deon.Membuka dan membaca berkas sekilas."DAVID ARTAMA".Nama seseorang yang tak asing baginya,tercetak dengan huruf besar dan memenuhi kolom berkas.
"David Artama".
"Yah,dia Daddy ku,sorry mantan maksud ku.Kau selidik dia, kehidupannya dan rencana-rencana nya dalam waktu singkat".Jelas Deon.
Bram, bukannya menjawab perintah Deon,dia malah mengerutkan keningnya.Bukan,tidak mengerti dengan perintah Deon melainkan kata'mantan daddy',itu yang menggangu pikirannya.
"Setau ku tidak ada mantan Daddy,tidak ada pula mantan anak yang ada adalah mantan kekasih".
Deg
Deon,yang tadinya fokus terhadap layar laptop nya.Dia mendongak menatap Bram.