
Rania,mendelik sebal kalau sudah seperti ini dirinya tak bisa berbuat apa-apa.Kata-kata hinaan berbalut kata pujian selalu dia berikan agar dirinya diam tak bersuara lagi.Patuh terhadap perintah nya seperti hewan peliharaannya,terkurung dalam sangkar besi tanpa ada yang bisa membebaskannya dan terjebak dalam permainan yang dia ciptakan.
"Aku selalu hebat dalam menjalani hidup ku,luar biasa bisa bertahan di sangkar besi dan selalu pintar mencari celah agar bisa terbebas dari sangkar besi yang kau ciptakan".Skak Rania.
Pria itu, menghampiri Rania yang menatapnya dengan kilat kebencian.Di akuinya bahwa Rania dan Renata, memiliki perbedaan sikap yang signifikan.
"Kau,berani melawan ku?".Tanya pria itu, seakan menantang dirinya.
Rania, bangkit berdiri.Jelas dia tidak boleh berdiam diri begitu saja menghadapi pria dengan kekuasaannya mampu mengendalikan seluruh aspek kehidupan orang lain dan dengan jari telunjuknya semua tunduk patuh terhadap perintah nya.
"Kau pikir aku takut?,kau pikir aku sama seperti kakak ku yang depresi hingga nyaris melakukan percobaan bunuh diri hingga kau datang sebagai pahlawan kesiangan?,tidak.Tidak tuan kuasa,aku yah aku.Diri ku berbeda dengan kakak ku yang kau pikir lemah".Gertak Rania, memelotot tajam.
Plak
Sebuah tamparan berhasil mendarat di pipi kiri Rania dengan cukup keras hingga terdengar suara kulit bertemu kulit.
Perih,itu yang di rasakan oleh rania.Mendapatksn sebuah tamparan yang cukup keras dan kuat hingga dirinya terduduk lesu,sembari mengusap pipinya yang merah menyala dan sudut bibirnya mengeluarkan darah segar.
"Itu,akibat kau melawan ku.Sudah aku peringatkan bukan?,agar kau menjaga ucapan mu kalau kau tak ingin menerima konsekuensinya". Peringat pria itu dengan tegas.
Rania,tak berkutik dengan tamparan keras dari si tuan kuasanya.Selama ini dia mendapatkan perlakuan kasar dari si tuan kuasa tanpa ampun dan membabi buta.
Dalam hati Rania,menangisi nasibnya.Tapi,tak mampu menyalahkan sang kakak atas nasib sial yang menimpa dirinya.
Brak
Dengan kasar nya,pria itu membanting pintu setelah emosinya terlampiaskan pria itu selalu pergi dengan meninggalkan jejak luka di tubuhnya,menutup pintu pun tak bisa dengan cara baik-baik.Entah,dia iblis atau manusia.Jelas,bagi Rania dia bukanlah manusia.
"Hiks ..Hiks...Hiks .."Rania menangis sesenggukan di bawah gemerlap cahaya bintang yang saling berkedip.
Luka hati dan fisik sudah dia terima selama berhari-hari.Rindu tiada tersalurkan,sakit fisik yang semakin lama, semakin terasa banyak dan lelah jiwa tiada akhir.
Pernah dia bertemu dengan renata, tepatnya hanya mengawasi dari kejauhan sempat bertemu dan bersitatap sayangnya sang kakak menganggap nya sebagai mahkluk astral dan dirinya tentu tak bisa berhamburan memeluk tubuh yang dia rindukan.
Danau buatan, adalah tempat pertama dia bertemu dengan sang kakak.Itu pun karena si tuan kuasa nya lengah dan tempat kedua,tentu rumahnya dan lagi faktor keberuntungan yang membawa dirinya bisa melihat dan bertemu walau sebentar dengan sang kakak.
"Kak,apa sesakit ini ketika hidup mu di kendalikan oleh orang yang berkuasa?,apa yang sudah kau lalui dan hadapi melawan kedzaliman si tuan kuasa sombong dan temperamen ini?".Tanya Rania,pada angin lalu.
Dirinya tak dapat membayangkan kehidupan sang kakak kala bertemu dan di hancurkan oleh si tuan kuasa berhati dingin.