
"Hah".Renata menghembuskan napasnya,sedari tadi dia menahan napasnya sebab wajahnya terlalu dekat dengan wajah Deon.
"Lain kali gak usah usil".Peringat Deon,kembali fokus ke layar laptopnya.
"Gimana gak usil sedang anda tadi memanggil saya untuk ke ruangan anda,tapi apa ini?,anda hanya sibuk dengan laptop anda".
"Lalu?".Tanya Deon,menoleh kearah Renata.
Jika menurutkan kata hati,Renata ingin sekali menampar wajah rupawan nan mempesona.
"Aku juga punya pekerjaan dan pekerjaan ku bukan menemani anda".
"Lalu?".Terus saja begitu,Deon memang sengaja memancing emosi renata.
Kesal dengan tingkah laku Deon yang seperti mempermainkan dirinya,Renata berlalu pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun.Sedang Deon,tersenyum mengiringi kepergian renata.
"Apa-apaan ini".Gerutu Renata,sembari melangkah pergi menjauh dari diri Deon.
Tak ada dalam pikirannya bahwa dia terjebak oleh permainan Deon,dia juga tak menyangka dia mau menuruti perintah Deon.
"Harusnya tadi tuh aku tolak saja dengan berbagai alasan.Bodoh,kau memang bodoh renata".Renata merutuki kebodohannya sendiri.
Dia kembali melanjutkan pekerjaannya yang terganggu oleh perintah Deon tapi sebenarnya dia hanya berniat mempermainkan nya bukan memberikan perintah.
Renata,tak semangat menjalani harinya.Hatinya gelisah dan pikirannya melanglang buana,entah kemana.Terlalu di sibukkan dengan mencemaskan keadaan Rania yang belum kunjung pulang.
Pikirannya kosong, kerjanya tak konsentrasi.Daritadi Renata terus melamun,tak beranjak dari meja kasir sedikitpun.
"Re".Panggil Alek,menyentuh pundak Renata.
Tak ada jawaban,Renata masih terbawa oleh situasi dan pikiran yang membawanya jauh dari dunia nyata.
Alek yang bermaksud memberitahu jika makanan yang di pesan sudah selesai,tinggal Renata mengantarkan makanan ke meja pelanggan.Dia terhenti, begitu mendapati Renata dalam keadaan melamun.
"Yah".Sahut Renata,gelagapan.
"Kamu sedang memikirkan apa?,daritadi aku perhatikan kamu melamun terus,gak seperti Renata yang aku kenal".
Renata mengusap wajahnya dengan telapak tangan nya mencoba menyadarkan diri sendiri dari pikiran kosongnya.
Benar kata Alek,dia memang tengah melamun karena memikirkan keadaan Rania yang tak kunjung pulang, memberi kabar pun tidak.
"Oh yah,mungkin aku kurang tidur kali".Seulas senyum dia berikan pada Alek,agar tak menaruh curiga.
Alek membalas senyuman manis renata yang baru dia dapatkan selama perjuangannya mendapatkan hati pramusaji pendiam nya.
"Kalau ada apa-apa?, jangan segan membaginya dengan ku".Pinta Alek,mengelus puncak kepala renata."Dan ini,menu makanan yang harus kamu hantarkan".Jelas Alek, menyodorkan baku berisi menu makanan.
Renata, menganggukkan kepala.Paham dengan pekerjaannya,tanpa berbicara lagi Renata melenggang pergi kembali ke rutinitas nya.
"Renata,Renata".Alek berkacak pinggang,menatap kepergian renata yang bahkan dia tak mengucapkan rasa terimakasih nya.
Renata,masih berada di alam bawah sadarnya.Dia memberikan seulas senyum untuk Alek pun dia tak menyadarinya saking pikiran nya belum terkumpul semua.
Selama bekerja pikiran Renata terbagi-bagi,antara fokus di kerjaan nya dan juga mengkhawatirkan keberadaan adiknya.Sudah sedari tadi pula,dia salah mengantarkan menu makanan pada pelanggan.
"Mbak,saya pesanan nya ice lemon sama steak daging sapi bukan ikan gurame". Protes pelanggan.
"Iya,maaf mbak".Sahut Renata,sembari menunduk malu.
Ini bukan yang pertama kalinya,tapi sudah ke-10 kalinya dia melakukan kesalahan-kesalahan.Sedang,Deon yang sedari tadi pula memperhatikan kinerja kerja renata.Dia bergeleng-geleng kepala.
"Entah apa yang terjadi dengan gadis tengil itu?".Keluh Deon sembari menepuk jidatnya.
Begitu pula dengan Alek,dia juga sama halnya dengan Deon merasa aneh dengan diri Renata yang tak biasanya melakukan kesalahan-kesalahan.Biasanya dia selalu bekerja dengan cekatan,tanpa kesalahan,tanpa noda.