
"Lalu bagaimana sekarang?" Tanya mereka berdua secara kompak.
"Haishhh"
"Ada apa uncle?" Tanya seseorang yang baru saja datang dengan langsung mendekatkan dirinya ke arah Aldo dan Zayyann.
"Al, kau pulang juga" Tanya Zayyann dengan menatap wajah tampan milik Alvaro, yups jadi yang datang adalah Alvaro.
"Hmmm, Aku berniat untuk makan siang disini saja" Jawab Alvaro dengan santai lalu mengambil salah satu kursi meja makan dan duduk.
"Kau seharusnya tidak pulang Al" Tutur Zayyann yang membuat Alvaro mengerutkan keningnya karena merasa kebingungan dengan perkataan yang di lontarkan Zayyann kepadanya.
"Mengapa begitu? Tunggu... Mengapa disini belum ada satupun makanan?" Tanya balik Alvaro dengan raut wajah kebingungan.
"Itulah masalahnya"
"Semua orang pergi menuju mansion Williams bersama, bahkan seluruh pembantu ikut kesana... Dan masalahnya tidak ada satupun dari mereka yang menyiapkan makan siang terlebih dahulu" Kesal Zayyann.
"Lalu bagaimana sekarang? Apakah kita harus pergi mencari makan diluar" Tanya Alvaro menghembuskan nafasnya dengan berat.
"Daddy tidak suka makan diluar uncle" Sahut Aldo yang sedari tadi diam.
"Al, apa kau bisa masak?" Tanya Zayyann yang membuat kedua orang yang bernam Al menjawab secara bersamaan.
"Aku tidak bisa Uncle"
"Aku tidak bisa daddy"
"Boy, daddy tidak bertanya padamu" Tutur Zayyann.
"Uncle, Al, suamiku, ada apa dengan kalian?" Panggil seseorang yang baru saja turun dari lantai atas, siapa lagi jika bukan Queena.
"Anna"
"Kau tidak ikut pergi bersama yang lain?" Tanya Alvaro dengan menghampiri istrinya itu yang masih berada diatas tangga. Lalu Alvaro pun perlahan turun dari tangga bersama Queena.
"Tidak! Mereka semua tidak ada yang memberitahuku" Jawab Queena dengan perlahan duduk di dekat kursi makan milik Alvaro.
"Anna bisakah kau masak? Uncle dan yang lainnya sudah sangat lapar sedari tadi" Celetuk Zayyann dengan meminta kepada Queena.
"Kalian belum makan siang? Apa tidak ada yang membuatkan makanan untuk kalian?" Tanya Queena yang mendapat gelengan kepala dari semuanya.
"Baiklah"
"Aku akan menemanimu" Ucap Alvaro kepada Queena sang istri yang baru berniat berdiri dari kursinya.
"Terimakasih" Balas Queena dengan tersenyum manis.
"Aunty, aku akan ikut juga bersamamu" Sahut Aldo dengan turun dari pangkuan sang daddy.
"Baiklah"
"Uncle juga akan menemanimu" Celetuk Zayyann juga.
"Yasudah, mari kita membuat sesuatu." Ujar Queena dengan tersenyum lalu diangguki yang lainnya.
...Dapur...
"Kalian ingin makan apa?" Tanya Queena dengan menatap ketiganya.
"Seperti biasa saja sayang" Jawab Alvaro yang diangguki Zayyann dan Aldo karena bagaimanapun mereka bertiga sudah benar-benar lapar.
"Baiklah"
"Uncle, bisakah kau membantuku memotong bawang? Dan kau suamiku bisakah kau membantuku menyuci sayuran ini? Dan kau Al, bisakah kau mengambilkan beberapa bumbu dapur di lemari yang ada didekatmu?" Tanya Queena dengan meminta.
"Baiklah" Jawab mereka serempak.
"Anna, bagaimana caranya memotong bawang ini?" Tanya Zayyann yang tidak tau.
"Kau cukup memotongnya seperti ini saja uncle" Ujar Queena.
"Sayang, apa ini sudah?" Tanya Alvaro dengan memperlihatkan sayuran yang telah dicucinya.
"Suamiku mengapa tiba-tiba sayuran yang aku berikan kepadamu menjadi sangat sedikit?" Tanya Queena yang merasa aneh, padahal jelas-jelas ia tapi memberikan sayuran yang sedikit agak banyak tapi mengapa setelah dicuci oleh suaminya malah menjadi sangat sedikit.
"Sebagian aku membuangnya" Jawab Alvaro dengan santainya.
"Karena sayuran yang aku buang sudah berlubang dan tidak layak digunakan bagiku" Ucap Alvaro, Queenapun langsung saja melihat kearah tong sampah yang berada didekat suaminya itu.
"Suamiku! Sayuran memang seperti itu... Ia bukan tidak layak digunakan tapi memang sayuran itu seperti itu" Ujar Queena dengan menepuk jidatnya.
"Aku akan membelinya yang baru nanti! Yang jelas tidak akan ada lubang-lubang kecil seperti itu" Tunjuk Alvaro kearah tempat sampah yang berisi sayuran yang ia buang tadi.
"Terserah kau sajalah suamiku" Pasrah Queena lalu melanjutkan masaknya.
"Aunty"
"Ya, Al"
"Bukankah ini Gula? Mengapa tadi aku mencicipinya seperti rasa garam! Sangat asin" Tanya Aldo dengan memberikan tempat bumbu Garam kepada Queena.
"Berapa banyak yang kau makan?" Tanya Queena dengan menahan tawanya.
"Satu setengah sendok susu yang biasa aku minum" Jawab Aldo yang mendapat gelak tawa Queena dan yang lainnya.
"Hahahaha, Al! Hahaha... Apa kau tau? Ini bukan gula tapi melainkan ini garam! Memang gula dan garam terlihat sama tapi rasanya berbeda" Tawa Queena.
"Aunty bisakah kau berhenti tertawa? Bisakah kau menghilangkan rasa asin yang masih melekat di lidahku?" Kata Aldo yang masih merasakan asin di lidahnya.
"Tunggu sebentar, aunty akan membuatkan susu yang biasa kau minum, agar rasa asin yang masih berada di dalam lidahmu hilang" Tutur Queena lalu pergi membuatkan susu untuk Aldo terlebih dahulu.
"Nihh, minumlah" Titah Queena dengan memberikan susu yang biasa Aldo minum.
"Terimakasih aunty" Balas Aldo lalu dengan segera meminum susu tersebut.
"Haishhh, hikssss... Bawang ini sepertinya mempunyai dendam denganku" Kesal Zayyann.
"Hahahahah, uncle kau mengapa menangis?" Tawa Queena dengan keras karena untuk pertama kalinya ia melihat unclenya itu menangis, bukan menangis sihh lebih tepatnya mengeluarkan air mata karena memotong bawang.
"Bukan menangis Anna, Ini karena bawang ini... Sepertinya bawang ini mempunyai dendam terhadap uncle" Kata Zayyann.
"Bawang ini tidak ada dendam uncle, sepertinya mata uncle kotor makanya bawang ini membersihkan mata uncle hingga membuat uncle mengeluarkan air mata, tapi sebenarnya ini bagus untuk mata yang kotor uncle seperti kau" Tutur Queena dengan tertawa kecil.
"Mana ada! Uncle ini sangat rutin membersihkan mata maupun yang lainnya, memang pada dasarnya bawang ini saja yang tidak menyukai uncle" Elak Zayyann mentah-mentah.
'Mataku hanya ku gunakan untuk melihat tubuh cantik istriku saja masa bisa kotor? Alea-kan istriku masa iya aku tidak boleh melihat tubuh cantik dan mulus istriku?itu, memang pada dasarnya saja bawang ini tidak menyukaiku' Batin Zayyann yang mengedumel perihal bawang yang ia potong itu.
"Auntyyyy!"
"Aku sudah lapar" Teriak Aldo yang geregetan karena melihat Queena dan Zayyann sang daddy terus saja berbicaraaa.
"Boy, tidak baik berteriak kepada aunty" Nasihat Zayyann kepada putranya itu.
"Maaf"
"Tapi aunty aku sudah lapar! Bisakah kau percepat pergerakan masakmu? Cacing-cacing diperutku sudah mulai berperang" Pinta Aldo dengan cemberut.
"Sebentar lagi Al! Kau tunggu saja di meja makan, Sebentar lagi aunty akan datang kesana" Ujar Queena yang diangguki oleh Aldo.
"Baiklah aunty"
...Skippppp......
...15 menit kemudian......
...Ruang Makan...
"Al, Makanlah" Titah Queena yang baru saja selesai masak setelah sekian abad.
"Aku akan memulainya duluan! Aku sudah lapar" Kata Aldo dengan mengambil makanan yang baru saja selesai di masak.
"Pelan-pelan saja Al! Ini masih panas" Ingat Queena terhadap si kecil Aldo.
"Yaa, aunty"
"Suamiku, berikan piring mu. Aku akan mengambilkan makanan untukmu" Titah Queena terhadap Alvaro.
"Tidak perlu sayang, qku akan mengambil sendiri sebaiknya kau makan duluan, aku tidak ingin membuat anak-anakku kelaparan didalam sinj" Tunjuk Alvaro kepada perut rata milik istrinya itu.
"Baiklahh, terimakasih"
"Sama-sama sayang"