My First Love Is My Wife

My First Love Is My Wife
S2: Kedatangan Austin



"Mengapa tuan Alkenzo berada di ruangan Alkenzie? Bukankah kondisi nya saat ini masih belum benar-benar pulih? Apalagi ia baru saja membaik tapi mengapa ia malah berada disini dan bukan di rumah sakit" Gumam Zanitha dengan berjalan perlahan setelah keluar dari ruangan Alkenzie.


"Apakah kondisi nya sudah lebih membaik? Tapi... Wajahnya masih sangat terlihat pucat seperti tidak ada darah yang mengalir ditubuhnya. Haisss" Lirih Zanitha pelan.


"Ahh sudahlah. Sebaiknya aku kembali bekerja saja, Aku harus cepat-cepat mengembalikan berkas dokumen ini" Tutur Zanitha lalu kembali melanjutkan jalannya dengan cepat menuju ruangan manager Vivian.


...*****...


"Kakak ini, baru saja sembuh sudah pergi-pergi'an. Bagaimana jika demam nya kembali naik?" Ucap Brianna yang kini tengah memarkirkan mobil miliknya.


"Ohh, dimana masker ku? Jika aku masuk tanpa menggunakan masker maka wajahku akan terlihat bukan? Aku tidak mau karyawan-karyawan kakak mengetahui wajah cantik ku ini" Kata Brianna, Setelah mendapatkan apa yang ia inginkan.


Brianna pun langsung saja turun dari mobil setelah selesai memarkirkan mobilnya, ketika ia hendak pergi masuk menuju perusahaan. Tiba-tiba saja dirinya ditarik oleh seseorang dari arah sampingnya hingga membuat Brianna terkejut atas tindakan seseorang yang menarik nya itu.


Untungnya ketika keseimbangan tubuhnya hilang ia tidak jatuh, karena orang yang menarik pergelangan tangannya tadi langsung saja siap siaga memeluknya jadi ia tidak terjatuh ke bawah.


Ketika melihat siapa yang menarik pergelangan tangannya, Brianna pun terkejut dengan apa yang ia lihat. Dimana seseorang yang menarik pergelangan tangannya itu adalah seseorang yang sangat amat ia benci. Brianna seketika pun memberontak tapi sayangnya tenaga orang tersebut lebih besar darinya.


Austin? Yaapss, dia adalah Austin. Pria tampan yang berasal dari negara filandia itu. Dimana pria tersebut adalah mantan kekasih dari seorang Brianna Dirgantara.


"K--kauu. Lepaskan aku" Terkejut Brianna dengan memberontak meminta untuk dilepaskan dari pelukan Austin.


"Tidak. Sebelum kau mau memaafkan aku, Bria" Jawab Austin dengan mengeratkan pelukannya.


"Lepaskan aku brengsek. Lepaskan!!" Bentak Brianna dengan memukul-mukul dada bidang milik Austin.


"Maafkan aku"


"Tidak akan pernah. Setelah apa yang kau perbuat dengan diriku, itu sangatlah mustahil bagi diriku untuk memaafkan kesalahan yang sudah kau perbuat" Balas Brianna dengan menatap benci wajah tampan Austin.


"Aku memang bekerja sama dengan Elena tapi rencana tentang dirimu aku benar-benar tidak mengetahuinya, aku berada dikamar hotel saat itu karena aku ingin menanyakan dimana kau berada. Karena Elena sendiri mengatkan padaku bahwa rencana nya sudah dijalankan. Dan pada saat itu kau datang dengan.... Dengan kondisi keadaan yang... Haaaaahhhh tidak bisa dijelaskan" Jelas Austin kembali dengan menatap lirih wajah Brianna wanita yang ia cintai itu.


"Penjelasan mu tidak akan cukup bagiku, kecuali kau menunjukkan bukti yang sesungguhnya kepadaku. Mungkin saja aku bisa memaafkan dirimu tapi... Untuk kembali dengan mu jangan harap" Jawab Brianna.


"Bukti? Aku sudah ada, kau ingin bukti maka lihat-lah ini dengan baik. Aku harap kau akan bisa memaafkan ku" Tutur Austin dengan perlahan mengeluarkan handphone miliknya, tapi satu tangannya masih memeluk erat tubuh Brianna agar Brianna tidak bisa kabur.


"Lihat ini" Tunjuk Austin dengan memberikan seluruh bukti tentang dirinya yang tidak ikut serta dalam rencana beberapa tahun yang lalu kepada Brianna.


Austin yang melihat reaksi dari Brianna pun kian tersenyum manis, dan berkata apakah Brianna sudah mempercayai dirinya atau belum. Jika belum... Maka ia akan menunjukkan kembali bukti-bukti yang lainnya kepada Brianna wanita cantik yang sangat amat ia cintai itu.


"Percayalah padaku. Aku sudah menunjukkan sebuah bukti kepadamu seperti yang kau inginkan" Kata Austin kembali.


"....."


"Maafkan aku! Aku sudah salah paham terhadapmu, Dan aku... Aku akan memaafkan mu. Tapi jika kau meminta untuk kembali padaku, maka aku akan menjawab dengan tegas "Maaf aku tidak bisa" walaupun kau tidak ikut serta dalam rencana pemer**saan ku tapi kau tetap masih terlibat dalam rencana yang lainnya. Aku harap kau mengerti dan tidak lagi mengejar ku" Ujar Brianna dengan kembali berusaha melepaskan dirinya.


Setelah berhasil lepas dari genggaman Austin, Brianna pun langsung saja pergi berjalan untuk memasuki perushaan. Tapi Austin lagi dan lagi menarik pergelangan tangan dan menghentikan pergerakannya.


"Tidak peduli seberapa susah nya aku mendapatkan cinta mu kembali, aku akan tetap berusaha berjuang membaut mu kembali mencintai ku. Tapi tolong... Jangan pergi dengan laki-laki yang sudah dijodohkan oleh daddy-mu" Pinta Austin dengan menatap lirih wajah Brianna.


'Apa yang dimaksud laki-laki yang akan dijodohkan denganku? Siapa yang mengatakannya kepada Austin? Aku sendiri saja bahkan tidak tau menahu mengenai laki-laki tersebut yang mana ia katakan tadi' Batin Brianna.


"Laki-laki apa?" Tanya Brianna dengan mengerukan keningnya.


"Laki-laki yang kakak mu katakan padaku! Ia mengatakan padaku bahwa kau telah di jodohkan oleh laki-laki lain, dan kakak mu mengatkan bahwa daddy mu yang telah mengaturnya untukmu" Jawab Austin.


"Aku tidak tau menahu tentang perjodohan apa yang kau maksud, aku hanya akan berdoa untukmu saja. Agar kau bisa kembali mengambil hatiku yang sudah lama membeku, aku harap kau bisa mencarikannya kembali" Terang Brianna dengan langsung saja pergi setelah mengatakan hal tersebut.


"Kau kembali memberikan lampu hijau kepadaku? Bria" Tanya Austin dengan sedikit berteriak kepada Brianna, Karena dirinya benar-benar tak percaya dengan apa yang ia dengar barusan dari mulut Brianna secara langsung.


Tidak menjawab, Brianna hanya membalikkan tubuhnya saja sambil tersenyum kecil menatap wajah Austin.


'Seberapa kasar diriku kepadamu, seberapa benci yang aku katakan padamu. Tetap saja, aku masih mencintaimu, rasa cintaku lebih besar kepadamu dari pada rasa benciku. Aku kembali memberikan harapan padamu karena hatiku masih menginginkan dirimu, Aku harap keputusan terakhir ku untuk menerima mu kembali tidaklah salah' Batin Brianna.


'Austin. Aku harap kau tidak kembali mengecewakan ku. Aku bukan mommy yang memiliki sifat keras kepala, aku adalah aku! Walaupun aku adalah putrinya tapi jalan pikiran ku berbeda dengannya' Batin Brianna lagi.


'Aku tidak akan pernah kabur dari masalah hidupku. Tapi aku justru akan melawan dan membalas apa yang seharusnya aku lawan, aku tidak akan menyerah begitu saja sebagi mana mommy pernah menyerah, seberapa kejam dan seberapa jahat nya dunia maupun takdir. Aku akan belajar dengan sukarela menerima semuanya'


'Sifat ku seperti omah Zia dan omah Maura. Tidak akan mudah menyerah seperti mommy, walaupun aku tidak pernah tau bagaimana sifat omah Zia yang sebenarnya. Tapi setiap cerita yang mommy ceritakan kepadaku dan uncle Zayyann kepadaku, aku sudah bisa mengetahui serta sudah bisa menilai bagaimana sifat dan karakter dari omah Zia'


'Aku harap kali ini keputusan yang aku kembali ambil tidaklah salah' Batin Brianna.