
"Bagaimana? Apakah putraku sudah memperbolehkan kami untuk masuk" Tanya Maura dengan penasaran dengan jawaban yang akan diberikan oleh salah satu anak buah tara grup itu.
"Tuan besar sudah mengizinkan anda untuk masuk nyonya tapi..." Jawab anak buah TG itu.
"Tapi apa" Tanya Gani.
"Apakah tuan dan Nyonya besar membawa orang lain? Jika bukan orang-orang yang ber marga Atmadja dan Williams maka orang tersebut tidak di berkenankan untuk memasuki wilayah mansion atas P
Perintah dari tuan besar" Tanya anak buah TG tersebut.
"Tidak ada"
"Kami disini tidak membawa siapapun selain orang-orang yang bermarga Atmadja dan Williams... Kau bisa mengingat nama kami... Saya tuan Williams ini nyonya Williams dan ini putri Williams! Dan kau sudah tau siapa dia bukan? Nyonya besar kalian, lalu dibelakangnya ada tuan muda kecil Atmadja dan nyonya muda Atmadja... serta nyonya besar Atmadja Dan tidak ada lagi... Jika kalian tidak percaya kalian bisa bertanya kepada tuan kalian itu" Jelas Gani dengan memperkenalkan dirinya dan yang lainnya kepada anak buah TG tersebut.
"Baik tuan... Kalau begitu silahkan anda masuk" Kata anak buah TG tersebut dengan membukakan pintu gerbang mansion Alqueen kepada Gani dan yang lain.
"Hmmmm" Dehem Gani lalu iapun langsung saja masuk kedalam Area Mansion Alqueen.
Ketika mereka semua sudah sampai di depan pintu masuk mansion Alqueen, mereka pun justru tidak masuk dan malah verhenti ketika mendengar suara klakson mobil.
...Tinnn... Tinnn......
"Biarkan mereka" Teriak Maura kepada anak buah tara grup dan dirga Grup yang kini tengah ingin menutup pintu gerbang mansion Alqueen padahal jelas-jelas ada satu buah mobil lagi yang berniat untuk masuk kedalam mansion Alqueen.
"Biarkan mereka masuk... Mereka adalah tuan besar Atmadja dan tuan muda Atmadja" Teriak kembali Maura yang melihat mobil siapa yang datang.
"Baik nyonya besar" Jawab kedua anak buah TG dan DG secara bersamaan.
"Ada apa ini?" Tanya Zian dengan melihat ke arah sekitarnya yang terdapat begitu banyak pengawal terlatih milik DG dan TG.
"Kita akan bicarakan nanti didalam" Ujar Alea yang kini baru membuka suaranya.
"Benarlah! Sebaiknya kita masuk terlebih dahulu" Tutur Maura yang diangguki oleh semuanya.
...Kamar Alqueen...
"Anna... Sayang" Bisik Alvaro ditelinga Queena yang masih enggan untuk membuka kedua matanya.
"Emmmmmm"
"Bangunlah... Ada yang ingin aku berikan untukmu" Ucap Alvaro pelan.
Bukannya menjawab ucapan dari Alvaro... Queena justru malah diam sambil terduduk diatas ranjangnya sambil mengingat-ingat kembali kejadian tadi.
"Pergilah Alvaro" Kata Queena pelan.
"Aku akan pergi setelah kau melihat ini..." Jawab Alvaro dengan memberikan sebuah flashdisk kepada Queena, Yaa... dimana flashdisk tersebut yang berisi rekaman CCTV dimana yang Alvaro inginkan tadi kepada David.
"Aku tidak ingin melihatnya! Pergilahhh... Aku tidak ingin melihatmu saat ini" Ujar Queena dengan membuang wajahnya kearah balkon kamarnya.
"Aku sudah mengatakan padamu. Aku akan pergi... Jika kau sudah melihat isi dari flashdisk ini" Tegas Alvaro.
"Pergilahhh Alvaro!!" Usir Queena kembali dengan lirih.
"Tidak sebelum--" Ucap Alvaro yang terpotong.
"Hikssss... Pergilahhh Alvaro" Lirih Queena.
"Baik!"
"Tapi aku minta kepadamu! Lihatlah isi dari flashdisk ini... Aku pergi" Ujar Alvaro lalu menaruh flashdisk tersebut disamping Queena dan setelah itu iapun pergi.
...Ceklekkkk...
"Hikssss... hikssss... Kenapa! Kenapa ini semua harus terjadi kepadaku hikssss..." Tangis Queena.
"Tidak bisakah aku bahagia! walau hanya sebentar? Hikssss... Aku lelahhh! Aku lelah dengan drama hidup ini hikssss... Mengapa semua ini harus terjadi didalam hidupku! Hikssss... Hikssss..." Isak Queena dengan menangis sejadi-jadinya.
"Tidak tau... Apakah perkataanmu benar atau tidak! Hikssss... Aku tidak tau! Hikssss... hiksss... Semua ini terjadi begitu saja" Lirih Queena.
"*Kau boleh marah denganku Al, kau boleh tidak ingin memaafkan aku Al hikssss... hikssss... Tapi tidak bisakah kau tidak melakukan hal yang seperti ini? Hikssss... Kau tau Al. ini Adalah hal yang memalukan bagiku" Lirih Queena dengan mengapa manik mata Alvaro dengan berkaca-kaca*.
"*Memalukan*!"
"*Aku sudah katakan padamu... Aku bisa menjelaskan semuanya" Ucap Alvaro kembali*.
"*Apa yang harus dijelaskan Al? Apaa!! Jika kau tidak menginginkan aku kau bisa mengatakannya secara langsung Al hikssss... Mungkin aku bisa saja mengerti. Tapi hikssss... hiksss... Mengapa kau malah melakukan hal yang bejad seperti ini Al" Isak Queena*.
"*Alvaro adalah kekasihku!! Hehhhh, wajar jika aku dan Alvaro melakukan hubungan intim bukan" Celetuk Amanda dengan tersenyum sinis*.
~
"*Aku bukan wanita penghibur. Aku adalah kekasih dari Alvaro Kenan Dirgantara!!" Geram Amanda lalu perlahan mendekat kearah Queena*.
"*Hikssss... Aku tidak pernah percaya dengan apa yang kau lakukan saat ini bersama dengan suamiku hikssss... Tapi setelah aku melihatnya sendiri aku sadar bahwa Alvaro memang tidak menginginkanku" Kata Queena dengan membuka jaket miliknya lalu memasangkan jaket tersebut ke tubuh Amanda yang hanya menggunakan baju dalamnya saja*.
"*Apa yang kau katakan Queena" Kata Alvaro dengan menatap wajah Queena*.
"*Aku akan melepaskanmu sesuai apa yang kau inginkan selama ini Al! Hikssss... Setelah kau terlepas denganku kau bisa menikahi Amanda dan bertanggung jawab atas apa yang telah kau lakukan dengan Amanda hari ini. Hikssss..." Kata Queena dengan tersenyum pahit*.
"Arghhhhhh"
"Hikssss... hikssss... Kenapaaa! Kenapa ini semua terjadi dalam kehidupanku... Kenapaaa!! Hikssss.... hikssss..." Teriak Queena dengan histeris.
"Kenapa kejadian itu terus saja berada didalam benak-ku hiksss... hiksss... Kenapaaa arghhhhhh" Histeris Queena kembali dengan mengacak-acak seluruh isi kamarnya.
Bahkan ranjang tidurnya-pun ia buat berantakan hingga tidak dapat berbentuk, bahkan kini flashdisk tersebut terpental dengan sangat jauh entah kemana karena ulah Queena.
"*Jika aku menginginkan hal yang seperti tadi, mengapa aku tidak melakukannya saja denganmu... Mengapa dengan wanita gila seperti Amanda?! Untuk apa aku menyalurkan hasrat-ku kepada wanita lain, jika aku memilik seorang istri!" Ujar Alvaro*.
"*Dengar Anna... Jika aku tidak bisa menahan hasrat-ku lebih baik aku mengeluarkan hasrat-ku dengan air dingin. Karena itu lebih baik, dari pada harus menyalurkannya kepada wanita gila Seperti Amanda! Lebih baik aku mati menahan hasrat-ku dari pada harus menyalurkan-nya" Tutur Alvaro dengan memeluk tubuh Queena dengan eratnya*.
"*Hikssss... hikssss... hikssss...." Isak Queena didalam pelukan Alvaro hingga air matanya mampu membasahi dada kekar milik suaminya itu, yaitu Alvaro*.
"Arghhhhhh!!"
"Aku benci semuanya... Aku benci hikssss... hikssss... AAAAAAAAAA. Aku benci" Teriak Queena.
...***Pranggg***...
...***Pranggg***...
...***Pranggg***...
...***Brraaakkkk***...
"Annaaaa!!" Teriak Alvaro.
Alvaro terpaksa mendobrak pintu kamarnya karena lupa bagaimana cara membuka pintu kamarnya\_-! Alvaro mendobrak pintu kamarnya karena mendengar suara pecahan-pecahan kaca dari dalam kamarnya disertai teriakkan Queena yang sangat frustasi.
"Jangan mendekat"
"Pergilahhh hiksss... hikssss... Pergii" Kata Queena dengan berteriak kepada Alvaro untuk tidak mendekat kearahnya.
"Tenanglah" Ucap Alvaro dengan pelan.
"Pergi! Kalian semua pergi hikssss... hikssss... Pergilahhh" Histeris Queena dengan mengusir Alvaro beserta yang lainnya. Lainnya, adalah keluarganya serta yang lainnya yang mana kini juga berada di dalam kamarnya.
"Hikssss... Cucuku, tenanglah nakk hikssss... Jangan seperti ini" Tangis Kiana yang sedih akan keadaan cucunya itu.
"Hikssss... hikssss... Pergi semuanya pergi! Grendmaaa pergillah, pergi! Hiksss... hiksss..." Tangis Queena.
"Anna!"
"Anna uncle mohon padamu, tenanglah... Kau harus tenang. Kau tidak boleh seperti ini... Ingatlah anak-anakmu yang ada didalam sana" Tutur Zayyann yang ingin menenangkan Queena.
"Hikssss... hikssss..."
"PERGILAHHH"
"Kalian semu--"
"A-aahhh! Sa-sakit... perutku, perutku sakit... hikssss... ARGHHHHHH" Teriak Queena yang kesakitan dengan perutnya secara tiba-tiba.
"Annaaaa"