My First Love Is My Wife

My First Love Is My Wife
S2: Mata-mata Andes



"Brian! Apa kau tidak ingin mengatakannya kepada daddy?" Tanya Alvaro dengan menatap wajah Brianna dengan serius.


"Kaau-kau mengatahui semuanya daddy?" Tanya balik Brianna dengan mata berkaca-kaca membalas tatapan dari Alvaro.


"Menurutmu? Hmmmm apa yang tidak daddy ketahui akan segera daddy ketahui! Apalagi selama dua tahun ini daddy selalu menunggumu untuk mengatakan semua ini, tapi kenyataannya kau tidak ingin mengatakannya. Maka terpaksa daddy harus mengatakannya sekarang! Diwaktu yang bersamaan dengan Austin yang kini sudah sadarkan diri, benar begitu bukan?" Kata Alvaro dengan memutar balik pertanyaan kepada Brianna kembali.


"Maaf daddy! Maaf mommy! Aku terpaksa tidak memberi tahu kepada kalian mengenai apa yang telah terjadi denganku ketika aku berada di filandia, karena aku tidak ingin kalian merasa khawatir denganku! Aku hanya ingin.... Menutupi ini semua untuk diriku sendiri dan tidak ingin membagi semua masalahku dengan kalian hingga membuat kalian cemas denganku nantinya" Jawab Brianna lirih sambil menundukkan wajahnya.


...Grepppp...


"Putriku" Panggil Queena dengan lirih sambil menarik tubuh Brianna kedalam pelukannya.


"Mommy, jangan seperti ini! Atau aku akan menangis" Lirih Brianna pelan.


"Menangis lah! Kali ini mommy mengizinkanmu... Tapi lain kali tidak boleh, Bria. Kau tau nakk? Seberapa besar kau ingin menutupi segala hal dari mommy dan daddy! Maka peluang untuk mommy dan daddy mengetahui semuanya justru lebih besar, bukankah mommy pernah mengatakan padamu? Ceritakan kepada mommy jika kau mempunyai masalah, menangis lah di depan mommy dan bersandarlah di bahu mommy. Agar kau bisa jauh lebih tenang mengeluarkan semua kekecewaan mu. Jika tidak ada mommy ataupun daddy... Maka pergilah dan minta kepada kakak-kakak mu untuk meminjamkan bahunya sebentar" Tutur Queena dengan tersenyum sendu menatap wajah cantik Brianna putri kecilnya itu.


"Hikssss... hikssss... Mommy aku sudah menaruh kepercayaan padanya, tapi justru dia malah menghancurkannya... Hikssss... Mommy, jika kau berada di posisiku apa yang kau akan ambil? Hikssss... hikssss..." Tangis Brianna pecah yang sedari ia tahan-tahan untuk tidak mengeluarkannya tapi nyatanya dan sayangnya ia justru tidak kuat menahan air matanya dan isakan tangisnya.


"Kau tau sayang? Mommy pernah ada diposisi mu dulu... Mommy pernah menaruh harapan dan kepercayaan pada ayah mommy (Albert), bahwa suatu hari nanti semua akan baik-baik saja dan apapun yang mommy inginkan semua akan terpenuhi olehnya... Tapi faktanya! Semuanya hancur, hancur dalam hitungan menit saja... Kebahagiaan yang sedang direncanakan oleh mommy dan dirinya tiba-tiba hancur berantakan bahkan sampai tidak bisa diperbaiki kembali! Tapi kau tau sayang? Apa yang mommy lakukan? Yang mommy lakukan adalah belajar mengikhlaskan semuanya, Berat? Tentu saja itu sangat berat untuk mommy. Tapi mommy sadar bahwa di dunia ini masih ada orang yang sayang dengan mommy dan bisa membahagiakan mommy dan bisa membuat mommy tertawa kembali, tersenyum kembali, dan tidak kembali menangis" Jelas Queena dengan mata berkaca-kaca.


"Grendpa, Grandma, Uncle, Aunty, Omah Dan daddy mu! Mereka semua selalu ada untuk mommy. Mereka selalu berada disisi mommy dan menyemangati mommy untuk tidak berlarut-larut akan semua hal yang pernah terjadi kepada mommy.... Hingga akhirnya mommy pun perlahan mengikhlaskan semuanya dengan secara suka rela! Karena tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini sayang... Jika saat ini kau merasa dihancurkan maka suatu saat kau akan merasa lebih baik dari segala hal, aapun itu" Ucap Queena kembali.


"Hikssss... hikssss... Mommy" Panggil Brianna dengan memeluk erat tubuh Queena kembali kedalam pelukannya.


"Bria" Panggil Alvaro.


"Hikssss... Daddy" Isak Brianna dengan memeluk tubuh Alvaro dengan erat.


"Berhentilah menangis" Ujar Alvaro dengan mengelus pelan rambut milik Brianna putri kecilnya itu.


'*Aku tidak akan pernah membiarkan putriku jatuh ke tangan pria yang tidak bertanggung jawab sepertinya!Karena putriku adalah berlian atau permata yang sangat berharga. Bahkan sangat-sangat berharga lebih dari keduanya itu. Berlian ataupun permata bahkan tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan putriku. Tidak akan aku biarkan putriku jatuh ke tangan pria bajingan itu*' Batin Alvaro.


'Tatapan daddy barusan... Mengapa aku merasa akan ada sebuah pertentangan dengan keputusannya nanti' Batin Alkenzo.


'Tatapan daddy! Mengapa seperti sedang menahan amarahnya?' Batin Arianna.


'Mengapa tatapan mata daddy sangat menakutkan? Aku merasa akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan' Batin Alkenzie.


"Daddy, keputusanku sudah benar bukan? Hikssss..." Tanya Brianna dengan menatap lirih Alvaro.


"Kau sudah benar! Dan daddy bangga padamu, lanjutkan apa yang menurutmu baik. Karena daddy akan selalu mendukungmu. Bila kedepannya kau bertemu pria sepertinya sebaiknya kau jauhkan saja... Carilah pria yang sangat memenuhi kriteria mu tapi bukan hanya kriteria saja, Hatinya... Karena itu adalah pusat inti" Tutur Alvaro tersenyum kecil.


"Pasti daddy! Aku pasti akan mencari pria yang sepertimu saja" Jawab Brianna dengan tersenyum kecil sambil menghapus air matanya dan itupun dibantu oleh Alvaro.


'Sepertinya mommy agak kurang setuju dengan jawaban dari kau Bria. Jika kedepannya kau mencari pria yang seperti daddy mu ini, mommy takut kau akan kabur seperti mommy dulu' Batin Queena.


"Mengapa kau menatapku? Hmmmm" Tanya Alvaro dengan menaikkan satu alisnya sambil menatap wajah Queena yang tengah meliriknya.


"Tidak! Apa tidak boleh?" Tanya balik Queena sambil tersenyum paksa.


"Tentu saja boleh"


...Tokkk tokkk tokkk...


...Tokkk tokkk tokkk...


Semua yang berada disitu pun tiba-tiba saja memandang wajah satu sama lain, lalu kemudian menatap kearah pintu yang tengah di ketuk dengan sangat tidak sabar dari arah luar.


"Sangat sopan" Gemas Arianna dengan berkata pelan lalu kemudian berjalan menuju kearah pintu untuk melihat siapa yang sangat tidak sabar mengetuk pintu ruangan Alvaro sang daddy.


...Ceklekkkk...


"Alan!!" Geram Arianna dengan wajah tersenyum menatap wajah Alan yang tengah menunjukkan ekspresi imutnya.


"Kakak, tolong menyingkirlahh aku ingin masuk" Pinta Alan dengan berlari memasuki ruang kerja Alvaro begitu saja.


"Alannnn! Bersikaplah sopan" Kesal Arianna dengan menutup kembali pintu ruang kerja milik Alvaro.


"Mommy! Daddy! Dimana laptopku?" Tanya Alan dengan menghampiri Queena.


"Alan, jangan mengulangi hal yang seperti tadi. Kau mengerti" Tegas Alkenzie kepada Alan adik kecilnya itu.


"Maafkan aku... Tapi ada hal penting yang harus aku selidiki! Dan aku membutuhkan laptopku" Balas Alan.


"Hal apa yang membuatmu harus seperti tadi?" Tanya Brianna dengan mengerutkan keningnya.


"Aku akan menjelaskannya nanti kakak! Tapi... Saat ini aku benar-benar membutuhkan laptopku. Mommy dimana kau menyimpan laptopku" Ujar Alan dengan bertanya kembali perihal laptop miliknya.


"Terimakasih, daddy" Balas Alan lalu terduduk dibawah begitu saja sambil mengutak-atik laptop miliknya.


"Sayang, duduklah diatas jangan dibawah atau nanti kau akan sakit" Tutur Queena tapi tak dihiraukan oleh Alan.


"Haisss, lama-lama semua anak-anakku sifatnya akan seperti daddy nya! Terutama Alan... Huuuuffff" Gumam Queena pelan.


"Mereka semua adalah anakku tentu saja sifatku akan menurun kepada mereka..." Bisik Alvaro pelan.


"Jangan seperti ini! Masih ada anak-anak" Balas Queena dengan kesal.


"Mommy, Daddy, Kakak! Lihatlah..." Tunjuk Alan dengan memperhatikan sesuatu dilayar laptopnya kepada semuanya.


"....."


"....."


"....."


"Siapa orang itu suamiku? Mengapa ia mengintai putra kita? Bahkan, Ia berani memfoto putra kita secara sembunyi-sembunyi" Tanya Queena dengan cemas.


Queena cemas karena habis melihat rekaman cctv yang berada di dalam kamar Alan. Mengapa begitu? Karena ketika Alan tengah berbaring diatas kasurnya dengan membaca sebuah buku. Tiba-tiba saja ada yang memperhatikannya dan memfotonya tanpa persetujuan dari Alan! Dengan memakai pakaian semua serba hitam dan wajah yang ditutupi oleh kain berwarna hitam. Orang tersebut pun berdiri didekat balkon kamar Alan.


Dan ketika Alan menyadari kehadirannya, orang tersebut pun pergi begitu saja dengan cepatnya! Hingga tidak meninggalkan jejak apapun. Dan karena merasa penasaran dengan orang yang telah mengintainya dari balkon kamarnya, Alan pun berlari dan untuk melihat siapa orang tersebut yang mengintainya tadi. Tapi sayangnya ia terlambat... Lalu kemudian Alan pun segera berlari menuju Alvaro dan Queena untuk menceritakan tentang semua itu melalui rekaman cctv yang terdapat di setiap sudut kamarnya.


"Berani sekali orang itu mengintai kediaman dirgantara. Cari mati..." Marah Alkenzie dengan mengepalkan kedua tangannya.


"Siapa orang itu? Mengapa ia mengintai Alan?" Tanya Brianna dan Arianna dengan khawatir.


"Aku akan mengirimkannya ke neraka bila aku bisa mendapatkannya" Marah Alvaro dengan berucap pelan.


"Daddy, lihatlah di dekat jari kelingkingnya ada sebuah tato pengenal... Hanya saja itu sangatlah kecil" Tunjuk Alkenzo dengan memberhentikan rekaman cctv sejenak untuk melihat tanda yang berada didekat jari kelingking orang tersebut yang telah berani mengintai kediaman dirgantara.


"Aku tau siapa ini" Jawab Queena secara tiba-tiba hingga membuat semuanya menatap kearahnya untuk meminta jawaban dari ucapannya tadi.


"Siapa?" Tanya Alvaro dingin.


"Tunggu" Ucap Queena lalu mengeluarkan hendphone genggam miliknya dan menekan tombol telpon seseorang.


...Dretttt... Dretttt......


Unknown📞:Yes baby


"Berikan padaku! Beraninya kau menelpon pria lain" Marah Alvaro dengan berniat ingin mengambil hendphone milik Queena tapi terhalang oleh Alkenzo.


"Daddy, tunggulah sebentar! Biarkan mommy menelpon orang yang mommy katakan" Ucap Alkenzo pelan.


^^^Queena: Untuk apa kau mengirim seseorang memantau putra kecilku? Bahkan memfoto putraku tanpa meminta izin kepadaku^^^


Unknown 📞: You know it turns out, why can't you?


...(Kau mengetahuinya ternyata, mengapa apa tidak boleh?)...


^^^Queena 📞: Kau menakuti putra kecilku Andes, seharusnya kau mengunjungi putramu dan bukan putra kecilku^^^


Alvaro yang sedari tadi menatap tajam wajah Queena pun kini menjadi semakin marah setelah mendengar Queena menyebutkan nama "Andes". Yaa, Dia adalah Andes Anderson! Masih ingat? Dengan pria yang pernah mengirim sebuket bunga kepada Queena saat itu? Yaa, Itu adalah dia.


...Author: Bapaknya si Austin...


"Matikan telponnya atau aku akan membuangnya" Ancam Alvaro dengan menatap marah kepada Queena, tapi justru Queena hanya diam sambil melanjutkan kembali telponnya.


'Mommy, ayolah jangan buat daddy marah kali ini! Atau kami semua juga akan terkena amukannya' Batin Arianna.


'Ohh tidak, Zona merah! Sebaiknya aku pergi saja atau nantinya aku akan terkena amukan seorang singa yang sudah lama tertidur ini' Batin Brianna.


'Mommy, kau membuat kami dalam bahaya' Batin Alkenzie.


"Emmmmmm, Mommy! Daddy! Tiba-tiba saja aku mendapatkan panggilan dari rumah sakit. Ada pasien yang harus aku rawat, aku pamit" Kata Brianna dengan tersenyum paksa menatap wajah semuanya dan berniat untuk melarikan diri dari ruang kerja Alvaro saat ini.


"Diam dan duduk" Titah Alvaro yang mempu menghentikan langkah kaki Brianna.


'Sudah ku duga! Mommy kali ini kau menjebak kami semua' Batin Brianna.


'Ohh no! Sepertinya aku hanya bisa berpura-pura tenang kali ini. Atau aku akan...' Batin Arianna.