
...Taman belakang mansion Alqueen...
"Bunga yang sangat cantik... Siapa yang menanam'nya di sini? dan lagi ini adalah bunga kesukaan'ku sedari aku kecil" Gumam Queena dengan menciumi sebuah bunga mawar berwarna biru yang manantertanam sangat cantik di taman belakang mansion.
"Nona" Panggil Bi Lin.
"Iyaa bi... Ada apa?" Tanya Queena.
"Nona, di dalam ada seorang wanita yang ingin menemui anda" Ujar bi Lin.
"Wanita? Siapaaa?" Bingung Queena.
"Bibi, juga tidak tau nona... Tapi dia bilang dia kenal dengan nona dan ingin bertemu dengan nona" Kata bi Lin.
"Yasudah, kalau begitu aku akan pergi menemuinya, bibi... Katakan padanya untuk menunggu'ku sebentar" Kata Queena dengan memetik beberapa mawar kesukaan'nya yang berwarna biru itu.
"Baik nona... Kalau begitu saya pamit undur diri terlebih dahulu" Jawab bi Lin lalu pergi dengan hormat.
"Hmmmm, silahkan bi" Balas Queena dengan mengangguk'kan kecil kepala'nya.
Setelah bi Lin pergi Queena'pun langsung saja mulai melanjutkan kegiatannya tadi, dengan sebuah senyuman yang terus saja mengembang di bibirnya. Karena kini ia tengah merasa bahagia bisa memetik nunga kesukaan'nya, yaitu bunga mawar biru di belakang mansion milik'nya.
...5 menit kemudian......
"Akhirnya selesai juga" Gumam Queena lalu mulai meletakkan dua tangkai bunga mawar yang sudah ia rangkai secantik mungkin, lalu Queena'pun langsung saja membawanya kedalam dan menaruhnya di dekat meja rias dan laci kecil yang berada di dekat tempat tidurnya.
"Sangat cantik" Puji Queena dengan tersenyum bahagia.
"Ahhhhh, aku lupa kalau ada tamu" Kata Queena lalu iapun mulai bergegas untuk turun kebawah lagi, yang mana kali ini untuk menemui orang yang ingin bertemu dengannya dan yang sudah menunggu dirinya sejak tadi.
...Visual bunganya...
...*****...
...Ruang tamu...
"Maaf, karena membuat anda menunggu terlalu lama... nona?" Ucap Queena dengan tersenyum manis.
"Ckk. Kau ini sebenarnya ngapain aja sihhh! Berani'nya kau membuat'ku harus menunggu dirimu terlalu lama. Dirimu yang sangat tidak penting ini..." Bentak seseorang itu dengan menatap wajah Queena dari atas hingga bawah.
"Maaf, anda ini siapa sebenarnya? Menapa tiba-tiba anda marah-marah tidak jelas di kediaman saya? Jika anda tidak suka dengan saya. Anda bisa angkat kaki dari kediaman saya saat ini juga" Geram Queena yang tak terima di bentak oleh orang yang ia tidak kenal.
"Hehhhh... Berani kau mengusirku?" Tanya orang tersebut yang tak lain adalah Amanda dengan muka menantang menatap remeh ke wajah Queena.
"Kenapa tidak? Ini kediaman saya... Menapa saya harus takut dengan anda?" Tanya balik Queena dengan muka tak kalah menantang dari Amanda.
"Kau sudah memperkenalk'an dirimu... Maka perkenalkan namaku adalah Queena Angelina Kusuma. Pemilik perusahaan Kusuma Grup dan juga Alih waris dari keluarga Atmadja (Hanya sebagian alih waris ya, karena sebagian lainnya milik Zayyann) dan sekaligus saya adalah istri SAH dari seorang Alvaro Kenan Dirgantara" Balas Queena dengan menekan kata 'istri SAH' pada perkatan'nya dan dengan dengan hati membalas tatapan intens wajah Amanda.
Yaa, jadi Queena memang juga salah satu alih waris dari keluarga Atmadja, yang seharusnya Zia yang mendapatkan'nya. Tapi berhubung Zia sudah tiada maka alih waris dari keluarga Atmadja jatuh ke pada Queena! Putri dari Zia dan tenang aja Zayyann'pun juga adalah seorang alih aris perrtama dari keluarga Atmadja setelah Zia.
"Cihh... Kau menyebut dirimu Istri? tapi sayang'nya Alvaro tidak mengaggap dirimu sebagai istrinya" Ejek Amanda dengan tersenyum senang.
"Jika anda datang kesini hanya untuk mengejek saya, sebaiknya anda pergi saja dari kediaman saya. Atau saya terpaksa harus menyuruh penjaga kediaman saya untuk mengusir anda nona. Amanda Anastasya" Ujar Queena dengan geram.
"Kau tidak punya hak untuk mengusir kekasih'ku" Celetuk seseorang yang baru saja datang, yang tak lain adalah Alvaro.
"Alvaro" Gumam Queena.
"Sayang" Panggil Amanda lalu berlari kecil menuju kearah Alvaro yang baru datang.
"Hay sayang... akhirnya kau datang juga" Ucap Amanda dengan nada manja terhadap Alvaro lalu kemudian mulai bergelayutan di lengan kekar milik Alvaro seperti ulat bulu.
"Jangan pernah berani-berani kau mengusir kekasih'ku keluar dari sini Queena... Atau kau akan tau akibatnya" Ancam Alvaro dengan wajah kesal terhadap Queena.
"Menapa aku tidak boleh mengusir'nya? Dia hanyalah seorang kekasih'mu sedangkan aku adalah istrimu, Al?" Tanya Queena dengan membalas tatapan wajah Alvaro.
"Terserah kau ingin menyebut dirimu istri atau bukan. Karena bagiku kau tak lebih hanyalah seorang pembantu kediaman'ku, tidak lebih" Kata Alvaro dengan menusuk hati Queena saat itu juga akan perkataan'nya.
...Jeduaarrrrrr...
...Deggggg...
Bak di sambar petir disiang bolong, mendengar perkataan Alvaro yang mengatakan bahwa dirinya adalah hanya seorang pembantu di matanya, bukan sebagai istrinya. Dan itupun mampu membuat Queena menjadi diam membisu seribu bahasa dengan mata yang berkaca-kaca mantap lekat wajah sang suami, hatinya saat ini sedang sangat terasa sesak ketika mendengar perkataan Alvaro tadi.
"Pembantuuu?" Lirih Queena dengan mata berkaca-kaca.
"Dimata'mu aku tak lebih hanyalah seorang pembantu bukan? Hehhhh... Aku tidak masalah kau menyebutku hanyalah seorang pembantu Al, karena yang terpenting bagiku adalah! aku bisa selalu berada di sisimu!" Kata Queena dengan tersenyum manis tapi sebenarnya hatinya sangat perih ketika mendengar perkataan yang keluar dari mulut Alvaro tadi bahkan matanya sampai saat ini terus saja berkaca-kaca.
"Sayang... Sudahlah jangan kita ladeni dia, sebaiknya kau menemaniku untuk bersiap pindah kesini saja" Ajak Amanda dengan menatap nanar Queena.
"Hmmm, Baik sayang kalau begitu ayok kita pergi dari sini karena sepertinya mataku mulai merasa sakit karena melihat rupa wajah pembantu ini" Balas Alvaro yang sama halnya dengan Amanda menatap nanar Queena, sedangkan Queena ia hanya bisa diam dengan mata yang nerkaca-kaca menatap kemesraan keduanya.
'Tidaaakkkk!! Kau tidak boleh menangis Queenaaaa... Jika kau menangis maka Amanda akan terus menertawakan dirimu nanti! Kau harus kuat! Ingat kau harus kuat, lagi pula ini sudah jadi keputusan dirimu sejak awal' Batin Queena dengan menyemangati dirinya sendiri.
"Matamu sakit? Yasudah, kalau begitu mari kita pergi dari sini atau Matamu akan terus bertambah sakit melihatnya" Ujar Amanda dengan berpura-pura berakting mengikuti akting Alvaro.
"Kau sudah dengar bukan? Suami'mu tidak memperdulikan'mu Queena... Jadi sebaiknya kau menyerah saja" Bisik Amanda lalu pergi begitu saja dengan menggandeng lengan kekar milik Alvaro.
"Aku benci dimana situasi aku tidak bisa melawan pelakor dalam rumah tanggaku!" Lirih Pelan Queena dengan tersenyum kecut, lalu dirinya'pun kemudian mulai menghapus air matanya yang sempat keluar ketika Amanda dan Alvaro mulai pergi meninggalkan dirinya tadi.
"Aku harus bertahan selama satu tahun dengan pernikahan ini, sesuai dengan kontrak pernikahan yang sudah aku tanda tangani dengan Varo saat itu! Tapi selama masa kontrak itu belum habis aku akan tetap mempertahan'kan rumah tangga ini dari seorang pelakor. Khususnya Amanda..." Kata Queena pelan dengan menatap punggung Alvaro dan Amanda yang kian mulai terlatih jauh.
Yaa, Jadi Alvaro sempat menyuruh Queena untuk mendana tandangi sebuah surat kontrak pernikahan dirinya dan Queena. Ketika satu hari dimana pernikahan mereka berdua akan dilangsungkan, esoknya Alvaro lebih dulu datang ke perusahaan Kusuma Grup dan memaksa Queena saat itu untuk mau menanda tangani sebuah surat kontrak pernikahan yang ia sudah buat dengan susah payah.
Dan untuk Queena... Ia mau tidak mau mengikuti perintah dari Alvaro untuk menanda tangani surat kontrak pernikahan tersebut! karena bagaimana'pun juga ia memang akan pergi setelah menjalin hubungan pernikahan dengan Alvaro, ia akan pergi sejauh-jauhnya nanti agar ketika Alvaro mengetahui fakta tentang dirinya... Ia sudah lebih dulu tidak berada di dekat Alvaro maupun Maura. Tapi yang jelas initnya adalah dari jeratan keluarga Dirgantara.
Karena jika ia terus berada di sisi Alvaro, ia hanya takut kejadian yang tidak ia inginkan terjadi lagi seperti kejadian empat belas tahun yang lalu... dimana semua orang yang berada di dekatnya terluka hanya karena dirinya, Queena tidak mau hal itu terjadi kembali. Bahkan Queena sampai saat ini menganggap dirinya sendiri sebagai wanita pembawa sial, di dalam kehidupan semua orang khususnya orang terdekatnya yang sangat amat ia cintai.