My First Love Is My Wife

My First Love Is My Wife
S1: Pembatas yang hilang



...Keesokan harinya......


...Kamar Alqueen...



Kini matahari telah terbit dan burung-burung telah berterbangan dengan berpasangan, begitu juga dengan dua pasangan instan yang kini sedang bersama. Bersama masih terlelap dalam tidur dan mimpi indahnya, bahkan tanpa sadar mereka berdua kini tertidur dengan saling berpelukan satu sama lain, pembatas yang mereka buat tadi malam sudah hancur atau lebih tepatnya berserakan kemana-mana, karena mereka berdua pelakunya. Siapa lagi jika bukan Alvaro dan Queena...


...Ciiitttt... Ciiitttt... Ciiitttt......


Suara burung yang sedang berbicara dengan pasangan'nya pun mampu mengusik ketenangan mereka berdua hingga membuat mereka berdua terbangun dari tidurnya lelapnya.


"Emmmm"


Saat Queena ingin bergerak, rasanya sangatlah berat... hingga ia terpaksa membuka kedua mata cantik'nya itu dan betapa terkejut'nya ia saat membuka kedua matanya, yang mana dirinya kini tengah berada di dalam pelukan'nya Alvaro. Hingga membuat ia buru-buru ingin terlepas dari dekapan Alvaro karena ia takut jika Alvaro terbangun maka Alvaro akan marah dan menghukumnya nanti jika tau dirinya tidur didalam pelukannya.


"Kenapa aku bisa berada di pelukan Alvaro?" Lirih pelan Queena dengan bertanya-tanya kepada dirinya sendiri. Dan tidak lupa ia masih berusaha untuk melepaskan dirinya dari dekapan Alvaro yang begitu kencang dengan perlahan saat ini.


"Dasar kebo... Kenapa sangat susah sekali hanya mengangkat lengan'nya ini, sebenarnya Alvaro makan apa sih selain nasi?" Gerutu Queena dengan kesal karena merasa tidak mampu menyingkirkan sebuah lengan Alvaro saja, lengan Alvaro tidak ingin terangkat sedikit'pun walau ia sudah berusaha keras untuk menyingkirkan'nya.


"Tidak ada cara lain" Kata Queena menatap wajah damai Alvaro yang masih tertidur.


"Alvaro..." Teriak Queena yang berhasil membangun Alvaro dengan berteriak sangat kencang, hingga membuat Alvaro yang masih berada di dalam mimpinya terkejut hingga terbangun.


"Queenaaa!!"


"Berani sekali kau berteriak kepada'ku, saat aku tertidur" Bentak Alvaro yang terkejut mendengar teriakan Queena.


"Maaf Al... Aku hanya ingin kau melepaskan'ku karena kau memelukku terlalu erat" Kata Queena.


"Siapa yang memelukmu?" Tanya Alvaro yang kebingungan karena ia sendiri bahkan tidak sadar jika ia memeluk tubuh Queena dengan erat saat ini, karena ia merasa semalam ia tengah memeluk sebuah guling dan bukan Queena.


"Kau...." Balas Queena.


"Kapan?" Tanya Alvaro.


"Saat kau tidur" Jawab Queena kembali.


"Ckk!!"


"Dimana pembatas itu?" Tanya Alvaro kembali dengan mencari bantal dan guling yang menjadi pembatas dirinya dan Queena tadi malam.


"Sudah kau tendang" Jawab kembali Queena dengan santainya.


"Sebaiknya kau pergilah Queena atau aku akan menghukum'mu karena sudah berani membangunkan'ku dengan berteriak!" Usir Alvaro dengan datar.


"Dikit-dikit hukum, cihhh" Lirih pelan Queena.


"Apa yang kau katakan?"


"Tidak ada"


"Pergi"


"Yaa"


...*****...


...Ruang Musik...



"Aku sangat lelah, ingin sekali aku beristirahat dengan dunia! Walau itu hanya sebentar" Lirih Queena berjalan menuju sebuah piano.


"Aku merindukan dirimu yang dulu, Varo!! Aku juga Merindukan kalian... Bunda... Ayah...."


...♪Into Your Arms♪...


...-I'm out of my head, out of my mind, oh, I...


...(Aku sudah gila, aku sudah tidak waras)....


...-If you let me, I'll be...


...(Jika kau memberikanku aku akan)....


...-Out of my dress and into your arms tonight...


...(Melepas'kan pakaian'ku dan berada di pelukan'mu malam ini)....


...-Yeah, I'm lost without it...


...(Yeah, aku merasa kehilangan tanpa'nya)....


...-Feels like I'm always waitin'...


...I need you to come get me...


...(Merasa seperti aku selalu menunggu, aku butuh kau untuk datang padaku)....


...-Out of my head, and into your arms tonight, tonight...


...(Aku sudah gila dan berada di pelukan'mu malam ini)....


...-I'm out of my head, out of my mind, oh, I...


...(Aku sudah gila, aku sudah tidak waras)....


...-If you let me, I'll be...


...(Jika kau memberikanku aku akan)....


...-Out of my dress and into your arms tonight...


...(Melepaskan pakaian'ku dan berada di pelukan'mu malam ini)....


...-Yeah, I'm lost without it...


...(Yeah, aku merasa kehilangan tanpa'nya)....


...-Feels like I'm always waitin'...


...I need you to come get me...


...(Merasa seperti aku selalu menunggu, aku butuh kau untuk datang padaku)....


...-Out of my head, and into your arms tonight, tonight...


...(Aku sudah gila dan berada di pelukan'mu malam ini)....


"Aku sangat merindukan'mu yang dulu, Varo! Hikssss..." Lirih Queena dengan tersenyum sendu dan air mata yang terus saja keluar tak henti-hentinya dari pelupuk matanya.


...-I'm out of my head, out of my mind, oh, I...


...(Aku sudah gila, aku sudah tidak waras)....


...-If you let me, I'll be...


...(Jika kau memberikanku aku akan)....


...-Out of my dress and into your arms tonight...


...(Melepaskan pakaianku dan berada di pelukanmu malam ini)....


...-Yeah, I'm lost without it...


...(Yeah, aku merasa kehilangan tanpanya)....


...-Feels like I'm always waitin'...


...I need you to come get me...


...(Merasa seperti aku selalu menunggu, aku butuh kau untuk datang padaku)....


...-Out of my head, and into your arms tonight, tonight...


...(Aku sudah gila dan berada di pelukanmu malam ini)....


"Ingin sekali rasanya aku mengatakan bahwa akulah Angel!" Kata Queena pelan.


"Hikssss... hikssss..." Isak Queena.


"Ada apa denganmu?" Tanya seseorang.


...*****...


...Sedangkan disisi Alvaro......


"Bibi... tolong buatkan aku teh hangat" Titah Alvaro lalu duduk di atas sofa yang terdapat di dalam ruang tamu sambil membuka layar laptop'nya.


"Baik, tuan" Jawab Bi Lin.


Saat Alvaro tengah fokus pada laptop'nya yang sedang memeriksa data perusahaan'nya, tanpa sengaja dirinya mendengar seseorang yang sedang bernyanyi dengan suara yang amat merdu. Bahkan bisa dikatakan lagu yang dibawakan'nya sangatlah sedih dan menyayat hati.


"Siapa yang berada di ruang musik? Kenapa ia menyanyikan lagu yang liriknya terdengar sangat sedih?" Tanya Alvaro dengan bertanya-tanya pada dirinya sendiri.


"Ini tuan tehnya" Ucap Bi Lin yang baru saja datang dengan membawakan sebuah teh yang diminta Alvaro tadi.


"Siapa yang berada di ruang musik bi?" Tanya Alvaro yang terus menatap ke arah atas.


"Yang berada di ruang musik nona, tuan... sepertinya nona sedang merasa sedih. Makanya nona


datang keruang musik dan bernyanyi dan mengutarakan kesedihan'nya lewat sebuah lagu yang nona nyanyikan, walaupun saya tidak tau apa arti dari lagunya tapi saya rasa nona saat ini sedang merasa sedih" Jawab Bi Lin yang juga mendengar Queena bernyanyi dengan sangat bagus.


"Apa itu benar-benar Queena?" Lirih pelan Alvaro yang masih bisa di dengar oleh Bi Lin.


Tanpa sadar kaki jenjang milik Alvaro melangkah satu demi satu, menuju tempat dimana Queena berada sekarang dan saat Alvaro sampai diruang musik. Tepat bersamaan dengan lagu yang dibawakan oleh Queena telah selesai.


"Hikssss... hikssss..." Isak Queena yang masih duduk di kursi tepat di depan piano yang ia mainkan tadi.


"Ada apa denganmu?" Tanya Alvaro dengan menatap wajah Queena yang sedang menangis, entah mengapa hatinya sangat sakit jika melihat Queena menangis tersedu seperti saat ini.


"Hikssss... Alvaro?" Lirih Queena.