My First Love Is My Wife

My First Love Is My Wife
S1: Pertemuan Queena dan Mira



"Angel? Maksudmu?"


"Angel nama panggilan kecil Queena, saat kecil Queena selalu dipanggil dengan sebutan Angel. Nama yang diambil dari nama tengah'nya Angelina, namun ketika Ayah Albert tertembak olehku dan mati ia mengganti namanya dengan nama depan'nya yaitu dengan nama Queena. Nama depannya" Jelas Mira yang membuat Amanda terkejut setengah mati.


"Hmmm, apa kau ingat saat kecil Queena berteman dengan siapa saja atau bersahabat?" Tanya Amanda yang mulai menyukai arah pembicaraan ini.


"Tidaakkk"


"Yang aku tau Queena hanya mempunyai satu teman kecilnya yang ia selalu panggil, Varo? Ohh, aku ingat kalau tidak salah Varo adalah tuan muda dari keluarga Dirgantara. Karena ketika bunda Zia sudah dimakamkan Ayah Albert hanya membawaku pulang dan pergi meninggalkan Queena yang masih menangis di pemakaman bundanya saat itu, dan saat itu juga Queena tidak pernah pulang ke mansion Kusuma selama 1 minggu lamanya, lalu Ayah Albert'pun mencari keberadaan'nya dan setelah itu iapun membawa pulang kembali Queena dari kediaman Dirgantara ke mansion Kusuma! Setelah itu aku tidak tau lagi" Cerita Mira dengan jujur pada Amanda.


"Jadi Angel kecilnya Alvaro adalah Queena? Ini bagaimana mungkin..." Lirih Amanda yang masih bisa di dengar oleh Mira.


"Maksudmu?"


"Jadi Alvaro adalah orang yang aku cintai selama ini, tapi ia selalu menolak cintaku karena ia selalu menunggu cinta masa kecilnya yang bernama Angel! Queena tidak pernah memberitahukan pada Alvaro bahwa dia adalah Angel, aku juga tidak tau mengapa ia menyembunyikan identitas aslinya" Jelas Amanda.


"Jadi begitu... Tapi bukankah itu bagus untukmu?"


"Maksudmu?"


"Katakan dengan jelas"


"Ku kira kau ini pintar taunya kau ini sangatlah bodoh, Manda"


"Diam! Jangan mengataiku. Katakan saja apa maksudmu barusan"


"Maksudku, bukankah itu bagus untukmu? Kau bilang Queena tidak pernah menceritakan jati dirinya yang sebenarnya pada Alvaro bukan? Maka manfaatkanlah kesempatan ini Manda"


"Maksudmu aku harus--"


"Benar, kau harus membayar seseorang untuk menyamar menjadi Angel! Agar kau bisa menyingkirkan Queena dari kehidupan'mu dan Alvaro. Dan jika kau nanti sudah bisa menyingkirkan Angel kau tinggal menyingkirkan orang bayaran'mu itu agar kau bisa menggantikan'nya untuk berada disisi Alvaro, dan satu hal lagi. Buatlah seolah-olah orang yang kau bayar itu mati nantinya, lalu urusan Queena biar aku saja yang menanganinya apa kau setuju?" Tutur Mira dengan tersenyum jahat.


"Tentu... Tentu saja aku sangat setuju"


"Baik. Kalau begitu mulai hari ini kita bekerjasama, menjadi keran kerja"


"Setuju"


...*****...


"Kenapa aku merasa akan ada sesuatu yang terjadi denganku! Mungkinkah ini hanya sebuah firasat saja?" Gumam Queena.


"Tuhan lindungilah diriku dan orang-orang terdekatku! Jauhkanlah semua mara bahaya dari kami, kali ini aku hanya meminta itu saja! Aku berharap ini hanya sebuah firasat saja" Doa Queena dengan mengelus-elus bulu lembut Anva.


"Hmmm, Anva kenapa aku merasa kau juga merasakan hal yang sama dengan'ku? Apa kau juga mempunyai firasat yang buruk tentang'ku?" Tanya Queena pada Anva yang memang sedari tadi Anva seperti gelisah dan tidak mau diam dari dekapan maupun pangkuan Queena.


"Tenanglah Anva! Aku yakin tidak akan terjadi sesuatu padaku nantinya, percayalah! jangan khawatir dan gelisah seperti ini"


...Goarrrrr...


"Anak pintar"


"Anva sebaiknya kita masuk kedalam, karena sepertinya langit akan turun hujan"


...Deggggg...


"Mira" Lirih Queena pelan, yups jadi seseorang yang memanggil nama kecilnya Queena yang tak lain adalah Mira.


"Kenapa? Kenapa kau terkejut, adik'ku? Kakak sangat merindukan'mu" Kata Mira dengan tersenyum sinis.


"Kau bukan kakak'ku! Kau adalah pembunuh kedua orang tua'kuuu!!" Tegas Queena dengan mengepalkan kedua tangannya dan tak lupa dengan mata yang memerah karena menahan amarah terhadap Mira.


"Kakak tidak sengaja adikku, maafkan kakak yaa. Lagipula itu semua adalah kejadian empat belas tahun lalu dan empat tahun yang lalu" Jawab Mira dengan muka sok sedih lalu perlahan berjalan menuju kearah Queena.


"Berhenti!"


"Jangan mendekati'ku, pembunuhhh!!" Bentak Queena dengan menunjuk kearah wajah Mira dengan tatapan yang sangat tajam dan itupun membuat Mira seketika berhenti melangkah'kan kaki'nya.


"Kau tidak ingin memaafkan kakak Angel? Kakak minta maaf atas kejadian empat belas tahun yang lalu, kakak tau kakak salah. Jadi tolong maafkan kakak" Ujar Mira.


"Apa dengan menerima kata maaf'mu bunda'ku dan Ayahku dapat kembali? Jawab!!. Jika kata maaf'mu itu mampu membuat bunda dan ayah'ku kembali maka aku akan menerima kata maaf'mu itu" Kata Queena dengan sedikit berteriak.


"Adik'ku"


"Bunda dan Ayah kita sudah tenang di alam sana, jadi jangan kau ungkit mereka kembali yaaa. Atau mereka akan merasa sedih karena melihat kita berdua saling bermusuhan seperti ini" Ujar Mira yang lagi-lagi berjalan mendekati Queena dengan perlahan.


"Mereka bukan bunda dan ayah'muuu!!


Mereka hanya bunda dan ayahku, kau dengarrr" Teriak Queena.


"Siapa bunda'mu? siapa ayah'mu? aku, ayah, dan bunda bahkan tidak tau siapa kedua orang tuamu. Kau harus ingat bahwa kau hanyalah sampah yang telah di bawa pulang ke mansion'ku pada saat itu oleh ayah'ku" Sindir Queena pedas.


"Angel kauuu!"


"Adikku, tidak bisakah kau berbicara lembut dengan kakak'mu? Kau tau tidak baik berbicara kasar dengan berteriak seperti tadi pada kakak" Kata Mira dengan menahan rasa kesalnya terhadap Queena barusan.


"Siapa yang kau panggil adik?"


"Tentu saja kau, memangnya siapa lagi"


"Aku tidak merasa bahwa aku adalah adik'mu? Jika aku adalah adikmu maka perlihatkan buktinya? Contohnya seperti kartu keluarga, atau hasil tes DNA yang menyatakan bahwa aku adalah adik'mu. Jika kau tidak bisa membuktikan kedua'nya maka kau bukanlah kakak'ku bukan?" Tutur Queena dengan tersenyum simpul.


"Adikku, kakak memang tidak memiliki hubungan darah denganmu tapi kakak--"


"Apaaa? Kau apa? Katakannn"


"Ahhh, Sudahlah adik'ku jangan kita bahas soal itu yaaa... Sebaiknya kita bahas bagaimana cara memperbaiki hubungan diantara kita ini, hubungan antara adik dan kakak bagaimana?"


"Tidak tertarik"


"Lagi pula kau bukanlah kakak'ku yang sebenarnya. Kau hanyalah orang yang mengaku-ngaku bahwa kau adalah kakak'ku saja. Aku adalah anak tunggal, bagaimana bisa secara tiba-tiba aku mempunyai seorang kakak yang berkedok pembunuh dan narapidana seperti dirimu ini? berkacalah" Jelas Queena.


"Tidak masalah kau tidak menganggap diriku adalah kakak'mu, tapi kakak akan slalu mengagap bahwa kau adalah adikku! Kalau begitu kakak pamit lebih dulu, semoga kau bisa hidup bahagia. Sampai berjumpa kembali adikku sayang" Pamit Mira dengan memeluk Queena lalu setelah itu pergi begitu saja.


"Aku berharap kau tidak akan pernah kembali! Mira. Kau adalah pembunuhhh"