
"Bria, mommy mohon cepatlah kau ambil es batu sebanyak yang ada! Dan juga kain untuk kompresan. Mommy ingin mengompres kakak mu hikssss... Siapa tau kakak mu akan turun suhu tubuhnya" Titah Queena dengan terisak kecil.
"Baik, mommy" Jawab Brianna dengan terburu-buru keluar dan turun kebawah menuju dapur tapi sebelum itu ia terlebih dahulu dihentikan oleh Alvaro sang daddy.
"Bria" Panggil Alvaro dengan menghentikan langkah kaki Brianna.
"Daddy maafkan aku, aku tidak bisa menjawab pertanyaan mu untuk saat ini! Karena kakak kondisinya semakin ngedrop. Maaf daddy" Ujar Brianna lalu pergi berlari begitu saja setelah mengatakan hal tersebut.
"Kakak nge drop? Daddy apa yang harus kita lakukan" Tanya Alkenzie yang menjadi tambah khawatir terhadap kondisi sang kakak.
Alvaro tidak menjawab pertanyaan dari Alkenzie karena dirinya kini tengah menatap serius kondisi keadaan Alkenzo dari luar dengan sangat serius, Lalu. Ketika melihat Queena kembali histeris Alvaro pun langsung saja menelpon seseorang entah siapa.
...Callon...
^^^Alvaro: Come to los angeles country now! My son is sick hurry up and deal with the situation^^^
...(Datang ke negara los angeles sekarang! Putraku sakit cepat tangani keadaannya)...
Unknown 📞: Ok sir, I will fly to los angeles right now
...(Baik tuan, saya akan terbang ke los angeles sekarang juga)...
^^^Alvaro: Fast^^^
...(Cepat)...
Tut.
"Daddy, kau menelpon siapa?" Tanya Arianna.
"Dokter pribadi keluarga dirgantara yang berada di landon" Jawab Alvaro cepat.
...Alam bawah sadar......
"Tempat apa ini?" Gumam Alkenzo dengan bertanya-tanya.
"Dimana ini... Mengapa sangat indah tapi sangat hening dan tidak ada siapa-siapa?" Tanya Alkenzo pelan dengan memutar-mutarkan tubuhnya pelan untuk melihat sekelilingnya saat ini.
"Dimana in--"
...🥀Promise 🥀...
...Kamu mau sembunyi dimana...
...(Where do you want to hide?)...
...Aku bisa mengendus bahumu...
...(I can sniff your shoulder)...
...Jangan pernah lari dariku...
...(Never run from me)...
...Karena kita telah berjanji...
...(Because we promised)...
"Lagu ini... nada ini... Suara ini... Anitha! Yaa, Ini adalah lagu kesukaan Anitha yang ia sering nyanyikan untukku, Anitha! Apa itu kau?" Gumam Alkenzo dengan terdiam dan terbengong ketika mendengar seseorang bernyanyi sambil bermain piano.
...Biar matahari bohong pada siang...
...(Let the sun lie at noon)...
...Pura-pura tak mau panas...
...(Pretending not to be hot)...
...Tak perlu menyiksa diri sendiri...
...(No need to torture yourself)...
...Sembunyikan cinta yang ada...
...(Hide existing love)...
"Anitha itu kau?"
"Anitha!"
"ANITHA! ANITHA APA ITU KAU? ANITHA JAWAB AKU. DIMANA KAU?" Teriak Alkenzo dengan berlarian mencari asal suara dentikan piano dan melodi yang ia dengar itu.
...Aku tak perlu bahasa apapun...
...(I don't need any language)...
...Untuk mengungkap aku cinta kamu...
...(To reveal I love you)...
...(I never rest)...
...Untuk mencintai kamu sesuai janjiku...
...(To love you according to my promise)...
...Promise...
...(Janji)...
Lirik demi lirik, melodi demi melodi. Suara demi suara! Seseorang yang tiba-tiba menyanyikan sebuah lagu tersebut! Kini tak kuasa menintikan air matanya ketika mendengar suara seseorang yang memanggil namanya dengan begitu keras, suara isakan dan tangisnya pun bahkan bisa ia dengar dengan sangat jelas di telinganya.
Bahkan dengan perlahan dirinya pun bernyanyi dengan begitu lirih tak lupa air mata yang terus keluar dari pelupuk mata cantiknya itu, Tekan demi tekan jarinya menekan setiap melodi piano suara teriakan tersebut-pun kini begitu terdengar sangat keras dan jelas seakan-akan orang yang memanggil namanya itu tengah berada didepannya.
...Seribu wajah goda aku...
...(A thousand faces tease me)...
...Yang ku ingat hanya wajah kamu...
...(All I remember is your face)...
...Janjiku tak pernah main-main...
...(I promise never play...
...Sekali kamu tetap kamu...
...(Once you're still you)...
...Aku tak perlu bahasa apapun...
...(I don't need any language)...
...Untuk mengungkap aku cinta kamu...
...(To reveal I love you)...
...(I never rest)...
...Untuk mencintai kamu sesuai janjiku...
...(To love you according to my promise)...
...Promise...
...(Janji)...
"ANITHAAAA!!"
"Hikssss... hikssss... ANITHAAAA, DIMANA KAU? ANITHA. Anitha dimana kau?" Histeris Alkenzo dengan terduduk lemas tak berdaya dibawah begitu saja.
"Hikssss... hikssss... Dimana kau? Hikssss... Tidakkah kau merindukanku? Hikssss... Anitha" Isak Alkenzo dengan histeris karena dirinya kini mulai lelah mencari asal suara dan melodi tersebut.
...Aku tak perlu bahasa apapun...
...(I don't need any language)...
...Untuk mengungkap aku cinta kamu...
...(To reveal I love you)...
...(I never rest)...
...Untuk mencintai kamu sesuai janjiku...
...(To love you according to my promise)...
...Promise...
...(Janji)...
"Anitha" Panggil Alkenzo dengan lirih ketika melihat seseorang datang kehadapan ya sambil bernyanyi bait terakhir lagu yang dibawakannya.
Dengan perlahan orang tersebut pun berjongkok sambil memegang lembut wajah Alkenzo dengan tatapan yang tidak bisa diartikan saat ini. Anitha, Yaa! Itu adalah Anitha.
Wanita cantik yang tadi bernyanyi dengan begitu merdunya adalah Anitha! Kekasih kecil dari Alkenzo Keano Dirgantara, kekasih kecilnya yang telah pergi selama bertahun-tahun itu kini dengan secara tiba-tiba datang kehadapannya.
"Jangan katakan seperti itu! Aku sangat-sangat merindukanmu" Lirih Anitha pelan dengan perlahan menghapus air mata Alkenzo.
...Grepppp...
Alkenzo yang sangat-sangat merindukan Anitha pun langsung saja menarik tubuh Anitha kedalam pelukannya dengan sangat erat, seakan-akan Anitha tidak diperbolehkan untuk kembali lepas darinya.
"Jangan pergi! Hikssss... Jangan tinggalkan aku, hikssss... Aku mohon! Kembalilah" Pinta Alkenzo dengan lirih.
"Jangan seperti ini Kenzo! Aku mohon, jangan seperti ini. Tolong lupakan aku"
"Tidak! Sampai kapanpun aku tidak akan melepaskan mu kembali! Kau tidak boleh pergi dariku untuk kedua kalinya hikssss... hikssss... Aku tidak akan melepaskan-mu seberapa besar permohonan mu kepadaku nantinya... Aku tetap tidak akan melepaskan-mu hikssss... hikssss..."
"Dunia kita sudah beda Kenzo, Kau dan aku! Kini bagaikan sebuah langit dan bumi atau minyak dan air. Yang kini sama-sama tidak lagi bisa menyatu! Aku mohon padamu untuk terakhir kalinya"
"Jangan pernah memikirkan ku terus menerus, Jangan pernah menangis hanya karena aku! Tetapi tersenyum dan bahagia lah agar aku bisa senang ketika melihatmu kembali tersenyum seperti dulu! Dalam dunia kau aku sudah tidak ada Kenzo. Tapi dalam dunia kita berdua aku masih ada, Aku tau kau pasti mengerti apa yang aku katakan tadi"
"Mengapa? Mengapa saat itu kau menyelamatkanku? Haaa! Hikssss... hikssss... Mengapa kau malah mendorongku dan menyelamatkan ku? MENGAPA?!! Taukah kau Anitha. Hikssss... hikssss... Bahwa aku sangat-sangat membenci atas pengorbanan mu padaku? Tau kah kau itu Anitha?"
"Tidak"
"Hikssss... hikssss... Mengapa kau seperti ini Anitha? Mengapa? Bukankah kau sudah pernah berjanji padaku untuk tidak akan pernah meninggalkan ku? Hikssss... Mengapa kau malah meninggalkan ku sekarang bahkan untuk selama-lamanya"
"Maaf"
"Maafkan aku! Maafkan aku karena aku tidak bisa menepati janjiku saat itu. Tapi... Aku pasti akan menepati janjiku kedepannya"
"Apaa? Bagaimana caranya? Kau sendiri bahkan sudah disini. Sedangkan aku"
Dengan perlahan Anitha pun melepaskan dirinya dari cengkraman Alkenzo atau lebih tepatnya pelukan Alkenzo, dan ketika dirinya perlahan terlepas Anitha-pun mengundurkan dirinya secara perlahan sambil menunjukkan wajah tersenyum nya dengan sangat manis.
"Anitha"
"Tugasku disini sudah selesai"
"Ap-apa... Apa maksudmu?"
"Tugasku sekarang disini sudah berakhir! Tolong biarkan aku pergi, katakan bahwa aku telah melakukan yang terbaik" Kata Anitha lirih yang kini perlahan-lahan mulai memudar.
"Tidak! Jangan pergi hikssss... hikssss... Aku mohon Anitha"
"Mommy telah menunggumu, bangunlah! Dan jangan membuatnya terus menangis. Bukankah kau pernah mengatakan padamu bahwa kau tidak pernah membuat mommy menangis? Maka tepatilah" Ujar Anitha lirih.
"Hikssss... Jangan pergi biarkan aku ikut bersamamu" Pinta Alkenzo dengan perlahan ingin mendekat tapi Anitha lebih dulu sudah menghilang dengan perkataan terkahir nya yang mampu membuat Alkenzo seketika terdiam.
"Temukan aku! Bila cintamu besar kepadaku, kau pasti akan menemukan aku... Di dunia"
Seperti itulah kata terakhir yang diucapkan oleh Anitha ketika perlahan tubuh-nya benar-benar akan menghilangkan menjadi debu yang berterbangan karena terhempas oleh angin yang begitu kencang.
"Tidakkkkk!!"
"Anithaaaa!!"
"Alzo hikssss... hikssss... Kau akhirnya sadar nak! Hikssss... Tolong jangan seperti ini" Tangis Queena dengan memeluk erat tubuh Alkenzo sang putra yang kini sudah terbangun dari pingsannya.
Dengan berteriak memanggil nama "Anitha" sampai seluruh tubuhnya kini dipenuhi oleh keringat dingin dan nafas yang tak beraturan.
"Kakak" Panggil Brianna dengan lirih.
'Mungkinkah kau masih berada di dunia ini Anitha? Mungkinkah kau telah memberi petunjuk kepadaku? Mungkinkah begitu' Batin Alkenzo.
Perlahan dengan perlahan kini mata Alkenzo melihat kearah sekitarnya yang terdapat semua orang didalam pandangannya, Alkenzie, Arianna, David, Sesillia, Shaka bahkan sang daddy yaitu Alvaro kini tengah tertidur dengan pulas nya disofa yang terdapat diruang medis. Tapi tidak dengan Queena, Lauren dan Brianna! Mereka bertiga tidak tidur sepanjang malam karena mereka bertiga terus saja menjaga Alkenzo sepanjang malam.
Karena suhu tubuh Alkenzo sepanjang malam saat itu terus saja meningkat sedikit demi sedikit hingga membuat mereka lebih cemas dua kali lipat, begitu juga dengan tiga dokter pribadi yang ikut serta dalam menjaga suhu tubuh Alkenzo. Mereka bertiga adalah dokter pribadi yang saat itu diberi perintah oleh Alvaro untuk datang merawat putranya itu.
Ketiga dokter tersebut bahkan berbeda-beda negara, saat pertama Alvaro menelpon dokter pribadi keluarga dirgantara yang berada di london lalu ketika melihat kondisi keadaan putranya semakin memburuk, Alvaro kembali menelpon dokter pribadi keluarga dirgantara yang berada di negara prancis dan filandia untuk segera datang kediaman nya saat itu jugaa. Dengan menyuruh Ray dan Rey untuk menjemput ketiganya melalui jet pribadi agar lebih cepat sampai ke los angeles.
'Mereka semua menungguku sepanjang malam? Hingga tertidur dengan begitu pulas nya saat ini bahkan dengan posisi duduk' Batin Alkenzo.
'Ini semua karena aku! Mommy, Aunty Lauren dan Bria bahkan sepertinya tidak tidur. Karena aku bisa melihat jelas lingkaran mata panda nya saat ini. Dan... Ketiga dokter itu? Bukankah itu ketiga dokter profesional keluarga dirgantara yang berada di London?' Batin Alkenzo.
'Mungkinkah daddy yang menyuruh mereka datang kemari? Memangnya seberapa parah kondisiku saat itu' Batin Alkenzo.
"Mommy, mereka" Panggil Alkenzo pelan.
"Mereka mungkin kelelahan ketika membantu mommy menjagamu, bahkan daddy mu juga. Biarkan saja mereka tidur! Karena mereka merasa sangat lelah" Balas Queena pelan dengan perlahan menghapus air matanya.
"Terimakasih"