My First Love Is My Wife

My First Love Is My Wife
S1: Kepulangan Queena



...Empat jam kemudian.......


Setelah mengatakan bahwa dirinya akan baik-baik saja kepada putrinya! Alvaro pun langsung saja melakukan operasi sumsum tulang belakang untuk putrinya itu saat beberapa menit kemudian ia dinyatakan cocok dalam mendonorkan sumsum tulang belakang untuk sang putri... Alvaro bahkan memanggil beberapa dokter terbaik luar negri untuk membantu mengoperasi dirinya dan putrinya itu.


Maura bahkan masih belum mengetahui tentang kepulangan cucu-cucunya! Begitu juga dengan yang lainnya terutama Sesillia... Kalau keluarga Atmadja mereka sudah diberi kabar dari Queena saat itu dan kini mereka tengah menuju ke negara los angeles untuk melihat cicit atau keponakan dari mereka.


Baru saja pulang dari prancis ke los angeles, bukannya merayakan atas pertemuannya dengan sang daddy, Brianna kini justru malah harus berbaring dimeja operasi dengan alat-alat medis yang menempel dibeberapa tubuhnya. Begitu juga dengan Alvaro, bukannya merayakan atas pulangnya anak-anaknya ia justru malah ikut berbaring didalam meja operasi untuk kesekian kalinya.


Akhirnya... setelah empat jam lamanya pintu ruangan operasi yang tertutup itu akhirnya terbuka juga.. dan terlihatlah beberapa dokter. Dan Lauren? Tentu saja ia ikut serta dalam mengoperasi keponakannya itu.


...Ceklekkkk...


"Aunty" Panggil Alkenzie dengan menatap wajah Lauren.


...Grepppp...


"Aunty sangat senang! Karena akhirnya Brianna akan sembuh dari penyakitnya yang selama ini ia rasakan" Kata Lauren dengan memeluk tubuh Alkenzie dan Arianna secara bersamaan.


Lauren tentu saja tidak berani memeluk bocah laki-laki tampan yang satunya itu, karena dirinya yang begitu takut dengan wajah dingin dan arogan tersebut... Yaa, walaupun Alkenzo masih berumur lima tahun tapi aura pemimpin dan dewasanya sudah terlihat dari sudut pandangnya itu. Makanya tidak ada yang berani memeluk tubuh Alkenzo selain Brianna dan Arianna.


Queena sendiri yang sebagai mommy dari Alkenzo bahkan tidak berani bila harus memeluk tubuh Alkenzo sang putra jika tanpa izin dari pemiliknya.


"Apakah itu benar aunty? Brianna adikku akan sembuh... Ia akan bisa sepertiku aunty?" Tanya Arianna dengan antusiasnya.


"Benar, tapi... Tunggu Brianna sudah benar-benar pulih. Baru kau bisa mengajaknya untuk pergi kemanapun yang kau inginkan bersamanya" Jawab Lauren dengan mencubit pelan hidung mungil Arianna.


'Terimakasih atas kesembuhannya adikku tuhan' Batin Alkenzo.


"Bagiamana kondisi daddy kami saat ini?" Tanya Alkenzo dengan menatap datar sekelilingnya.


"Daddy mu sangat kuat! Ia baik-baik saja... Dan mungkin tidak lama lagi daddy mu akan sadar" Jawab Lauren dengan tersenyum manis.


"Hmmmm"


...*****...


...Bandara Los Angeles Internasional Airport...



"I'm back" Ucap seseorang dengan lirih sambil menatap sekitarnya.


"Aku sudah memutuskan untuk kembali kesini... Dan kemungkinan aku pasti tidak akan bisa pergi dari sini lagi" Kata orang tersebut dengan tersenyum kecut. Begitu cepat dirinya sampai ke negara asalnya, karena memang ia memesan pesawat yang expres dalam perjalanan menuju negaranya.


Itu semua ia lakukan hanya untuk bisa kembali melihat anak-anaknya serta suaminya itu, siapa lagi jika bukan Queena yang tiba di bandara los angeles saat ini.


...Callon...


'Halo' Panggil seseorang tersebut.


'Halo?' Jawab di sebrang sana.


'Bisakah kau menjemput ku di bandara?'


'Kau siapa? Tunggu...'


'Aku yakin kau bisa menebaknya'


'Kakak!! Kakak apa kau kembali'


'Benar, jemputlah kakak di bandara sekarang Sesillia atau kakak akan pergi kembali'


'Kakak tunggu aku. Aku pasti akan menjemputmu sekarang'


'Hmmm, cepatlah'


Tut.


"Apakah operasinya sudah selesai? Apakah aku terlambat?" Gumam orang tersebut yang tak lain adalah Queena.


Yupsss.. Akhirnya setelah memikirkan matang-matang iapun memutuskan untuk kembali ke negaranya. Karena ia ingin menemani putrinya yang baru saja selesai dioperasi, dan ia juga akan merawat serta menjaga kembali suaminya itu.


"Huuuffff... Aku tidak tau apakah Alvaro masih mau memaafkan aku dan mau menerimaku lagi? Atas apa yang telah aku lakukan" Ucap pelan Queena dengan terduduk di kursi yang ada di bandara.


-Mengapa tiba-tiba bandara ini dikunci?.


-Aku tidak tau, tapi... Ini adalah momen langkah bukan?.


-Benar, momen langkah karena kita bisa bertemu secara langsung untuk melihat pria-pria tampan dari Dirga Grup bukan?.


-Yang kau katakan memang benar! Maka dari itu kau harus menyiapkan hendphonemu untuk memotret mereka nantinya.


-Tentu saja.


"Bandara ini terkunci?" Tanya Queena yang tak sengaja mendengar pembicaraan orang-orang yang ada disekitarnya.


"Tunggu! Dirga Grup? Jangan-jangan..." Kata Queena dengan terbengong.


"Cepat!! Buatlah lingkaran!!" Teriak seseorang yang tak lain adalah Ray dan Rey yang datang secara tiba-tiba dengan berteriak sambil memberikan perintah kepada anak buah Dirga Grup untuk mengelilingi Queena.


Queena-pun langsung saja berdiri dari tempatnya duduk, dan menatap aneh kepada anak buah Dirga Grup.


"Nyonya muda" Panggil Ray dan Rey dengan hormat.


"Ray? Rey?" Ucap Queena dengan kebingungan.


"Nyonya muda, sudah waktunya untuk anda pulang" Kata Ray dengan perlahan mendekat kearah Queena.


"Ada apa nyonya muda?" Tanya Ray dengan mengerutkan keningnya.


"Kau ingin membawaku kemana?" Tanya Queena dengan raut wajah yang kebingungan.


"Tentu saja membawa anda kembali pulang ke mansion" Jawab Ray.


"Tidak! Aku tidak ingin pulang ke mansion...." Tolak Queena karena dirinya memang tidak ingin pulang terlebih dahulu.


"Maaf nyonya muda! Tapi ini perintah dari tuan besar untuk kami" Celetuk Rey dengan perlahan mendekat kearah Queena juga sama halnya dengan Ray.


"Tidak!"


"Aku tidak ingin pulang aku ingin pergi kerumah sakit terlebih dahulu" Tutur Queena dengan menggelangkan kepalanya dan perlahan memundurkan tubuhnya.


"Maaf, nyonya muda" Kata Rey dengan mengisyaratkan sesuatu kepada anak buah Dirga Grup.


"Tolong jangan bawa aku ke mansion terlebih dahulu! Tapi... Bawalah aku ke rumah sakit! Setelah itu kalian baru--" Ucap Queena tapi terpotong karena dirinya tiba-tiba saja merasa ada yang memukul lehernya dan membuat dirinya pingsan.


...Pakk...


...Bruuukkkk...


...Haaappppp...


"Maafkan kami nyonya muda! Tapi perintah dari tuan tidak bisa kami langgar... Tuan menyuruh kami untuk membawa anda pulang dan tidak memperbolehkan anda untuk kerumah sakit" Tutur Rey yang dengan sigap menangkap tubuh yang hampir saja terjatuh karena tidak sadarkan diri.


"Buka kembali akses bandara ini! Karena tugas kita sudah selesai saat ini" Titah Ray kepada anak buah Dirga Grup.


"Baik tuan" Jawab anak buah Dirga Grup secara serempak.


...Mansion Alqueen...



"Ray? Mengapa kau datang nakk? Apa kau mencari Alvaro" Tanya Maura yang tidak sengaja melihat Ray yang berniat untuk pergi menaiki anak tangga yang menuju ke kamar utaman Alqueen.


"Nyonya besar" Panggil Ray dengan menunduk hormat.


"Kau tidak menjawab pertanyaan mommy Ray?" Tanya kembali Maura.


"Maafkan saya nyonya besar, hanya saja... Saat ini saya bukan berniat untuk bertemu tuan besar! Saya kemari--" Jawab Ray yang terpotong karena sapa'an dari Rey yang sudah berada dibelakangnya.


"Nyonya besar" Sapa Rey dengan hormat.


"Hmmmm" Dehem Maura dengan berbalik dan ketika berbalik ia langsung saja terkejut dengan apa yang ia lihat saat ini.


Dimana Queena sekarang tengah berada di gendong Rey dengan kondisi yang tidak sadarkan diri akibat ulah salah satu Dirga Grup tadi yang memukul belakang leher Queena agar Queena pingsan.


"Annaaa!!" Panggil Maura dengan mendekat kearah Rey.


"Maaf nyonya besar, kami harus buru-buru meletakkan nyonya muda didalam kamarnya. Karena saya takut nyonya muda akan segera sadar" Ujar Ray dan Rey secara bersamaan.


"Baiklah..." Balas Maura dengan mengikuti Ray dan Rey menuju kamar Alqueen.


...Skippppp.......


...Kamar Alqueen...



Setelah sampai didalam kamar Alqueen, Rey pun mulai perlahan meletakkan tubuh Queena dengan sangat hati-hati.


"Tugas kita sudah selesai! Sekarang kita harus pergi untuk memberitahukan kepada tuan besar...." Bisik Rey kepada Ray.


"Anna" Lirih Maura yang berniat untuk mendekat kearah Queena tapi terhalang oleh Ray dan Rey.


"Maafkan kami sekali lagi nyonya besar... Sudah saatnya anda harus keluar dari sini, karena tuan besar tidak memperbolehkan siapapun masuk kedalam sini begitu lama... Sebentar lagi nyonya muda akan sadar kami takut nyonya muda akan melarikan diri lagi" Tutur Rey dengan menghalangi Maura.


"Tapi... Huuuuffff! Baiklah..." Balas Maura dengan membuang nafasnya secara kasar.


"Mari..." Ajak Ray dan Rey dengan mempersilahkan Maura untuk keluar yang pertama.


Setelah Maura keluar, Ray dan Ray-pun tidak lupa untuk mengunci kamar Alqueen dari luar agar nantinya ketika Queena bangun. Ia tidak bisa melarikan diri, Bahkan jika Queena tetap berusaha untuk melarikan diri seperti tidak akan berhasil karena sekarang setiap sudut mansion Alqueen terdapat anak buah Dirga Grup dan Tara Grup yang kini tengah menjaga mansion Alqueen dengan sangat ketatnya.


...Ruang Tamu...



"Mommy" Panggil seseorang dengan berlari kecil menuju kearah Maura yang baru saja duduk.


"Sesillia?" Panggil Maura.


"Mommy, apa ka Queena sudah pulang?" Tanya Sesillia dengan khawatir karena tadi ketika dirinya sampai di bandara ia tidak bisa menemukan Queena.


"Sudah... Sekarang ia sedang pingsan didalam. kamarnya" Jawab Maura dengan mengangguk kecil.


"Aku ingin menemuinya..." Kata Sesillia dengan berniat untuk langsung menuju kekamar Alqueen tapi pergelangan tangannya justru ditarik Maura.


"Kali ini tidak bisa nakk! Karena Alvaro telah memerintahkan anak buahnya untuk tidak memberi izin kepada siapapun yang berniat untuk masuk kedalam kamarnya... Bahkan mommy sendiri saja tidak bisa" Jelas Maura.


"Anak buah kakak ipar? Apa... Didepan kamar kakak ipar ada anak buah Dirga Grup? Atau... Tara Grup?" Tanya Sesillia dengan mengerutkan keningnya.


"Keduanya... Apa kau tidak melihat semua anak buah Dirga Grup dan Tara Grup yang sedang berjaga diluar?" Tanya Balik Maura.


"Tidak... Aku terlalu terburu-buru dengan berlari kesini tanpa melihat sekitar" Balas Sesillia dengan menggelangkan kepalanya.