
Setelah menceritakan kejadian yang selalu menimpa-nya kepada dirinya dan suaminya itu, kini Queena justru malah menatap aneh terhadap Lauren.
"Pourquoi pleures-tu Lauren?" Tanya Queena dengan menatap aneh terhadap Lauren yang kini tengah menangis dengan sesugukan.
...(Mengapa kau menangis Lauren?)...
"Frère, Pourquoi ton destin est-il plus compliqué que le mien! hikssss.... J'ai pleuré parce que je pensais que ma vie était si injuste... mais maintenant je sais que ton destin est plus injuste que le destin de ma vie Frère" Jawab Lauren dengan berkali-kali menghapus air matanya yang terus saja membasahi pipinya.
...(Kakak, mengapa takdir hidupmu lebih rumit dari takdir hidupku! hikssss.... aku menangis karena aku berfikir dulu hidupku sangatlah tidak adil... tapi sekarang aku tau bahwa takdirmu lebih tidak adil dari pada takdir hidupku kakak)...
"Ne pleure pas déjà!! Le destin de Big Brother C'est comme ça depuis l'enfance, mais... Brother ne peut pas complètement battre le destin... Maman et papa ont dit un jour de ne pas blâmer le destin pour ce qui s'était passé... alors à partir d'aujourd'hui, vous aussi devez être comme Big Brother qui n'a pas à blâmer le destin pour ce qui s'est passé! tu comprends Laurent" Pungkas Queena kepada Lauren.
...(Sudah jangan menangis!! Takdir hidup kakak memang seperti ini sejak kecil, tapi... Kakak tidak bisa mengalahkan takdir sepenuhnya... Bunda dan Ayah pernah berkata untuk tidak menyalahkan takdir atas apa yang telah terjadi... jadi mulai hari ini kau juga harus seperti kakak yang tidak perlu menyalahkan takdir tentang apa yang telah terjadi! kau mengerti Lauren?)...
"je comprends frère" Balas Lauren.
...(Aku mengerti kakak)...
"Frère, pouvez-vous m'apprendre votre langue?" Tanya Lauren yang meminta Queena untuk mengajarinya bahasanya. Karena ia ingin agar ketika dirinya suatu saat pergi ke los angeles ia sudah dapat mengerti bahasanya.
...(Kakak, bisakah kau mengajariku bahasamu?)...
"Bien sûr, dès demain grand frère t'apprendra la langue que tu veux" Kata Queena dengan senang hati menjawab Pertanyaan Lauren lebih tepatnya Permintaan dari Lauren.
...(Tentu saja, mulai besok kakak akan mengajarimu bahasa yang kau inginkan)...
"Merci ma soeur" Balas Lauren.
...(Terimakasih, kakak)...
"Hmmmm" Dehem Queena.
...Flashback Off...
"Apa kau sudah selesai membersihkan tubuhmu Lauren?" Tanya Queena dengan menatap Lauren yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Sudah kakak" Jawab Lauren lalu berjalan mendekat kearah Queena yang tengah terduduk diatas Kasur sambil memandangi Sebuah Majalah.
"Kakak, bagaimana kondisi keponakanku? Apa mereka baik-baik saja?" Tanya Lauren dengan berhamburan menjatuhkan tubuhnya tepat didepan perut Queena.
"Mereka sehat" Balas Queena dengan menaruh Majalah yang sedang ia lihat tadi di atas Nakas miliknya.
"Apa jenis kelaminnya kakak?" Tanya Lauren dengan antusiasnya.
"Biar kakak bisikan" Ujar Queena dengan memainkan kedua alisnya.
"Baiklahh"
"....."
"Wahhh, apa itu benar kakak?" Tanya kembali Lauren dengan bahagianya setelah mendapatkan bisikan dari Queena perihal jenis kelamin anak-anaknya.
"Tentu saja! Kau bisa melihatnya nanti..." Jawab Queena dengan tersenyum manis.
"Baiklah, sepertinya aku mulai tidak sabar dengan keponakan-ku ini kakak" Kata Lauren dengan mengelus-eluss perut Queena.
"Kakak" Panggil Lauren.
"Ada apa?." Tanya Queena dengan menatap wajah Lauren yang kini tengah berbaring didepan perutnya.
"Kakak apa kau tau? Sekarang seluruh anak buah Dirga Grup, Tara Grup, At-dja Grup dan Wi-ams Grup tengah mencari keberadaanmu! Bahkan tadi, ketika aku baru selesai mengoperasi pasienku. Aku tidak sengaja melihat beberapa anak buah Tara Grup datang ke rumah sakit" Jelas Lauren dengan terduduk.
"Mengapa mereka datang Ke rumah sakit tempatmu bekerja?" Tanya Queena.
"Mereka datang untuk mencari daftar namamu! Apakah kau sering cek up tentang krhamilanmu atau tidak disana, sebenarnya aku mendengar bukan hanya rumah sakit tempatku bekerja saja... Tapi, seluruh rumah sakit yang berada di negara ini juga di datangi oleh mereka... Dan itu hanya untuk mencari namamu saja kakak" Jawab Lauren kembali dengan serius.
"Kakak sudah tau akan hal itu, untungnya kakak sudah mengganti nama kakak menjadi 'Agatha' ketika kakak sedang berada diluar! Bukan karena apa-apa... Tapi... Kakak sangat yakin bila kakak tidak memakai nama palsu ketika kakak tengah ingin cek up pasti suami kakak akan mengetahui keberadaan kakak disini" Jelas Queena yang kini tengah memaki nama samaran.
"Tapi kakak..." Ucap Lauren yang terpotong oleh ucapan Queena.
"Sudah tidurlah! Apa kau tidak lelah seharian ini merawat pasien-pasienmu?" Tanya Queena.
"Sedikit"
"Baiklah kakak" Balas Lauren lalu mulai memejamkan matanya begitu juga dengan Queena.
...*****...
...Los Angeles...
Karena di prancis sekarang tengah Jam 22;00 maka di Los Angeles sekarang tengah Jam 07:00.
...Mansion Alqueen...
...Kamar Alqueen...
"Kau masih tidak ingin pulang juga ke sini sayang... Sudah lima bulan kau meninggalkanku sendiri disini!Apa kau tidak merindukan aku?" Gumam seseorang dengan memandang sebuah foto yang terdapat dirinya dan istrinya didalam sana, siapa lagi jika bukan Alvaro.
"Berapa lama lagi aku harus menunggumu? Sudah cukup waktu yang aku berikan untukmu! kembalilah jangan takut dengan ancaman wanita gila itu, karena aku sudah menangkapnya. Jadi aku mohon padamu... Kembalilah... Aku merindukanmu dan merindukan anak-anak" Lirih Alvaro dengan pelan.
Yups, Jadi Alvaro sudah berhasil menangkap Mira, Amanda, dan Mara ibu kandung dari Mira. Hanya saja Mara Ibu Kandung Mira telah meninggal karena ulah Mira yang mengkambing hitamkan ibu-nya atas apa yang telah terjadi. Mara meninggal karena tertembak tepat di jantungnya dan itu disebabkan oleh Mira juga yang berniat ingin membunuh Amanda dengan menggunakan pistol, karena baginya Amanda membawa masalah kali ini, hingga membuatnya mau tidak mau harus membunuh Amanda tapi justru tembakan-nya malah meleset! Dan malah mengenai Mara ibu kandungnya itu tepat di jantungnya. Hingga membuat Mara meninggal ditempat dengan luka pistol di jantungnya.
Sedangkan Amanda, Ia kini berada didalam rumah sakit jiwa! Karena gangguan mental-nya yang sudah melebihi batas. hingga membuat Alvaro langsung saja memutuskan untuk membawa Amanda kedalam rumah sakit jiwa, dan didalam situ Amanda bahkan dijaga dengan sangat ketat oleh anak buahnya. Karena Alvaro takut bahwa Amanda akan sadar kembali lalu nantinya akan melarikan diri dan berniat untuk mencelakai istrinya kembali.
Lalu... Untuk keluarga Atmadja. Beberapa bulan lalu mereka sudah kembali ke australia karena tiba-tiba saja disana terkena masalah. Hingga membuat mereka semua mau tidak mau harus kembali ke Australia! Tapi... Zian dan Zayyann tetap mengutuskan seluruh anak buah At-dja Grup untuk terus mencari keberadaan Queena karena bagaimana-pun juga, Queena adalah cucu pertama dari keluarga Atmadja.
Sedangkan Mira saat ini. Ia tengah di sekap oleh Alvaro didalam markas Dirga Grup dimana dirinya yang tengah di jaga didalam ruang bawah tanah! Dimana ruang bawah tanah tersebut adalah ruangan yang tidak bisa sembarang orang masuk dan hanya keluarga Dirgantara saja yang bisa masuk kedalam sana.
Jangan bertanya bagaimana kondisi keadaan Mira saat ini! Yang jelas dirinya sangatlat tersiksa didalam sana, dengan wajah yang penuh dengan memar dan dirinya yang dikurung didalam sebuah sel dan kaki ter-rantai dengan sangat kuat dan badan yang sangat bau. Tapi... Alvaro masih berbaik hati dengan memberikan Mira sebuah makanan dan minuman, makanan dan minuman-nya bukan seperti makanan bekas atau sisa... Alvaro masih mempunyai hati makanya ia memberikan makanan yang sehat dan mahal tentunya. Sesekali Alvaro pergi melihat kondisi keadaan Mira.
"Beberapa Hari lagi adalah ulang tahunku bukan? Maka aku menginginkan sebuah hadiah dan hadiah yang aku inginkan adalah dirimu... Bisakah kau mengabulkannya sesekali sayang?" Ujar Alvaro yang masih setia memandangi foto kecil istrinya itu.
...Tokkk tokkk tokkk...
"Alvaro, bolehkan aku masuk?" Panggil seseorang dari luar pintu Kamar Alvaro.
"Hmmmm" Dehem Alvaro lalu meletakkan foto Queena kembali ke tempatnya, lalu iapun mulai berjalan mendekati sofa yang terdapat didalam kamarnya itu.
...Ceklekkkk...
"Ada apa?" Tanya Alvaro dengan datar menatap wajah David yang datang dengan membawa sesuatu ditangannya.
"Lihatlah" Ujar David dengan memberikan sebuah berkas kepada Alvaro.
"Tidak ada pengeluaran?" Tanya Alvaro singkat dengan menaikkan satu alisnya.
"Benar, kakak ipar sampai hari ini masih tidak memakai kartu-kartunya! Jadi tidak ada pengeluaran dari kartu-kartu miliknya hanya ada penambahan saja setiap bulannya, dan itu dari kau" Jawab David yang memang ditugaskan untuk mengecek setiap bulannya kartu-kartu milik Queena yang tidak sengaja ia bawa pergi.
Alvaro selalu menyuruh David untuk memantau setiap laporan yang ada mengenai Queena sekecil apapun itu, dan untuk kartu-kartu Queena ia setiap bulannya ia akan menambahkan nominalnya, agar ketika nanti Queena membutuhkan yang Queena dengan mudah bisa memakainya.
"Hmmmm, pergilah" Kata Alvaro dengan menyuruh David pergi.
"Sampai Kapan kau akan terus seperti ini Al? Sudah lima bulan kau seperti ini, kau menjadi pria datar dan dingin melebihi sebelumnya! Bahkan kau hanya akan menjawab dua sampai tiga kata saja. Kau seperti raga tanpa nyawa! Ragamu ada tapi nyawamu tidak ada, apa kau tidak lelah aeperti ini?" Kesal David yang kini mulai mengeluarkan kekesalannya kepada Alvaro.
"Nyawaku memang tidak ada, istriku telah membawanya" Tutur Alvaro dengan dingin.
"Jangan seperti ini Al! Apa kau tidak lelah dengan hidupmu saat ini! Ak--" Ucap David yang terpotong oleh ucapan Alvaro.
"Pergi" Potong Alvaro.
Tanpa menjawab lagi, David-pun langsung saja pergi keluar dari kamar Alvaro bahkan dengan membanting pintu kamar Alvaro. karena saking kesalnya dirinya terhadap Alvaro yang selama ini tidak pernah mau mendengarkannya.
...Brakkkk...
Alvaro hanya menatap datar kepergian David, karena ia sadar bahwa apa yang dikatakan oleh David memang ada benarnya. Mengenai dirinya itu.
"Diriku akan kembali jika istriku kembali! Saat ini aku memang hidup tapi hanya ragaku tidak dengan nyawaku, aku hanya mempunyai raga tidak dengan nyawa saat ini. Karena nyawaku telah pergi... Aku hidup tapi aku seperti mati" Ucap pelan Alvaro.
"Kembalilah" Lirih Alvaro pelan.