My First Love Is My Wife

My First Love Is My Wife
S1: Kepulangan keluarga atmadja



...Mansion Alqueen...



"Kakak ipar" Panggil David dengan sedikit berteriak yang mana dirinya baru saja tiba di mansion Alqueen.


"David? Ada apa kau kemari? Apa kau ingin menemui Alvaro?" Tanya Queena yang datang dari lantai atas dan masih berada di anak tangga. Lalu Queena'pun menyuruh David untuk duduk di sofa lebih dulu.


"Kau ingin minum apa?" Tanya Queena dengan menawari David minum.


"Air biasa saja kakak ipar" Balas David.


"Baiklah"


"Bi... Bibi..." Panggil Queena kepada bi Lin.


"Iyaa, nona ada apa?" Sahut bi Lin dengan membungkuk hormat yang baru datang dengan terburu-buru dari arah dapur menuju ke ruang tamu.


"Bi, tolong ambilkan air untuk David ya" Titah Queena dengan tersenyum.


"Baik nona... hmmmm, nona ingin minum apa?" Tanya bi Lin.


"Tidak usah bi" Jawab Queena tersenyum manis lalu kembali menatap Wajah David.


"Baik nona, kalau begitu saya permisi" Pamit Bi Lin lalu mulai pergi menuju ke dapur.


"Hmmm"


"Kakak ipar, ada apa dengan kening'mu? mengapa di perban?" Tanya David yang sedari tadi menatap Kening Queena yang diperban tanpa henti.


"Tidak apa-apa, ini hanya tidak sengaja terbentur oleh sudut lemari dapur jadi tidak usah terlalu memperhatikan'nya" Bohong Queena tapi masih bisa di ketahui oleh David jika Queena sedang berbohong.


"Kau tidak sedang membohongiku'kan kakak ipar?" Tanya David dengan tatapan menyelidik kepada Queena padahal jelas-jelas ia memang sudah tau jika Queena saat ini sedang berbohong padanya dari cara bagaimana Queena berbicara.


"U-untuk apa kakak membohongi'mu David? Kau ini" Elak Queena yang berniat ingin mengalihkan topik pembicaraan saat ini.


"Ohh, iya David... Kau belum menjawab pertanyaan kakak tadi.. Kenapa kau kemari? Apa kau ingin bertemu Alvaro" Tanya kembali Queena yang mengalihkan pembicaraan.


"Tidak Kakak ipar!! Aku kesini hanya ingin melihat'mu saja... hmmmm, Kakak ipar aku ingin memberitahu'mu bahwa Alvaro saat ini berada di apartemen milik'ku.Ia mengatakan bhawa tiga hari kedepan ia akan bersama diriku" Jawab David dengan memberi tahu Queena bahwa Alvaro tengah berada di dalam apartemen milik'nya itu jadi Queena tidak perlu cemas akan Alvaro nantinya ketika Alvaro tidak kembali.


"Alvaro? Hmmmm, biarkan saja... aku yakin dia pasti akan pulang dengan sendirinya" Ujar Queena sambil tersenyum kecil.


"Kakak ipar, apa kau sedang bertengkar? Mengapa kau bertengkar? bukankah kau baru saja menikah dengan Alvaro? lalu... Mengapa kau bisa bertengkar di hari pertamamu menjadi istrinya? Apakah ada sesuatu yang membuat Alvaro marah dengan'mu kakak ipar? maafkan aku karena lancang bertanya padamu mengenai masalah rumah tangga'mu" Tanya David dengan melontarkan pertanyaan yang begitu banyaknya kepada Queena, tapi justru Queena malah menjawabnya dengan sangat singkat.


"Tidak" Jawab Queena.


"Permisi ini minuman'nya, tuan" Ucap Bi Lin dengan membawa sebuah nampan berisi minuman dan beberapa cemilan untuk David.


"Ahhh, iyaa... Terimakasih bi" Balas David tersenyum.


"Sama-sama, tuan" Balas kembali Bi Lin lalu bi Lin pun mulai kembali pergi menuju dapur.


...Drettt.... Dretttt.......


"Dari siapa?" Tanya Queena Penasaran.


"Ini dari klien kakak ipar, Karena sebenarnya sebentar lagi aku akan melakukan sebuah metting... Yaa sudah kalau begitu aku pamit kk ipar" Pamit David lalu bersalaman pada Queena dan setelah itu pergi.


"Hmmm, Hati-hati David." Ujar Queena dengan Menggelengkan kepalanya.


...*****...


...Mansion Kusuma...



"Daddy, apa kita akan pulang hari ini juga?" Tanya Aldo.


"Yes, boyyy" Jawab Zayyann.


"Menapa kalian tidak ingin memberitahu'kan kepada aunty lebih dulu bahwa kita akan kembali ke australia hari ini?" Tanya kembali Aldo sambil menatap wajah tampan sang daddy yaitu Zayyann.


"Aldo, Cucu grendpa dengarkan grendpa... Kau tau kan bukan bahwa aunty'mu baru saja menikah? Jadi... kita tidak boleh mengganggu'nya. Biarkan saja aunty'mu tidak mengetahui kepulangan ke australia" Sahut Zian dengan menasehati Aldo sang cucu sambil menggendong tubuh mungil Aldo yang sudah lama tidak ia gendong.


"Kita akan memberitahu'kan pada aunty'mu nanti setelah kita sudah sampai di australia saja


lewat sebuah vidio call, Atau sebuah telpon. Bagaimana? kau setuju Al?" Turu Zian kembali yang kini mulai di angguki oleh Aldo.


"Aku mengerti grendpa, daddy" Jawab Aldo dengan mengangguk'kan kepalanya kecil.


"Good boyyy"


"Good boyyy"


...Skippppp......


...Australia...






"Ahh... Akhirnya aku bisa menghirup udara segar di australia kembali" Ucap antusias Aldo dengan merentangkan kedua tangannya sambil duduk diatas koper, tak lupa ia memakai sebuah kaca mata hitam'nya.


"Apa kau senang?" Tanya Kiana dengan mencubit pelan pipi tembam cucunya itu Aldo.


"Aww... Tentu saja grendma, ini kan negara kelahiran'ku" Bangga Aldo dengan merintih kesakitan karena Kiana yang tiba-tiba mencubit pipi tembam'nya itu.


"Hahahaha... Grendma jadi sangat gemas denganmu Al" Kata Kiana dengan geregetan kepada Aldo.


"Mommy" Panggil Aldo.


"Ada apa Al?" Tanya Alea.


"Beri aku pinjam hendphone'mu" Kata Aldo dengan mengulurkan lengan kecil'nya untuk minta hendphone genggam milik Alea.


"Ini" Ucap Alea dengan memberikan hendphone genggam miliknya itu kepada sang putra tanpa cuma-cuma.


"Terimakasih, mommy" Ucap Aldo.


"Sama-sama, sayang" Balas Alea.


...Callon...


'Iyaa, Al ada apa?' Tanya seseorang di seberang sana yang mana tak lain adalah Queena dengan memanggil pnggilan vidio kepada Queena.


'Aunty... Lihatlah aku sedang berada dimana?' Ujar Aldo dengan antusiasnya dan mengarahkan kamera hendphone'nya ke sekeliling'nya saat ini.


'Kau sedang duduk di atas sebuah koper dan.... Tunggu bukankah itu bandara? Al, mengapa kau berada dibandara? Dan sepertinya itu bandara... Udara Internasional Melbourne Airport. Bandara yang berada di Australiaaa...' Terkejut Queena di sebrang sana.


'Tepat sekali auntyku yang cantik dan pintar'


'Kalian sudah kembali ke australia? Menapa kalian tidak memberitahu'ku jika kalian akan pulang ke australia hari ini... Kenapa kalian malah pergi tanpa pamit dariku! Kalian kejam sekali!'


'Jika kami memberitahu'kan kepada'mu bahwa kami akan pulang ke australia, pasti kau akan menunda-nunda kami dengan beribu alasan... Jadi kami lebih baik lergi tanpa berpamitan dengan'mu dan lagi, kau baru saja menikah jadi waktunya untuk berduaan saja dengan suami'mu tanpa ada gangguan! Kau mengerti bukan' Sahut Zayynn dengan merebut hendphone sang istri dari genggaman tangan sang putra Aldo.


'Tapikan seharusnya kalian memberitahukan padaku bukan? Ahh... Sudahlah, hmmmm? Apakah kalian baik-baik saja saat perjalanan tadi?'


'Kami baik-baik saja'


'Ohh cucuku... Maafkan Grendma yang tidak memberitahukan kepadamu tentang kepulangan kami nakk...' Celetuk Kiana yang mengambil alih hendphone Alea dari genggam Zayynn.


'Tidak, apa grendma'


'Cucuku... Queena, maafkan grendpa juga ya sayang.. Jangan salahkan grendpa dan yang lainnya. Salahkan saja uncle'mu karena ini ide dari uncle'mu itu' Kata Zian yang merebut hendphone Alea dari genggaman tangan Kiana sang istri.


'Heyy pak tuaaa, jangan menyalahkan aku sendiri ini juga ide darimu bukan hanya aku saja' Kesal Zayyann yang mendengar ucapan papa'nya itu.


'Tidak apa grendpa, Aku mengerti'


'Papa... aku juga ingin bicara dengan keponakan'ku... Ohh... Keponakan'nya aunty, maafkan aunty juga ya karena... Tunggu ada apa dengan kening'mu?' Tanya Alea dengan sopan mengambil hendphone'nya dan saat melihat wajah Queena ia langsung tertuju ke arah kening Queena yang di balut sebuah perban.


'Biarkan kami juga melihatnya' Pinta yang lainnya lalu Alea'pun langsung saja menjauhkan sedikit hendphone'nya agar semuanya bisa melihat jelas layar hendphone'nya itu yang terdapat wajah Queena di dalamnya.


'Ini tidak apa-apa aunty... Tadi pagi aku tidak sengaja terbentur oleh lemari saat ingin mengambil bahan-bahan masak di dapur saja' Bohong kembali Queena dengan menunjukan raut wajah yang tidak apa-apa.


'lain kali kau harus hati-hati Queenaaa'


'Baik uncle'


'Kau harus lebih berhati-hati lagi cucuku, agar tidak kembali terluka! Kami tidak suka jika kau terluka. Apa kau mengerti nakk?!'


'Aku mengerti grendpa, grendma'


'Kau tidak berbohong'kan, Queena?'


'Aku tidak berbohong, Aunty'


'Hmmm, yasudah kalau begitu aunty matikan telponnya ya sayang?'


'Baik aunty'


'Jaga dirimu baik-baik'


'Pasti aunty'


Tut.


"Kenapa aku bisa melupakan kening'ku yang memar ini sihh" Gerutu Queena dengan kesal pada dirinya sendiri, Lalu setelah itu iapun pergi begitu saja entah ingin kemana setelah memutuskan sambungan telpon dari keluarga Atmadja.