
...Dirgantara hospital...
"Kondisinya menurut secara drastis. Suster siapkan kembali alat-alat operasi yang lainnya" Pinta Lauren dengan nada panik yang mana kini dirinya tengah mengoperasi Zanitha.
Yaapss! Zanitha, ia kini tengah dioperasi oleh Lauren, Brianna, Dokter Vito dan Dokter Arlan. Suasana di dalam ruang operasi kini tengah sangat amat tegang karena setiap menitnya kondisi Zanitha mulai menurun secara drastis, hingga membuat para dokter dan suster menjadi lebih panik dan cemas dibuatnya.
Operasi yang mereka jalankan sekarang adalah operasi pengangkatan sisa gumpalan darah yang masih tersimpan di kepala Zanitha. Makanya operasi kali ini lebih menegangkan karena jika mereka salah sedikit dalam mengambil langkah taruhan nya adalah nyawa.
...Tittt... tittt... tittt......
...*****...
"Dimana Anitha?!" Tanya Alkenzo yang baru saja datang bersama dengan yang lainnya.
"Tuan Alkenzo?" Panggil Tania pelan sambil menghapus air matanya dengan cepat di ikuti oleh Zaza dan Liora, Yaaa! Mereka berdua juga ikut serta berada disitu karena mereka berdua ingin menemani Tania agar Tania tidak sendiri dan bosan nantinya.
"Jelaskan kepadaku apa yang terjadi dengannya? Bukankah kondisi nya tadi masih baik-baik saja dan stabil?! Mengapa tiba-tiba ia bisa seperti ini?" Tanya Alkenzo dengan nada marah menatap ketiganya.
"Kakak! Tahan amarah mu aku tau kau sedang marah saat ini karena kakak Anitha, tapi kau harus sadar kalau mereka tidak tau apa-apa tentang ini semua" Ujar Alkenzie dengan menenangi Alkenzo sang kakak.
"M-maaf tuan, saya tidak tau yang jelas mengapa Zea bisa seperti ini... Tapi anda bisa melihat rekaman ini saja agar anda bisa menilai nya sendiri! Rekaman ini saya ambil dari kamera cctv yang berada di dalam kamar Zea" Tutur Tania dengan gugup sambil perlahan menyerahkan hendphone genggam miliknya kepada Alkenzo karena ia ingin memberi lihat sebuah rekaman cctv.
Tanpa aba-aba tiba-tiba saja Alkenzo langsung mengambil hendphone genggam milik Tania, Lalu setelah itu iapaun mulai melihat sebuah rekaman tersebut.
...Isi rekaman cctv...
..."Anitha? Mereka semua selalu memanggilku dengan nama "Anitha"? Sebenarnya apa hubungan ku dengan mereka semua?" Tanya Zanitha kepada dirinya sendiri.......
..."Kotak itu... Yaa, mungkin saja aku bisa mendapatkan sesuatu dari dalam kotak itu. Lagi pula aku sama sekali belum membuka isi kotak itu" Kata Zanitha lalu dengan terburu-buru mencari sesuatu didalam lemarinya....
..."Ketemu! Kotak ini, aku harap aku bisa mendapatkan sesuatu dari dalam kotak ini" Ujar Zanitha dengan cepat membuka sebuah kotak yang telah ditinggalkan oleh kedua orang tua angkatnya untuk dirinya itu....
..."Ini.... Foto-foto apa?" Gumam Zanitha dengan bertanya-tanya ketika melihat sebuah foto....
..."Anitha?! Ak--aku..."...
..."Jadi aku... Hahh! Ak--aku... H-hiksss... hikssss... Aku Anitha? Tap-i... hikssss..." Isak Zanitha....
..."Ini kotak cincin-nya? Hikssss... Jadi aku adalah Anitha?! Hah.... Hah" Gumam Zanitha dengan nada tak percaya setelah melihat semua isi kotak yang berada didalamnya....
..."Haaaaa... hikssss... hikssss.."...
..."Hikssss... Anitha! Rupanya adalah aku" Histeris Zanitha dengan mengacak-acak seluruh isi dalam kotak tersebut....
..."Awsss... Kepalaku!! Ini... Ini sangat sakit" Rintih Zanitha dengan memegangi kepalanya yang terasa sangat sakit....
..."Arghhhh!!"...
..."Sakit!! Kepalaku, Arghhhhhh!! Taniaaaa!!" Teriak Zanitha dengan memanggil nama Tania....
..."Taniaaaa!!"...
..."H-hiksss... hikssss... Sakit! Tania hikssss..." Tangis Zanitha dengan terus memegangi kepalanya sambil berusaha berjalan menuju keluar dari kamarnya....
..."Hikssss... hikssss... Sakit!!" Rintih Zanitha kembali....
..."Darah?" Gumam Zanitha pelan yang kini tengah panik karena hidung serta matanya mengeluarkan darah, Bahkan perlahan mulutnya pun mengeluarkan darah sedikit demi sedikit....
"Jadi... Ia berusaha mengingat tentangku. Jadi ini semua karena ku?" Gumam Alkenzo pelan sambil memberikan kembali hendphone genggam milik Tania.
"Maaf" Lirih Alkenzo pelan dengan lemas.
"Daddy" Panggil Alkenzo dengan langsung berhamburan mendekati Alvaro sang daddy.
"Hmmmm?" Dehem Alvaro sambil membalas tatapan wajah sang putra dengan alis yang mengangkat satu.
"Saat itu, kau mengatkan padaku bahwa Anitha kau bawa ke rumah sakit Kusuma hospital beberapa tahun yang lalu, dan ia ditangani oleh beberapa para dokter profesional, aku ingin bertanya kepadamu apakah para dokter tersebut dari rumah sakit Kusuma hospital atau kau memanggil dokter lain? Dari luar negeri" Tanya Alkenzo dengan menatap lekat wajah sang daddy.
"Bercampur, kau tenanglah! Daddy sudah memanggil kembali mereka kemari. Hanya tinggal menunggu kedatangan mereka semua saja" Balas Alvaro dengan tersenyum kecil.
"Terimakasih daddy" Lirih Alkenzo pelan.
"Kau tenanglah nak! Ia pasti akan baik-baik saja" Tutur Zayyann dengan menepuk pelan pundak Alkenzo.
"Uncle, aku hanya tidak ingin ditinggal pergi oleh nya lagi. Karena tadi sebelum kondisinya seperti ini, Aunty Lauren mengatakan sesuatu kepadaku" Ucap Alkenzo pelan.
"Apa yang aunty mu katakan?" Celetuk Queena dengan bertanya.
..."Benturan keras itu yang telah mengakibatkan otaknya menolak untuk mengingat kembali seluruh ingatannya" Terang Lauren....
..."Aku akan menyembuhkannya"...
..."Tekat mu terlalu kuat dan percaya, aunty harap kau tidak akan kecewa dengan hasilnya" Tutur Lauren lalu mulai pergi begitu saja....
..."Apaaa yang kau maksud aunty?!" Teriak Alkenzo....
..."Seberapa keras kau berusaha menyembuhkan nya, mau kau membawanya sekali pun keluar negeri! Atau keseluruh penjuru negeri yang ada. Maka yang aunty bisa katakan hanyalah "Jawabannya tetap sama" Bila kau memaksanya maka kau harus rela kehilangannya untuk kedua kalinya" Jawab Lauren lalu setelah itu kembali melanjutkan langkah kakinya menuju keluar ruangan, karena dirinya mungkin kini ingin kembali bekerja....
..."Karena itu adalah, suatu hal yang mustahil"...
"Itulah yang ia katakan padaku, ketika aku berada di ruangan Alzie" Cerita Alkenzo.
"Suamiku" Panggil Queena dengan lirih.
"Tenanglah Anitha pasti akan baik-baik saja, aku yakin itu. Karena ia adalah wanita yang kuat" Terang Alvaro dengan menenagkan sang istri.
...Tujuh jam berlalu........
Tujuh jam lamanya kini sudah berlalu, hari bahkan kini telah berganti menjadi malam. Tapi tetap saja mereka yang berada didalam ruang operasi masih belum keluar hingga saat ini. Batang hidungnya bahkan belum terlihat sedikit pun baik itu para suster ataupun para dokter.
Bahkan para dokter yang Alvaro panggil saat itu juga masih belum keluar dan menapakkan dirinya, karena kini operasi masih tengah berlanjut! Selama berjam-jam tersebut, kondisi Zanitha kadang meningkat kadang menurun maka sebab itu mereka yang berada didalam ruang operasi masih belum keluar satu orang pun.
"Did it increase this time? Hah... hahhhh..." Tanya Lauren dan Brianna secara bersamaan dengan nafas terengah-engah karen kecapean.
...(Apakah kali ini meningkat?)...
"His condition is starting to improve little by little this time, We'll see the results in a few minutes. If it is really stable then we will end this operation" Jawab salah satu dokter yang berada didalam ruang operasi.
...(Kondisinya mulai membaik sedikit demi sedikit kali ini, kita lihat saja hasilnya dalam beberapa menit. Jika benar-benar stabil maka kita akan mengakhiri operasi ini)...
"It's been seven hours, I hope this time it doesn't disappoint again like before" Celetuk salah satu dokter yang lainnya.
...(Sudah tujuh jam, saya berharap semoga kali ini tidak mengecewakan lagi seperti sebelumnya)...
"Doctor look, his condition is now completely stable and now we can finally end this operation" Ucap dokter yang lainnya dengan memberitahukan kepada yang lainnya tentang kondisi Zanitha saat ini.
...(Dokter lihatlah, kondisinya kini benar-benar telah stabil dan kini akhirnya kita semua bisa mengakhiri operasi ini)...
"Finally" Kata seluruh para dokter dan para suster disana dengan bernafas lega.
...(Akhirnya)...