
"Benar, kau memang benar mommy! Orang yang sudah pergi tidak akan bisa kembali. Apalagi kepergiannya itu untuk selama-lamanya" Balas Alkenzo dengan lirih.
"Mengapa kau menahan tangis mu Alzo? Keluarkan saja isi hatimu saat ini, mommy tau kau lelah dengan semua ini! Menangis-lah Alzo... Untuk kali ini dan untuk terkahir kali" Ujar Queena pelan.
"Bila aku tidak menahan tangis ku maka apa yang akan dikatakan nanti kepada adik-adikku? Bagaimana bisa aku yang sebagai kakak tertua menangis! Aku tidak ingin mereka menganggap ku lemah mommy" Jawab Alkenzo pelan.
"Nakk! Dengarkan mommy, menangis bukan berarti lemah, mereka hanya melampiaskan semua kekecewaannya! Karena mereka tidak bisa mengungkapkannya dengan kata jadi hanya air mata yang bisa menjelaskan semuanya" Kata Queena.
"Mommy! Bagaimana cara agar aku bisa melupakannya? Hikssss... Sedangkan senyum dan wajahnya selalu terbayang dalam benakku? Hikssss... hikssss... Aku lelah mommy, jika setiap saat harus terus seperti ini hikssss... Aku lelah mommy! Aku lelah" Isak Alkenzo kecil.
"Kau adalah tokohnya dan tuhan adalah sutradara-nya. Bagaimanapun cerita yang dibuat olehnya, kau hanya bisa menjalani meski tidak tau akhir ceritanya"
"Cobalah jalani semua ini dengan lapang dada, Biarkan bayang-bayang itu terus menghantui mu karena mommy yakin suatu saat nanti bayangan itu akan hilang dengan sendirinya!" Ucap Queena kembali.
"Mommy, tolong temani aku tidur untuk kali ini saja! Karena aku ingin kau menemaniku untuk saat ini" Pinta Alkenzo.
"Tidurlah! Mommy akan menemanimu disini" Lirih pelan Queena.
"Terimakasih, mommy" Jawab Alkenzo pelan dengan perlahan menutup kedua matanya.
Dengan sinar bulan yang menerangi wajahnya dan pintu balkon kamar yang tak ditutup! Kini akhirnya Alkenzo menutup kedua matanya dengan perlahan yang berniat untuk masuk kedalam alam mimpi. Dengan ditemani sang mommy dan dirinya yang tertidur dipangkuan serta usapan lembut yang diberikan sang mommy kepadanya, akhirnya membuat dirinya tenang hingga tertidur setelah membuat kekacauan didalam kamarnya sendiri.
Hembusan angin malam yang kini tengah dirasakan-nya mampu membuat dirinya benar-benar tertidur dengan lelap dalam wajah tenang dan damai. Tampa menunjukkan ekspresi wajah datar dan dingin seperti biasanya itu! Bila siapapun yang melihat wajah tenang dan damai Alkenzo kali ini mungkin saja orang itu akan langsung jatuh cinta ketika melihatnya sama hal nya dengan Queena saat ini.
"Wajah damai dan tentang'mu mampu memikat semua orang bila mereka melihatmu seperti ini! Wajah tampan mu ini duplikat dari daddy devil mu" Gumam Queena pelan dengan tersenyum manis.
"Mommy harap kau tidak akan pernah kembali merasakan semua ini nakk! Cukup sampai ini saja jangan yang lainnya... Karena mommy sangat sedih bila harus melihatmu terus menerus seperti ini, hati seorang ibu mana yang tidak sedih bila melihat putra kesayangannya menangis hingga seperti ini! Pasti semua ibu akan sedih bila melihat putranya seperti ini termasuk mommy"
"Mommy sangat berharap kedepannya akan ada seorang wanita yang bisa membuatmu melupakan Anitha! Mommy akan berdoa terus menerus hingga wanita itu datang ke dalam kehidupanmu nakk"
"Mommy akan terus berdoa untuk kebaikanmu dan kebaikan adik-adikmu, terutama untuk Brianna! Mommy harap ia bisa memaafkan Austin karena mommy yakin Austin akan bisa mendapatkan hati adikmu kembali"
"Hanya saja, mommy tidak tau apakah daddy-mu bisa memaafkan Austin atas semua yang telah ia lakukan terhadap Brianna putri kesayangan nya itu, huuuffff... Dunia ini sangat kejam tapi kau harus lebih kejam agar dunia ini bisa tunduk kepadamu dan patuh terhadap mu mommy yakin kau bisa menundukkan dunia ini sama seperti daddymu"
"Mommy mencintaimu"
...*****...
...Deggggg ...
"Ahh"
"Dadaku mengapa terasa sangat sakit? Uhhh, ada apa denganku?" Gumam seseorang dengan terus memegangi dadanya karena terasa sakit secara tiba-tiba.
"Zea, kau kenapa?" Tanya seseorang kepada Zea. Yaa, jadi orang yang tengah merasakan sakit di dadanya adalah Zea.
"Tidak tau mengapa, dadaku terasa sangat sakit! Mungkinkah aku terkena serangan jantung mendadak?" Jawab Zea dengan nada khawatir terhadap dirinya sendiri.
...Pletakkk...
Tania yang mendengar jawaban dari Zea yang mengatakan dirinya terkana serangan jantung mendadak pun seketika menyentil kening Zea. Hingga membuat Zea merintih kesakitan akibatnya, Karena ia berfikir bagaimana mungkin Zea yang bertubuh sehat seperti ini tiba-tiba saja terkena serangan jantung mendadak. Padahal Zea sama sekali tidak memiliki gen keluarga yang mempunyai penyakit riwayat jantung, memang benar setiap orang pasti bisa terkena serangan jantung secara mendadak tapi untuk Zea sepertinya tidak yakin.
Karena kondisi Zea saat ini sama sekali tidak menunjukkan gejala-gejala awal penyakit riwayat jantung, malahan justru Zea saat ini terlihat sangat sehat dan berisi setelah tinggal satu apartemen dengannya tidak seperti dulu kondisi tubuh Zea yang dulu. Yang suka sakit bila hanya kecapean sebentar saja hingga membuat tubuhnya menjadi lebih cepat kurus dan kering seperti sapu lidi. Tapi sekarang berbeda.
Setelah tinggal dan bekerja bersama dengannya Zea kini semakin lebih sehat dan berisi tubuhnya bahkan jika ia melakukan pekerjaan berat, Zea tidak lagi seperti dulu yang mudah sakit dan itu semua berkat Tania yang menjaga serta merawatnya dengan baik selama mereka tinggal bersama.
"Awsss"
"Nia, bisakah kau tidak menyentil keningku? Ini sangat sakit apa kau tau! Biarkan aku membalas mu" Kata Zea dengan raut wajah kesal menatap wajah Tania yang seperti hantu karena kini Tania sedang maskeran.
"Nanti saja setelah maskeran ku selesai" Balas Tania dengan santainya.
"Zea apa kau tau?"
"Apa? Aku tidak tau! Karena kau belum memberitahuku"
"Maka dari itu dengarkan aku terlebih dahulu bodoh! Bisakah kau menjadi orang pintar untuk hari ini?"
"Kau mengatakan aku bodoh?"
"Kau yang mengatakannya sendiri"
"Sudahlah, ceritakan apa yang kau katakan tadi sebelum aku pergi tidur! Lagi pula ini sudah waktunya untuk tidur"
"Kau tau"
"Tidak tau, aku bilang tidak tau"
"Maka dengarkan aku terlebih dahulu bodoh! Akan ku tendang kau hingga ke planet jupiter sampai kau tidak akan pernah bisa kembali"
"Ya-ya baiklah, katakan"
"Benarkah?"
"Hm-hm, katanya apartemen miliknya yang lama akan segera digusur! Jadi ia berniat akan pindah disebelah unit apartemen milikku ini" Jawab Tania kembali.
"Mengapa digusur?"
"Aku dengar-dengar karena apartemen itu akan segera digusur dan dibuat yang baru, yang jauh lebih besar dan elit" Balas Tania kembali.
"Owhh, tapi ada bagusnya bila mereka bedua bertetangga dengan kita. Lagi pula bukankah mereka sudah menjadi bagian keluarga kita?" Ujar Zea dengan tersenyum kecil.
"Yaa, kau benar hanya saja aku--"
"Hanya saja apa?"
"Hanya saja aku takut mereka berdua akan terkena serangan jantung bila bertetangga dengan kita nantinya"
"Mengapa begitu?"
"Karena tetangga mereka adalah kau! Orang bodoh sedunia yang seharusnya tidak terlihat di bumi ini"
"Bila tidak tinggal dibumi aku harau tinggal dimana dasar domba!" Kesal Zea.
"Di planet mars, tunggu... Kau mengatakan apa? Domba? Kau mengatai ku domba Zea?" Marah Tania dengan gemas terhadap Zea.
"Benar, lihat dan bercerminlah! Buka kah wajahmu seperti domba, berbulu"
"Ini bukan bulu Zea! Tapi ini efek masker wajah yang aku pakai. Masker berbusa bukan bulu, apa lagi bulu domba lagi pula siapa ingin memakai bulu domba di wajah. Apa kau tidak bisa membedakannya?" Kesal Tania kepada Zea yang pergi menuju tempat tidur begitu saja.
"Selamat malam, Niaa!"
"Malam"
"Tunggu, Zeaaa! Dasar orang bodoh..."
...*****...
...Kamar Alqueen...
"Jika kau tau bahwa dia masih hidup dan kau sudah bertemu dengannya, apa yang akan kau lakukan? Apakah kau akan mengejarnya kembali nakk" Gumam Alvaro dengan menatap layar laptop yang terdapat Queena dan Alkenzo tertidur didalamnya. Lebih tepatnya kini Alvaro tengah menatap rekaman cctv yang terdapat didalam kamar Alkenzo putranya itu.
...Flashback...
...Delapan tahun yang lalu......
Delapan tahun yang lalu tepat diumur tujuh belas tahun, Alkenzo tengah menjalin hubungan asmara dengan seorang wanita yang bernama Anitha. Hubungan antara keduanya sangatlah istimewa, Queena dan Alvaro bahkan sangat merestui hubungan keduanya! Alkenzie, Arianna, dan Brianna bahkan sangat-sangat menyukai Anitha. Sedangkan Alan ia masih belum ada hingga ia tidak tau tentang hubungan antara kakak tertuanya yaitu Alkenzo dan Anitha.
Hubungan antara Alkenzo dan Anitha tidaklah lama setelah kejadian yang menimpa keduanya.
Hingga membuat keduanya harus terpisah untuk selama-lamanya dan perpisahan tersebut membuat luka yang cukup parah untuk Alkenzo.
...Dretttt... Dretttt......
My baby 2(Bria): Kakak, bisakah kau menjemput ku? Ban mobilku bocor ditengah jalan. Sekarang aku sendiri aku takut kakak! Disini sangat sepi
"Mengapa malam-malam seperti ini Bria ada diluar?" Gumam Alkenzo pelan.
^^^Alkenzo: Dimana posisimu sekarang?^^^
...Dretttt... Dretttt......
My baby 2(Bria): Dijalan xx**Xx kau tau kan kakak?
^^^Alkenzo: Yaa, kakak tau dan kakak berada di dekatmu saat ini! Tunggu kakak dan jangan kemana-mana^^^
My baby 2(Bria): Yaa, baiklah kakak
"Bila bukan karena mommy memintaku untuk pergi mencari makanan ini, mungkin aku tidak akan berada disini malam-malam! Huuuffff" Ucap Alkenzo pelan dengan menghembuskan nafasnya berat.
Lalu, dengan cepat Alkenzo pun berjalan menuju kearah jalan yang dimana Brianna adiknya itu berada saat ini. Memang benar, Alkenzo keluar malam-malam seperti ini karena ulah Queena yang tiba-tiba saja menyuruhnya untuk keluar mencari makan dan itupun dilaksanakan oleh Alkenzo dengan berjalan kaki.
Entah mengapa ia ingin berjalan kaki dan tidak pergi dengan mobilnya, Queena sendiri bahkan tidak tau bahwa putranya itu tidak membawa mobil miliknya dan malah memilih untuk berjalan kaki mencari makanan yang ia inginkan itu.
Ketika penglihatannya menangkap sosok seorang yang ia sangat kenali, Alkenzo pun perlahan menyebrangi jalan tepat di zebra cross. Tapi Alkenzo sepertinya tidak sadar dan tidak melihat bahwa ada sebuah mobil yang tengah melaju dengan kecepatan yang sangat tinggi. Matanya justru lebih fokus kedepan tanpa melihat kearah kananya yang terdapat mobil tersebut.
"Kakakkkk, menyingkirlahh!!" Teriak Brianna yang kini sudah melihat Alkenzo tengah berjalan menyebrangi zebra cross untuk menghampirinya, dan dirinya yang juga melihat sebuah mobil tengah melaju dengan cepatnya tepat kearah Alkenzo.
Seakan ada yang menutupi telinganya, Alkenzo pun tidak bergeming dan tidak mendengar teriakkan dari adiknya Brianna. Begitu juga dengan teriakan seseorang yang menyuruh Alkenzo untuk menyingkir dari jalan tersebut tapi tetap saja, Alkenzo tidak mendengar seperti ada sesuatu yang menutupi telinganya dengan rapat.