My First Love Is My Wife

My First Love Is My Wife
S1: Kegelisahan Alvaro



...Cafe,K...


"Kenapa denganmu?" Tanya David pada Sesillia yang terus saja melamun entah sedang memikirkan apa hingga membuat David didiamkan olehnya.


"Sayang" Panggil David dengan melambaikan tangannya kedepan wajah Sesillia agar Sesillia tersadar dari lamunannya.


"Ahh, Yaa.. Sayang ada apa?" Tanya Sesillia dengan terkejut.


"Apa yang kau pikirkan? Sampai-sampai kau melupakanku" Tanya balik David dengan cemberut.


"Aku hanya memikirkan tentang kejadian tadi siang saja" Ujar Sesillia dengan menatap kosong kearah depannya.


"Kejadian apa?"


"Kejadian dimana ka Queena tidak sengaja melihat kakak ipar Alvaro sedang berpelukan dengan seorang wanita. Dan kau tau Sayang? Wanita yang sedang berpelukan dengan kakak ipar Alvaro siapa? Ia adalah Amanda Anastasya model papan atas yang terkenal itu" Jelas Sesillia.


"Amanda? Berpelukan dengan Alvaro? Dimana kau melihatnya" Tanya David dengan penasaran.


"Di taman disaat aku dan ka Queena sedang bermain disana"


"Apa kau yakin itu Alvaro?"


"Yaa, aku sangat yakin itu kakak ipar Alvaro! Bahkan Ka Queena juga melihatnya dengan jelas"


"Lalu? Bagaimana dengan kakak ipar Queena?"


"Hufff, sepertinya ka Queena tengah cemburu sekarang! Bahkan saat kami kembali ke mansion Alqueen. Ka Queena malah menyuruhku untuk pergi karena dia bilang dia ingin sendiri terlebih dahulu. Aku tidak tau apa yang terjadi selanjutnya" Jelas Sesillia dengan nada lesuh.


'Kenapa Alvaro bisa berpelukan dengan Amanda? Mungkinkah Alvaro sudah menyukai Amanda? Tapi... Bukankah Amanda dia--' Batin David.


"Sudah kau tenanglah, aku yakin kakak ipar Queena baik-baik saja. Aku akan berbicara dengan Alvaro nanti"


"Hmmmm, aku berharap begitu. Ya baiklah"


...*****...


...Dirgantara Company...



"Sampai disini kita akhiri" Ucap Alvaro dengan berdiri dari kursi kebesarannya dan mengakhiri metting tersebut.


"Baik, terimakasih tuan! Semoga kerja sama ini berjalan dengan baik dan lancar" Balas klien tersebut dengan berjabat tangan dengan Alvaro setelah itu iapun pergi.


"Hmmm"


Setelah memastikan klien miliknya telah pergi, Alvaro langsung saja mengeluarkan hendphone miliknya dan menekan nomor seseorang yang tak lain adalah Queena. Karena entah kenapa ia merindukan istrinya itu.


...Dreetttt... Dreetttt......


"Kenapa Queena tidak mengangkat telpon masuk dariku?" Tanyanya dengan nada kebingungan.


"Apa yang sedang ia lakukan sebenarnya?" Gumam Alvaro lalu berjalan keluar dari ruang metting menuju ruangannya, dan setelah sampai Alvaro'pun langsung saja mendekat kearah meja kebesarannya dan membuka laptop miliknya.


"Aku akan melihat kau sedang apa sayang, hingga kau tidak bisa menjawab telpon dariku" Ujar Alvaro lalu mengecek CCTV yang berada didalam kamar miliknya untuk melihat Queena.


Jangan ditanya kenapa Queena tidak pergi ke kantornya! Jawabannya adalah karena dia tengah malas dan hanya ingin mengerjakan pekerjaannya di mansion miliknya saja.


"Dimana Anna?" Tanya Alvaro dengan kebingungan karena dirinya tidak bisa melihat Queena dari kamera CCTV yang berada didalam kamar miliknya.


Sebenarnya Alvaro sudah memasang kamera CCTV di setiap sudut mansion Alqueen maupun kamar miliknya sejak lama. Saat ketika dirinya baru datang kesana. Dan Queena juga tidak tau bahwa Alvaro suaminya memasang CCTV di setiap penjuru sudut mansion Alqueen.


"Kenapa... Kenapa Anna menangis? Ada apa sebenarnya dengan dirinya?" Terkejut Alvaro yang melihat Queena tengah duduk dibawah ranjang miliknya dengan menangis sambil memeluk kedua lututnya.


"Ada apa denganmu sebenarnya?" Kata Alvaro lalu kembali menghubungi nomor telepon Queena.


...Dreetttt... Dreetttt......


"Angkat sayang" Gumam Alvaro sambil melihat Queena dilayar Laptop miliknya.


"Kenapa kau tidak ingin mengangkatnya? Kenapa kau malah melihatnya saja? Sebenarnya kau kenapa?" Kata Alvaro dengan nada sangat khawatir karena melihat Queena menangis dan tidak mau mengangkat telpon darinya dan malah hanya menatapnya saja setelah itu membuang hendphonenya ke sembarang tempat.


"Tidak bisa begini" Tegas Alvaro lalu pergi keluar karena ingin pulang ke mansion untuk menemui Queena.


...Mansion Alqueen...



...Kamar Alqueen...



"Hikssss... hikssss..."


"Alvaro?" Lirih Queena dengan menatap layar hendphonenya yang tertera nama 'Suami mesumku'.


"Aku tidak ingin menjawab telpon darimu, hikssss..." Isak Queena dengan menaruh hendphone miliknya disamping dirinya.


...Dreetttt... Dreetttt......


...Brakkk...


Queena tidak menjawab kembali telpon yang masuk dari Alvaro, ia justru malah melempar hendphonenya ke sembarang arah hingga membuat hendphonenya hancur karena dirinya. Hingga sampai tidak berbentuk karena Queena melemparnya dengan sangat keras.


"Aku... hikssss"


...Tokkkkk tokkkkk tokkkkk...


"Hikssss... Siapa?" Tanya Queena dengan melangkahkan kakinya menuju pintu.


"Ini bibi nyonya" Jawab orang tersebut yang tak lain adalah Bi Lin.


...Ceklekkkk...


"Ada apa bibi?" Tanya Queena dengan menghapus air matanya.


"Nyonya, Ada apa? mengapa nyonya menangis?" Tanya Bi Lin dengan nada Khawatir bagaimanapun juga ia sudah menganggap bahwa Queena adalah putrinya.


"Tidak apa bibi! Aku hanya sedang menonton sebuah serial drama sedih saja. Hmmm, ada apa?" Elak Queena yang langsung mengalihkan topik pembicaraan.


"Ohh, bibi kira nyonya Queena kenapa-kenapa. Ohh ya bibi kesini cuma mau mengantarkan ini saja" Ucap Bi Lin dengan memberikan sesuatu yang berada ditangannya.


"Buket Bunga? Dari siapa?" Tanya Queena.


"Bibi juga tidak tau, Tapi bibi tadi sudah bertanya siapa yang mengirimnya dan orang yang mengantar bunga ini bilang nama orang yang ngasih berada didalamnya" Ujar Bi Lin dengan Menggelengkan kepalanya karena tidak tau siapa yang mengirim bunga tersebut.


"Hmmm, makasih bibi"


"Sama-sama nyonya, kalau begitu bibi pergi ke dapur lagi ya" Tutur Bi Lin lalu bersiap untuk turun kebawah tapi tertahan oleh Panggilan Queena.


"Bibi"


"Iya nyonya?"


"Bibi, sudah berapa kali aku bilang jangan memanggilku dengan sebutan nyonya panggil saja namaku. Bukankah kau bilang bahwa aku ini putrimu?" Kata Queena dengan tersenyum sendu.


"Tapi bibi tidak bisa me--"


"Baiklah, bagaimana jika bibi memanggilku dengan sebutan nyonya hanya didepan Alvaro? Tapi jika hanya aku dan dirimu kau bisa memangil namaku saja" Tutur Queena.


"Bib, tidak bisa memanggilmu dengan sebutan nama saja bagaimana pun juga kau adalah majikan bibi, bagaimana jika Bibi memanggilmu nona saja" Tolak halus Bi Lin.


"Hmmmm, baiklah terserah bibi saja! Asalkan tidak memanggilku nyonya saja aku akan menerimanya" Kata Queena dengan tersenyum manis.


"Baiklah, nona kalau begitu bibi turun kebawah dulu?"


"Silahkan, bi" Balas Queena lalu masuk kembali kedalam kamar miliknya.


...Ceklekkkk...


"Bunga dari siapa ini?" Tanya Queena dengan menatap bunga cantik tersebut.


Visual Bunga:



"Ternyata bener ada suratnya! Apa isinya ya?" Kata Queena lalu membuka Kertas surat yang berada dibunga tersebut.


...🌹For beautiful women🥀...


...Hi Baby!!......


...How are you? you must be fine right? hahah, Baby don't you miss me? You never even call me again! You're so mean. but I like it! Baby do you know I'm currently in Los Angeles State and I've met your place of residence, I'm just waiting for the right time to come visit there!, If I come you must welcome me well okay!! I Love You Baby....


...From:...


...Andres Anderson...


...For My Woman:...


...Queena Angelina Kusuma...


"Pria gila ini" Gumam Queena dengan memijat pelipisnya yang terasa pusing setelah membaca isi surat tersebut.