My First Love Is My Wife

My First Love Is My Wife
S2: Kepanikan Queena



"Kemari" Titah Queena dengan nada sedikit dingin terhadap Sesillia.


"Kakak"


"Bukankah aku pernah mengatakan padamu untuk tidak seperti ini? Sesillia! apa kau sadar? Cintamu terhadap putramu ini sangatlah berlebihan. Shaka seorang laki-laki Sesillia dia bukan seorang perempuan, jangan terlalu memanjakan Shaka!" Tutur Queena lirih sambil menatap wajah Sesillia.


"Kakak, aku hanya ingin--"


"Kakak tau, kau hanya tidak ingin kehilangan Shaka sebagai mana kau pernah kehilangan Shilla bukan? Tapi caramu ini salah Sesillia! Shaka adalah Shaka dan Shilla adalah Shilla. Kau memanjakan Shaka sebagai mana kau pernah memanjakan Shilla, tapi apa kau tau? Apa perubahan sifat Shaka yang dulu dengan yang sekarang? Kau tau Sesillia? Hmmmm" Tanya Queena kepada Sesillia yang kini tengah menundukkan kepalanya kebawah.


Queena pun perlahan berjalan mendekati Shaka, lalu setelah berada didekat Shaka! Queena langsung saja menarik pergelangan tangan Shaka dan membawanya kehadapan Sesillia saat ini. Melihat putranya ditarik oleh sang kakak, Sesillia pun buru-buru mengangkat wajahnya dan pergi menatap wajah Queena dengan dalam bergantian dengan Shaka.


"Lihat Sesillia... Perhatikan baik-baik putramu ini, lihat telinganya. Terpasang sebuah anting yang tidak pantas dilihat oleh orang-orang! Lihat tangannya ini. Penuh dengan sebuah tato yang jelek, dan lihat sifatnya... Ia menjadi pembangkang dan tidak nurut dengan perintah papah.nya lagi yaitu David suamimu"


"Dan kau tau apa penyebab semua perubahan Shaka ini? Hmmmm. Kau tau Sesillia... Ini semua karena cinta berlebihan yang kau berikan untuk putramu ini. Kakak yakin, di dalam hati Shaka sebenarnya ada sedikit rasa tidak ingin seperti ini. Shaka seorang pria Sesillia! Jangan pernah terlalu memanjakannya" Lirih Queena pelan.


"Hikssss"


"Hikssss... hikssss... Aku hanya ingin memberikan seluruh cintaku kepada anakku saja kakak hikssss..." Isak Sesillia dengan memandang lirih wajah Queena.


"Cintamu dan kasih sayangmu berlebihan, Sesillia" Kata Queena.


"Hikssss... hikssss... Shaka! Katakan pada mamah yang sejujurnya. Apa kau merasa risih dengan cinta dan kasih sayang mamah yang terlalu berlebihan ini? Hmmm tolong katakan pada mamah dengan jujur hikssss..." Tanya Sesillia dengan menatap lirih wajah Shaka yang tengah terdiam sambil memandang balik wajah Sesillia dalam.


"Maaf mah, tapi yang dikatakan aunty benar! Kau terlalu berlebihan terhadapku hanya karena kau tidak ingin kehilanganku bukan? Seperti kau pernah kehilangan Shilla adikku. Adik perempuanku itu bukan? Mah! Andai kau tau perubahan sikapku ini memang karena mu, maafkan aku? Karena telah mengecewakanmu" Jawab Shaka pelan dan tak berani menatap wajah sang mamah yaitu Sesillia.


"Lihat wajah mamah, tatap mata mamah!" Pinta Sesillia dengan memegang pelan wajah tampan miliknya itu.


Karena mendengar permintaan sang mamah, Shaka pun langsung saja menatap wajah Sesillia dalam. Dengan pandangan lirih dan mata berkaca-kaca.


"Maafkan aku yang telah mengecewakanmu mah" Ungkap Shaka dengan kembali menundukkan wajahnya.


"Hikssss"


"Hahahaha hikssss... hikssss... Apakah ini diriku? Bagaimana mungkin aku bisa seperti ini? Hikssss... Apa ini benar-benar diriku?! Hikssss..." Tangis Sesillia dengan perlahan melepaskan tangannya dari wajah sang putra.


...Bruuukkkk...


"Hikssss... Maafkan mamah! Mamah tidak tau bahwa kau sebenarnya tidak menyukai sifat mamah yang sekarang hikssss... Ini semua karena mamah sangat-sangat merindukan Shilla. Wajahmu dan adikmu sama persis! Hikssss... Jadi mamah berfikir bahwa Shilla juga berada di dalam tubuhmu hikssss... hikssss... Tapi mamah sudah salah dan malah"


"Malah menyakiti hatimu perlahan dengan cinta dan kasih sayang yang berlebihan ini hikssss... hikssss... Maafkan mamah! Maafkan mamah" Isak Sesillia dengan terduduk lemas tak berdaya dilantai.


"Mamah"


"Bangunlah!" Ujar David dengan berjongkok dan mengulurkan tangannya untuk membantu Sesillia, Istri tercintanya itu.


"Maafkan aku" Lirih Sesillia.


"Bangunlah, jangan seperti ini! Atau nanti Shilla akan sedih melihat ini semua diatas sana" Tutur David dengan membantu Sesillia berdiri.


...Grepppp...


"Kakak mohon, jangan seperti ini! Atau aku akan merasa sedih melihatmu terus seperti ini. Jadilah Sesillia ku yang dulu" Pinta Queena dengan berhamburan memeluk tubuh Sesillia dan itupun dibalas oleh Sesillia dengan erat sangat erat bahkan sangat-sangat erat.


"Aku pasti akan kembali seperti yang kau inginkan kakak! Aku akan perlahan melepaskan Shilla kecilku. Aku akan membiarkannya tenang disana bersama dengan mamah dan papah" Ucap Sesillia pelan.


"Ini baru Sesillia yang kakak kenal" Kata Queena dengan tersenyum manis dan kembali dibalas oleh Sesillia dengan senyuman manis juga.


...*****...


Shilla Arsyila Putri Pradipta, adalah anak kedua dari pasangan Sesillia dan David yang kini sudah tiada. Shilla adalah adik kandung Shaka yang hanya berselisih dua tahun saja, Shilla adalah putri kecil kesayangan keluarga Pradipta dan Williams.


Hanya saja Shilla sudah tidak ada did4unia ini, dikarenakan mempunyai penyakit bawaan dari kecil yang membuatnya tidak kuat untuk bertahan kembali, hanya sampai berumur lima belas tahun saat itu dirinya sudah lebih dulu dipanggil olah sang kuasa. Tangis histeris menyelimuti keluarga Pradipta dan Williams saat itu, sama halnya dengan yang lain!


Karena masih tidak bisa mengikhlaskan kepergian putri tercintanya saat itu. Sifat Sesillia'pun perlahan berubah menjadi orang lain, seperti yang tadi dikatakan oleh David dan Queena! Dan untuk kedua orang tuanya... Tentu saja mereka juga sudah pergi lebih dulu menyusul Maura , Zian dan Kiana sebelum Shilla saat itu. Tepat dihari peringatan kematian ketiganya mereka berdua yaitu Silsila dan Gani mengalami kecelakaan maut yang beruntun dimana itu adalah negara kelahiran mereka sendiri saat itu. Dan tragedi itupun kembali menyelimuti rasa sedih semua orang khususnya Sesillia.


...*****...


"Mommy" Panggil seseorang kepada Queena, dan suara tersebut berasal dari orang yang tengah berdiri dianak tangga terkahir.


Semua orang yang mendengar panggilan Alkenzo kepada Queena seketika langsung saja menatap kearahnya dan saat itu juga Alkenzo menjadi pusat perhatian semua orang. Lalu... Queena yang melihat putranya turun kebawah dengan wajah yang sangat pucat pun langsung saja buru-buru menghampiri sang putra.


Yaa, jadi yang memanggil Queena dan menjadi pusat perhatian seluruh keluarga adalah Alkenzo yang turun dengan piyama tidurnya disertai wajah yang sangat pucat.


"Alzo, mengapa kau bangun nak?" Tanya Queena dengan nada khawatir dan cemas menatap wajah Alkenzo.


"Jangan tinggalkan aku, tolong peluk aku! Aku merasa sangat dingin" Pinta Alkenzo lirih dengan memeluk erat tubuh Queena secara tiba-tiba.


"Al"


"Alzo, mengapa suhu tubuhmu sangat panas? Mengapa... Mengapa kau tiba-tiba menjadi demam tinggi?" Panik Queena dengan terus saja mengecek suhu tubuh Alkenzo.


"Alzo, Apa kau dengar suara daddy?" Tanya Alvaro dengan panik karena melihat putranya menutup mata dengan posisi memeluk tubuh Queena istrinya itu, Dan disertai hidung yang mengeluarkan begitu banyak darah.


"Suamiku! Darah" Panik Queena kembali dengan mata berkaca-kaca.


"Alzie bantu daddy membawa kakakmu ke ruang medis! Cepat, kakakmu sakit" Titah Alvaro dengan panik lalu merangkul tubuh Alkenzo dengan dibantu David lebih dulu dari pada Alkenzie.


"Suhu tubuhnya benar-benar sangat panas! Aku tidak kuat berlama-lama seperti ini. Al! Percepat langkah kakimu" Kata David dengan nada panik juga dan nada takut melihat keponakannya seperti ini.


Tanpa banyak basa-basi dan bicara, Brianna langsung saja berlari lebih dulu menuju ruang medis dan mengambil peralatan medisnya untuk memeriksa kondisi keadaan sang kakak saat ini.


"Suamiku cepatlah hikssss... Hidungnya tidak berhenti mengeluarkan darah! hikssss... Aku takut" Isak Queena.


"Mommy, jangan takut! Kakak pasti akan baik-baik saja. Dan Bria pasti akan membantu kakak untuk sembuh" Ujar Arianna dengan meyakinkan Queena untuk tidak merasa takut.


"Kakak, Alzo ku sangat kuat! Ia pasti tidak akan kenapa-kenapa" Kata Sesillia dengan ikut meyakinkan Queena untuk tidak merasa khawatir.


...Callon...


LaurenπŸ“ž: Hmmm, ada apa Zie? Tengah malam begini mengapa kau menelpon aunty?


^^^Alkenzie: Aunty datanglah segera ke mansion!! Bantu Bria untuk menangani kakak^^^


Lauren πŸ“ž: Kakakmu Alz--, tunggu apa maksudmu Alzie? Ada apa dengan Alzo kakakmu?


^^^Alkenzie: Datanglah cepat kemari aunty, Kau nanti akan tau sendiri! Aku mohon cepatlah^^^


Lauren πŸ“ž: Aunty akan langsung kesana! Tunggu aunty


Lauren πŸ“ž: (Ada apa dengan Alzo kecilku?) Gumam Lauren pelan disebrang sana yang lupa mematikan sambungan telponnya.


Tut.


Alkenzie lah yang akhirnya mengakhiri sambungan telponnya. Karena yang pertama menghubungi Lauren aunty nya itu adalah dirinya jadi yang mengakhirinya juga adalah dirinya.


...Ruang Medis...


"Hikssss... Alzo" Panggil Queena lirih yang kini masih merasa takut dengan apa yang telah terjadi secara mendadak terhadap Alkenzo.


"Mommy, tolong jangan lepaskan pelukan aku! Aku sangat dingin mommy. Tolong peluk aku" Pinta Alkenzo yang mengigau mencari keberadaan Queena.


"Mommy disini Alzo! Jangan seperi ini nak. Mommy sangat takut hikssss..." Kata Queena dengan berlari kecil menuju ranjang medis Alkenzo lalu kembali memeluknya dengan erat.


"Mommy, tolong jangan lepaskan pelukan aku! Aku sangat dingin mommy. Tolong peluk aku" Kata Alkenzo kembali yang mengigau.


"Mommy disini sayang, mommy sudah disini bersamamu! Jangan takut... Hikssss... hikssss..." Tangis Queena kecil.


"Bria, cepatlah periksa kondisi kakakmu" Titah Alvaro dengan menghampiri Queena yang tengah berbaring memeluk tubuh Alkenzo dengan erat.


"Mengapa urat nadi kakak tidak terlihat?" Gumam Brianna yang kini tengah mencari urat nadi yang berada ditangan Alkenzo sang kakak karena dirinya ingin memasangkan cairan infus.


...Beberapa menit kemudian......


...Ceklekkkk...


Suara pintu ruang medis yang terbuka dengan cara yang tidak sabar pun kini menjadi pusat perhatian semua orang. Lauren? Yaa, Itu adalah dia.


"Lauren hikssss... Lauren cepat bantu Bria untuk menangani Alzo" Tangis Queena dengan meminta kepada Lauren adiknya itu.


"Bria, berikan pada aunty" Pinta Lauren kepada Brianna yang tengah berusaha mencari urat nadi tangan Alkenzo.


"Ketemu aunty, Ini! Cepatlah aunty" Kata Brianna yang kini sudah melihat urat nadi milik Alkenzo ditangannya. Dan dengan cepat Lauren pun langsung saja memasangkan jarum infus tersebut kepada Alkenzo.


"Maaf untuk semua, bisakah kalian keluar terlebih dahulu?" Pinta Lauren kembali kepada semua orang saat ini.


"Keluar" Titah Alvaro kepada semuanya tidak termasuk Queena karena Alkenzo sendiri meminta Queena untuk tidak melepaskan pelukannya.


Setelah semua orang keluar dari ruang medis, Lauren dan Brianna pun langsung saja fokus memeriksa kondisi keadaan Alkenzo yang tiba-tiba saja ngedrop. Dengan suhu tubuh yang sangat-sangat tinggi dan hidung yang tak henti-hentinya mengeluarkan begitu banyak darah.


"Suhu tubuh Alzo sangat panas melebihi orang-orang, jika tubuhnya suhu tubuhnya tidak mau menurun! Maka darah yang ada di hidungnya tidak akan pernah berhenti keluar" Kata Lauren serius.


"Jika kakak kita berikan obat penurun panas atau suntikan penurun panas, aku takut kakak Alzo malah justru akan bertambah parah! Karena selama ini kakak Alzo alergi tehadap obat-obatan" Tutur Brianna dengan nada serius pula.


"Hikssss... hikssss... Lalu bagaimana cara untuk menurunkan panasnya? Hikssss... Alzo akan sangat tersiksa bila seperi ini terus. Cepatlah Bria, Lauren! Cepatlah pikirkan caranya untuk menyembuhkan Alzo" Tangis histeris Queena dengan meminta kepada Brianna dan Lauren.


"Kita tidak bisa berbuat apa-apa kakak. Hanya Alzo sendiri yang bisa menurunkan suhu tubuhnya. Bila ia menginginkannya" Tutur Lauren yang diangguki oleh Brianna.


"Pasti ada cara lain selain menunggu Alzo membuka matanya! Dan suhunya diturunkan olehnya"